Satu lagi riak dari wilayah Jawa Timur setelah Intenna, band bernama Cotswolds. Dihuni empat arek Suroboyo, dengan suguhan empat lagu demo siap diunduh.
Salah satu rekan berinisial NI menyapa dan memberikan link bandcamp dari Cotswolds. Band yang didirikan pada tahun 2012 ini, pada laman bandcamp mereka menjelaskan pengaruh musik mereka berangkat dari era 70-an dan 90-an. Personilnya sendiri terdiri dari Windrata Faizal (vokal, gitar), Farras Fauzi (drum), Dwiki Putra (gitar), dan Wing Wisesa (bas).
Keempat lagu mereka menarik. Tipikal band-band obscured era akhir 80-an, semacam Deardarkhead dan sejenisnya. Namun beatnya khas post punk. European Ocean, bisa jadi contoh, dikemas dengan vokal yang semerbak wangi reverb. Lagu Fire lebih kerasa banget, begitu juga Plasticity. Keseluruhan, EP yang baik dan patut dinikmati dari skena Surabaya, lebih variatif dan tak melulu harus modulasi. Fuzz dan reverb.
Segera download di Cotswolds EP
Senin, 04 Maret 2013
Senin, 11 Februari 2013
Negative Lovers - .38 Loves Me (Single)
Setelah begitu lama, band yang dahulu dikenal dengan nama Denial, Negative Lovers meluncurkan sebuah singel terbaru. A brand new sound full of ecstasy, spacey, and druggy..
Dahulu orang-orang mengenal band ini dengan nama Denial. Dan ketika band yang dihuni Toni Setiadji (gitar, vokal), Benedict Pardede (gitar), Yoga Indrista (drum), dan Respati Nugroho (basis) tampil di acara empat tahun lalu, Tribute to 90s Shoegaze dengan membawakan lagu-lagu Jesus and Mary Chain, nama Negative Lovers yang dipakai.
Kepikiran kalau nama Negative Lovers ini hanyalah sebuah nama lain dari Denial yang tak akan diseriusi. Well, salah, baru-baru ini Toni cs. merilis sebuah lagu berjudul .38 Loves Me, sebuah lagu yang keren banget. Di lagu ini, Negative Lovers tampak lebih gelap dan intens. DNA dari karakter sound yang telah dirintis oleh band-band noise lawas semacam Spacemen 3, JMC, dan Spectrum, kentara sekali. Full of sonic sound and spacey.
Dan saya pikir, akhirnya ada juga band seperti ini di skena lokal. Semoga saja mereka bisa merilis sebuah EP atau album di tahun ini. Bersegeralah untuk mengunduh lagu .38 Loves Me via link dibawah ini!
Negative Lovers - .38 Loves Me
Dahulu orang-orang mengenal band ini dengan nama Denial. Dan ketika band yang dihuni Toni Setiadji (gitar, vokal), Benedict Pardede (gitar), Yoga Indrista (drum), dan Respati Nugroho (basis) tampil di acara empat tahun lalu, Tribute to 90s Shoegaze dengan membawakan lagu-lagu Jesus and Mary Chain, nama Negative Lovers yang dipakai.
Kepikiran kalau nama Negative Lovers ini hanyalah sebuah nama lain dari Denial yang tak akan diseriusi. Well, salah, baru-baru ini Toni cs. merilis sebuah lagu berjudul .38 Loves Me, sebuah lagu yang keren banget. Di lagu ini, Negative Lovers tampak lebih gelap dan intens. DNA dari karakter sound yang telah dirintis oleh band-band noise lawas semacam Spacemen 3, JMC, dan Spectrum, kentara sekali. Full of sonic sound and spacey.
Dan saya pikir, akhirnya ada juga band seperti ini di skena lokal. Semoga saja mereka bisa merilis sebuah EP atau album di tahun ini. Bersegeralah untuk mengunduh lagu .38 Loves Me via link dibawah ini!
Negative Lovers - .38 Loves Me
My Bloody Valentine, Live Japan 2013. A Confession of Their Beautiful Noise..
Fathan Goenandar, gitaris band shoegaze bandung Avenue, begitu beruntungnya bisa menyaksikan secara langsung, My Bloody Valentine beraksi di atas panggung. Pengalaman luar biasa yang memekakkan kedua telinganya di negeri sushi ini. Damn..envy so bad :))
"You made me realise that you were great !!"
Itulah kata-kata yang bisa saya katakan setelah menonton My
Bloody Valentine. Mimpi saya mendengarkan live dua puluh menit 'noise session' dari lagu You Made Me Realize, akhirnya menjadi kenyataan. Harsh noise yang dahsyat dan saya
pun memutuskan tidak mengenakan ear plug saat itu. Walaupun saya harus merelakan
kuping saya sakit sampai hari ini. Ok, saya tidak akan membahas bagaimana noise
session nya, saya akan coba bercerita pengelaman menarik saya menonton My
Bloody Valentine Japan Tour 2013 Sunday February 10th 2013 Extra
Stage Tokyo. ---- Fathan (Avenue)
Berburu Tiket
Sekitar bulan Agustus 2012, teman saya yang huge-fans of My Bloody Valentine, memberi
tahu tentang kabar MBV akan tour ke Jepang. Wow! Saya sangat beruntung secara saya tinggal di Tokyo dan pastinya band shoegaze lawas ini bakal mampir di ibukota Jepang untuk rangkaian turnya. Saya pun tidak tahu pre-sale ticket ternyata sudah
dijual berbulan-bulan sebelumnya. Saya pikir sebulan sebelumnya pun tiket
mungkin masih tersedia, tetapi dugaan saya salah besar.
Pada bulan Oktober, kami berdua berencana untuk menonton MBV dengan membeli 2 tiket
pada hari yang yang sama. Tetapi tiket yang dijual pada hari jumat
dan sabtu sold out, (walaupun pre-sale) what the hell!! maji ka yo!! Kecewa banget karena terlambat membeli pre-sale tiket. Saya sendiri tidak menyangka band
indie model MBV bisa menyedot antuasiasme orang jepang seperti ini. Kalau Lady Gaga
atau Bruno Mars tentu masuk akal
Seminggu
kemudian, Smash (promotornya) menambah satu extra stage untuk hari minggu. Lucky! Tiket akan dijual hanya di salah satu toko
di mall Parco, Shibuya. Berencana akan membelinya hari itu setelah pulang
kantor. Datang tepat 10 menit sebelum toko itu ditutup, dan ternyata
sudah sold out selang sejam boks tiket dibuka. Oh shit, band macam
apa MBV ini? Ok sekarang saya beranggapan MBV setara dengan ketenaran
Lady Gaga Lol! Atau terlalu banyak calo yang memborongnya.
Whatever, I must watch this phenomenal band! Dengan
terpaksa saya mencari calo tiket. Sesuai perkiraan tiket banyak dijual di yahoo
auction Jepang. Dengan harga yang beragam. Harga asli semua jenis tiket adalah
8.000 yen (sekitar 800 ribu dengan kurs
Rp 100), tetapi harga yang dijual di yahoo berkisar 10.000 untuk all standing
ticket sampai untuk reserved-seat ticket
25.000 yen!! Akhirnya, saya
membeli tiket untuk dua orang seharga 13.500 yen. Itu
pun hanya tersedia untuk hari minggu yaitu extra stage concert.
Nevermind, finally i got it!! Sayangnya teman saya membatalkan untuk menonton MBV yang
sudah direncanakan jauh-jauh hari dengan alasan memilih konser di Australia.
Dan 1 tiket pun menganggur. Dengan terpaksa saya menjual lagi di internet,
mulai dari craiglist, facebook dan yahoo auction. Ehm, merasa rugi karena
mendapat kan
tiket harga hampir 2X lipat saya pun memutuskan menjual nya kembali dengan
harga yang lebih mahal. Sesuai perkiraan, bulan desember saya berhasil menjual
nya dengan harga 15.000 yen (sekitar Rp 1.500.000), he he he..
Awal bulan Februari kebetulan juga ada kabar tentang rilis album baru MBV. Wow, after 22 years, finally they will release new stuff!!
ha ha ha, insane. And… i download it (illegaly) :p. Cukup kaget, saya berpikir kepuasan mendengar materi di album berjudul 'M B V' ini hanya bisa dirasakan pada saat menonton live. Sound pada album itu
akan hidup dengan sound system yang dahsyat. Saya sangat berharap mereka membawakan lagu di album barunya, terutama lagu dengan “on the plane sounds”, Wonder 2. Dan saya merasa perlu membeli cdnya sebagai bukti
fisik fans MBV. Lol
The Day has Come!
Tidak terasa
tanggal sudah 10 februari dengan cuaca di Tokyo
berkisar 1 – 9 derajat celcius. Saya pun memeriksa tiket saya, tidak lupa
membawa glove dan scarf. Gate dibuka jam 5 sore, perjalanan dari rumah ke Shinkiba, tempat lokasi event, sekitar 1 jam via kereta.
Saya berencana pergi jam 4 sore, tetapi satu dan lain hal saya telat 30 menit
(standar orang Indonesia
lol).
Sampai di stasiun Shinkiba sekitar pukul 5.30. Saya pun bergegas jalan ke Studio Coast (sekitar 10 menit ). Seperti biasa selalu ada wanita-wanita
jepang yang nangkring berharap mendapat kan tiket gratis dengan membawa kertas
dengan ber tulisan マイブラチケットゆずって下さい artinya, 'minta
tiket Maibura (sebutan untuk My Bloody Valentine)'.
Sayang saya tidak sempat
mengambil fotonya karena buru-buru. Sekitar 50 meter dari venue terdapat
calo-calo yang bersedia membeli kelebihan tiket. Lalu tibalah di depan gate bersama segerombolan orang yang sudah menanti sambil merokok dan minum bir. Saya
pun dengan santai merokok dan mengambil beberapa foto. Sepuluh menit sebelum acara
berlangsung saya menyempatkan diri membeli kaos MBV yang di jual dengan
berbagai macam design.
![]() |
Berbagai macam design kaos dan sweater MBV. Damn nge-blur.
|
![]() |
| Lalu dengan kocek 3.500 yen, saya memilih kaos dengan design simpel bertuliskan MBV. |
Berbekal tiket, saya beranjak ke antrian
pintu masuk venue yang memuat kapasitas 2400 orang saja. Informasi tambahan, konser MBV di Tokyo dihelatkan sebanyak tiga hari berturut-turut loh. Hemmm... di area acara ternyata saya kudu membayar 500 yen ditukar dengan drink
ticket beer yang sudah disiapkan panitia. Okelah, memilih untuk tidak menukarkan dengan
beer, saya langsung berlari mencari tempat bagus untuk menonton mereka. Kali
ini saya memang tidak berniat menonton paling depan, saya memilih untuk bisa
mendengarkan sound yang baik dengan bisa melihat jelas semua personil, yaitu di
tangga belakang. Yups untung saja masih ada tangga yang tersedia di barisan
belakang. Dan tentunya semua orang berdiri.
Pukul 18.10, mereka pun memasuki stage dan seluruh penonton yang
sudah menanti lama bertepuk tangan. Menonton konser di Jepang, jangan
harap akan ricuh dan seru dengan teriakan histeris penonton. Kecuali kalo
menonton di festival seperti Fuji Rock atau Summer Sonic. Belinda Butcher yang memakai setelan baju hitam hitam
langsung menjadi pusat perhatian penonton. Masih terlihat “segar” dan “sexy”
seperti di vidioklip Soon, ha ha ha .
Tanpa basa basi, lagu “I only Said” dimainkan. Sound gitar dengan sekitar 8 ampli dan 7 head untuk Kevin Shield; 3 ampli dengan 2 head untuk Belinda; dan 2 ampli dan 2 head untuk Debbie Googe (basis), betul-betul memecahkan keheningan suasana. Lagu berikutnya, When
You Sleep. Setelah lagu ini barulah penonton mulai berani meneriakan
nama-nama mereka, dan semua serentak meneriakan “Belinda”, dan Belinda pun
menjawab “hello" --- ...aduhay :p - editor
Next song from new album. "New You" dimana sound gitar Kevin Shields sangat luar biasa, layers gitarnya bertekstur sangat indah. Lebih keren daripada di albumnya! "You Never Should" menjadi lagu kempat yang dibawakan. Lagu kelima, salah satu track fave
saya dari tremolo EP “Honey Power”. Lagi-lagi, penonton mulai histeris meneriakan nama Belinda berkali-kali, dijawab
dengan senyum Belinda oh damn so sweet ha ha.
Oh ya, di setiap pergantian lagu, Kevin dan Belinda selalu mengganti gitar mereka. Kevin Shield dengan Jazzmaster, dan Belinda kadang-kadang
dengan bergantian antara Jazzmaster dan Jaguar. Gitar Belinda selalu berwarna glitter, tentu saja menambah pesonanya sebagai gitaris yang “pemalu”. Gitar akustik pun dimainkan oleh Kevin
untuk lagu "Cigarette in Your Bed". Gitar Jazzmaster kembali di tangan Kevin Shields untuk lagu "Come in Alone". Pada jeda lagu terakhirnya Kevin menyempatkan tuk berucap, “hello, this is our last gig in Tokyo ”, dan pukulan ripple snare Colm membuka sebuah lagu klasik berjudul "Only Shallow".
Aihh.. Belinda pun berkata “thank you,
thank you for coming” Yeahhhhhhh.. Senang sekali mendengarnya. Kevin sempat kebingungan karena suara gitarnya tidak keluar, dan hanya noise atau mungkin loop
nya yang terdengar. Bisa dibayangkan line rig effect-nya pasti rumit sekali ha ha ha. Setelah
bertanya kepada kru dan soundnya kembali normal, lagu "Thorn" ditampilkan apik. Selang lima detik, "Nothing Much to Lose". Lagu ini
menjadi penampilan favorit saya, dimana Debbie Googe sangat atraktif dan
energik. Sound bass-nya sangat terasa menggelegar! Meski bagi saya di lagu ini, sound yang dihasilkan kurang maksimal, but, they were still amazing.
Berikutnya, alunan feedback
guitar Kevin mengalir dan membuka sebuah lagu gundah paling dinanti, "To Here Knows When". Kombinasi sempurna antara sound gitar, loops,
dan suara desahan merdu Belinda. Dan setelahnya dari EP you made me realise “Slow”. Di lagu ini gitar Kevin lebih
terdengar warm daripada di albumnya. Sepertinya inilah lagu yang paling ditunggu oleh
para pembeli tiket. Setelah terdengar loops drum dari “Soon”, para penonton langsung bersorak dan tepuk tangan. Semua orang menggoyangkan
badan dan seolah ingin berdansa.
Seperti biasa setelah berganti gitar dan feedback pun terdengar, this is the most harsh song that I should dance, kami dihajar dengan lagu “Feed Me With Your Kiss”. Tapi jangan
harap bisa joged ala punk rock konser di Jepang, kita hanya bisa
menggerakan badan sekedarnya. Bagi mereka, konser mahal untuk didengarkan dan
dinikmati. Masalahnya, bagi saya pogo dancing merupakan cara untuk menikmati konser ha ha ha. Yeah
this is japan. Shouganai. Saya pun hanya menggoyangkan badan dan kepala.
Kelar lagu diatas, sang penabuh drum Colm Coisog langsung memberikan aba-aba untuk sebuah lagu sinting berjudul "You Made Me Realise". Dan pas segmen noise session, sangat dahsyat. Harsh
noise yang menurut saya cukup berstruktur, 5 menit pertama disuguhi dengan
low-mid bass noise yang terasa seperti ditancapkan pelan-pelan ke kepala kita. Terasa sekali sound system
mulai naik ke frequensi middle, fuzz dan octave terasa jelas dan terasa segala isi dari dalam otak saya seperti diblender ha ha ha. Seolah mendengarkan merzbow live menggunakan guitar. Tekstur soundnya memang monoton,
tetapi sound yang dihasilkannya sangat “blended”. Setelah 10 menit pitch mulai
terasa dan memekakan telinga, cymbal yang terus dipukul oleh colm sampai tidak
terdengar. Gain pun sepertinya dinaikan beberapa desibel. Yang menarik olah tata lampu dan
visualisasi yang terus berubah semakin menambah
atmosfir keriuhan noise di lagu ini.
Puncaknya, tsunami gelombang noise terdengar begitu jelas dan sangat
kencang sekali. Terkadang frekuensi tinggi begitu terdengar dan memekakan telinga,
sampai tidak sadar saya terus menggoyangkan badan mendengarkan noise session
ini. Kerennya, tanpa aba-aba, langsung kembali masuk ke badan lagu. Lagu ini pun menjadi penutup konser.
Di akhir konser, Kevin melambaikan tangan dan dari gerakan mulutnya berkata “thank you”. Tidak ada encore dan selesai. Thats it... Damn!! Sepertinya saya ingin terus berada disana dan masih ingin terus mendengarkan 10 lagu lagi sampai puas. Tapi dengan ini saya harus merasa 'cukup puas'.
Di akhir konser, Kevin melambaikan tangan dan dari gerakan mulutnya berkata “thank you”. Tidak ada encore dan selesai. Thats it... Damn!! Sepertinya saya ingin terus berada disana dan masih ingin terus mendengarkan 10 lagu lagi sampai puas. Tapi dengan ini saya harus merasa 'cukup puas'.
"See you again Kevin, Belinda, Debbie, Colm. We wish you come
to Indonesia"
Itulah kalimat yang sangat ingin saya sampaikan ke mereka.
Apabila mereka konser di tanah air, saya akan pogo dancing dengan bebas. Ha ha ha ---- sepakat, than! :)). Setelah selesai rasa haus pun tak terelakkan, saya beranjak pergi menuju antrian
penukaran drink ticket dengan sekaleng Heineken Beer.
Selagi mengantri saya teringat
pamflet MBV Japan Tour tertempel di beberapa dinding. Saya ingin mencabutnya dan membawa pulang. Kebanyakan penonton sekadar mengambil foto dari pamflet itu.
Hemmm, sayangnya, sedikit
demi sedikit telah dicabut. Damn, karena saya masih mengantri beer, hanya bisa
melihat pamflet yang terus menerus di cabut oleh para fans MBV. Dan begitu
pula salah satu tempat pamflet yang di tempel di luar gedung. Saya telat
beberapa detik dengan para Oneesan (Japanese women) yang sedang menggulung pamphlet
tersebut.
Yah sudahlah memang bukan rezekinya. Yang membuat saya kagum, para
penonton MBV bukan hanya kalangan anak muda, tetapi orang tua yang menurut saya
berumur 40 tahunan, bahkan ibu-ibu. Mungkin mereka memang penggemar setia MBV
dari jaman 90-an. Dan juga para wanita-wanita yang sering saya lihat datang bergerombol.
Persentasi wanita dan laki-kali mungkin 50:50. Sangat wajar apabila tiket
langsung sold out dalam waktu beberapa jam.
Well, terima kasih untuk Fauzi Rahman dengan semua informasi
tentang MBV di Jepang. Peter yang memberikan saya kesempatan untuk mengisi di blog
ini. Thanks Pete, kangen gue manggung lagi bareng band Avenue yang sudah menjadi
bagian hidup dalam bershoegaze ria ---- ha ha ha buruan balik, ntar kita bikin acara lagi :))
My Bloody Valentine Japan Tour 2013
Extra Stage February 10th @ Studio
Coast Shinkiba, Tokyo
Set List
Note: rekaman Audio bakal di upload dalam waktu dekat. Maaf
direkam dengan iphone didalam saku celana, jadi kualitasnya sangat jelek.
Fathan Goenandar
Selasa, 05 Februari 2013
Minggu, 27 Januari 2013
Album Terbaru My Bloody Valentine?! Tiga Hari Lagi!!
Okey, entah dia hanya bergurau atau betul-betul serius menjawabnya. Sebuah pertanyaan yang bisa dibilang telah menjadi sebuah enigma atau mungkin mitos dari sebuah band yang juga penuh misteri, sebuah album terbaru My Blood Valentine. Dua dekade lamanya, MBV menghilang setelah merilis album Loveless, sebuah album yang bisa disebut sempat menjadi anomali dari tekstur musik alternatif di era 90-an.
Di sela-sela pentas pemanasan di Electric Brixton, Kevin Shields menjawab pertanyaan dari penonton tentang kapan album terbaru MBV akan keluar. Dan dia menjawab, 'maybe in two or three days'.
So, kengkawan semuanya, apapun itu, bersiaplah dengan sebuah album terbaru MBV. Penantian selama 21 tahun lamanya akan terbayar, dan apapun dan keren atau tidaknya album itu, i dont give a fuckin care, its MBV, dude!!
#klik pranala youtube diatas!
-----------------------------
#klik pranala youtube dibawah ini untuk mendengar sebuah materi terbaru MBV, bertitel sementara 'Rough Song'!!!
Senin, 31 Desember 2012
Gazing on Indonesia's Shoegaze Albums in 2012
Ditengah isu kiamat oleh bangsa Maya, skena shoegazing Indonesia masih bertahan dengan kewarasannya untuk meracik kebisingan yang apik didengar. Semakin atraktif dan colorful. Oh, Viva 2012!
Satu tahun enam bulan usia blog ini, dan sepanjang tahun 2012 seperti agak sedikit kalem oleh keriuhan rilisan fisik shoegazing dibandingkan tahun 2011. Beberapa band yang diharapkan bisa merilis materinya pada tahun 2012 seperti Whistler Post, Damascus, ataupun Ansaphone, sepertinya masih berkutat di dapur rekaman mereka masing-masing.
Beberapa band-band baru yang bisa terlacak dan dishare materinya, meski jumlahnya tak sebanyak dua tahun lalu. Beberapa acara musik masih minim, meski mungkin memang dasar frekuensi dan radar kami saja yang rada lemot.
Meski begitu, blog ini masih bisa meriset rilisan-rilisan fisik shoegaze lokal. Kriteria utama tentu haruslah shoegaze dan dreampop. Ada beberapa rilisan yang memadukan dengan sentuhan postrock, ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Dan itu hal yang sulit. Tapi tentu ini adalah pandangan subjektif kami semata.
Dan di tahun 2012, kami mengagumi dua band yang berhasil merilis album yang begitu keren dan tak kalah dengan band luar. Eksplorasi musiknya lebih atraktif dan segar. Materi-materinya tentu saja pekat dan shoegazing dan dreamy, serta layak untuk dibeli.
Dan inilah mereka, sodara-sodara...
Satu tahun enam bulan usia blog ini, dan sepanjang tahun 2012 seperti agak sedikit kalem oleh keriuhan rilisan fisik shoegazing dibandingkan tahun 2011. Beberapa band yang diharapkan bisa merilis materinya pada tahun 2012 seperti Whistler Post, Damascus, ataupun Ansaphone, sepertinya masih berkutat di dapur rekaman mereka masing-masing.
Beberapa band-band baru yang bisa terlacak dan dishare materinya, meski jumlahnya tak sebanyak dua tahun lalu. Beberapa acara musik masih minim, meski mungkin memang dasar frekuensi dan radar kami saja yang rada lemot.
Meski begitu, blog ini masih bisa meriset rilisan-rilisan fisik shoegaze lokal. Kriteria utama tentu haruslah shoegaze dan dreampop. Ada beberapa rilisan yang memadukan dengan sentuhan postrock, ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Dan itu hal yang sulit. Tapi tentu ini adalah pandangan subjektif kami semata.
Dan di tahun 2012, kami mengagumi dua band yang berhasil merilis album yang begitu keren dan tak kalah dengan band luar. Eksplorasi musiknya lebih atraktif dan segar. Materi-materinya tentu saja pekat dan shoegazing dan dreamy, serta layak untuk dibeli.
Dan inilah mereka, sodara-sodara...
![]() |
| "Album ini siap memuaskan para pecandu hamparan nada-nada meruang, yang telah dirintis oleh TheMilo. Tetapi MVM punya cara mereka sendiri, dan album ini menyenangkan untuk dinikmati siapapun." |
---------------------------------
cd dari kedua band ini bisa dibeli dengan mengontak laman facebook mereka, semoga tak kehabisan..
Sekilas rilisan album shoegaze lokal di 2011:
Minggu, 23 Desember 2012
Soundclouding The Ajie Gergaji
Sudut langit Kota Kembang kini memiliki nada dan suara. Menggantung di atap langit, beralamat di https://soundcloud.com/ajiegergaji, dan mengundang siapapun untuk berkolaborasi. Dan bisa diunduh!
Betapa ajaibnya abad ini, musik bisa menghantui setiap sudut kaki langit berkat internet. Vokalis Themilo tampak menikmati sekali dunia maya sebagai wahana alternatif untuk idealismenya yang mungkin tak bisa seluruhnya tertampung di bandnya. Membanjir, Ajie memilih bermain nada dan suara di portal musik soundcloud.com.
Konten musiknya pun tampak selalu terupdate dengan lagu-lagu baru. Beberapa trek kolaboratif dan solo masih tetap pekat bernuansa, dreamy dan ambience, kekhasan Ajie di band Themilo. Namun dari semuanya ada dua trek yang bikin saya tergelitik untuk mendengarkannya, 'Ambilkan Bulan Bu' dan 'Linger'-nya The Cranberries.
Well, berikut ini, wawancara santai dengan si empunya laman beralamat di https://soundcloud.com/ajiegergaji, mulai dari soal kegemarannya berkolaborasi, spek rekaman rumahan a la Ajie Gergaji, kiat jitu Ajie meramaikan laman soundcloud-nya, 'trauma' lelah bikin album, sampai soal-soal lainnya yang mungkin bermanfaat bagi kita semua.
1. Why soundcloud?
karena soundcloud bagi gw adalah media teknologi paling berguna, mudah dan asyik utk nyimpen portfolio sekalian sharing denger sm orang banyak. udah gitu bisa dikomen dan diunduh.
2. proses rekaman dari lagu2 tersebut seperti apa?
proses rekaman sangat2 sederhana. gw buat karya lagu di studio yg lokasinya di rumah. sadsonic labs. digital studio. tinggal ada ide, colok sana, colok sini, controller disana, monitor disini. beres. hehehe.
3. Seluruh instrumen dimainkan Ajie sendiri yah? Spek alat rekam rumah ajie apa aj?
Semua instrumen diisi oleh gw sendiri (saat ini), knp gw pake tanda kurung krn karya selanjutnya melibatkan dua orang musisi. tunggu aja tanggal mainnya. spek alat rekam?? digital studio sangat2 mutakhir dengan teknologi terkini!. gw manfaatin apa yg gw punya aja. laptop macbook white dgn software garage band, reason dan adobe soundbooth, controller dari line6 lalu monitor altec lansing selebihnya pake hybrid instrument: hati, telinga dan jiwa saya sepenuhnya.
4. Tell us about your influences buat lagu2 solo di laman soundcloud? ada perbedaan dg musik Themilo?
untuk karya2 kolaborasi mungkin berbeda, karena didalam soundcloud gw ada yg gw diajak utk mengisi part gitar, vokal dll. secara utuh adalah karya mereka, jelas berbeda dengan themilo. tetapi secara teknis gw bermain ga ada perbedaan dgn themilo, karena karakter yg telah tercipta mungkin ya. hahaha. ada beberapa temen yg berkomentar lgs via chat bhw lagu yg gw buat sendiri (bkn karya kolaborasi) beberapa msh terdengar spt themilo. gimana dong? hahaha.
5. banyak kolaborasi yah? khusus Yustie, siapakah dia?
gw org yg sangat suka sekali sm kerjasama. sengaja dibuat seperti itu karena gw ingin menghadirkan sesuatu yg beda dari gw bersama themilo. Yustie seorang teman. dia adik kelas gw saat kuliah jaman dulu kala, dia jg seorang vokalis dari band yg telah bubar dan dia adalah seorang guru vokal dadakan. saat jumpa, gw bercakap2 gmn kabar band-nya trus skr ngapain, bla bla bla dan yg gw sayangkan..dia udah lama ga tampil jg bernyanyi. dari situ lah gw tarik dia supaya kembali bernyanyi. skr yusti suka dibawa2 sama themilo jadi additional vocalist.
6. cover version lagu ambilkan bulan, why? hasilnya sih asyik juga hehe; dan Linger, damn!
hahaha ambilkan bulan ya. hmm..gw terinspirasi dari anak gw yg suka nyanyi ambilkan bulan. lagu pengiringnya ceria sekali. gw pikir kenapa ga dibuat psychedelic aja biar semua org di segala usia bisa dengerin lagu yg sangat2 legendaris dan penuh khayalan ini.
khusus linger, sengaja gw meng-cover lagu yg disukai semua org dengan versi gw agar page soundcloud gw dikunjungi banyak org. jadi sedikit berbau mengundang agar bisa dengerin karya2 gw yg lainnya. hehehe.
7. bagi yg mau kolaborasi hubungi anda harus kontak dimana?
bisa kontak gw: ajiegergaji@themiloband.com
8. ada rencana bikin album solo?
untuk album solo..ternyata gw ga tertarik ngerjain album mulai saat ini. ngerjain album itu berat bgt bagi gw, apalagi dengan pengalaman yg gw alami saat pengerjaan album photograph-nya themilo. gw lebih suka semuanya mengalir begitu aja, karya2 gw yg lahir adalah sesuai dengan mood gw pada saat itu bisa terealisasi. silakan aja org2 untuk membundel karya2 gw yg di share secara gratisan ini.
9. cmon lennon, white shoes, dan nanti rumahsakit, rilis vinyl. Bagaimana dg themilo?
vinyl themilo? bole juga tuh.
-----------------------------------------------------------
| Ajie Gergaji berbaju kuning |
Konten musiknya pun tampak selalu terupdate dengan lagu-lagu baru. Beberapa trek kolaboratif dan solo masih tetap pekat bernuansa, dreamy dan ambience, kekhasan Ajie di band Themilo. Namun dari semuanya ada dua trek yang bikin saya tergelitik untuk mendengarkannya, 'Ambilkan Bulan Bu' dan 'Linger'-nya The Cranberries.
![]() |
| Souncloud-nya |
Well, berikut ini, wawancara santai dengan si empunya laman beralamat di https://soundcloud.com/ajiegergaji, mulai dari soal kegemarannya berkolaborasi, spek rekaman rumahan a la Ajie Gergaji, kiat jitu Ajie meramaikan laman soundcloud-nya, 'trauma' lelah bikin album, sampai soal-soal lainnya yang mungkin bermanfaat bagi kita semua.
1. Why soundcloud?
karena soundcloud bagi gw adalah media teknologi paling berguna, mudah dan asyik utk nyimpen portfolio sekalian sharing denger sm orang banyak. udah gitu bisa dikomen dan diunduh.
2. proses rekaman dari lagu2 tersebut seperti apa?
proses rekaman sangat2 sederhana. gw buat karya lagu di studio yg lokasinya di rumah. sadsonic labs. digital studio. tinggal ada ide, colok sana, colok sini, controller disana, monitor disini. beres. hehehe.
3. Seluruh instrumen dimainkan Ajie sendiri yah? Spek alat rekam rumah ajie apa aj?
Semua instrumen diisi oleh gw sendiri (saat ini), knp gw pake tanda kurung krn karya selanjutnya melibatkan dua orang musisi. tunggu aja tanggal mainnya. spek alat rekam?? digital studio sangat2 mutakhir dengan teknologi terkini!. gw manfaatin apa yg gw punya aja. laptop macbook white dgn software garage band, reason dan adobe soundbooth, controller dari line6 lalu monitor altec lansing selebihnya pake hybrid instrument: hati, telinga dan jiwa saya sepenuhnya.
4. Tell us about your influences buat lagu2 solo di laman soundcloud? ada perbedaan dg musik Themilo?
untuk karya2 kolaborasi mungkin berbeda, karena didalam soundcloud gw ada yg gw diajak utk mengisi part gitar, vokal dll. secara utuh adalah karya mereka, jelas berbeda dengan themilo. tetapi secara teknis gw bermain ga ada perbedaan dgn themilo, karena karakter yg telah tercipta mungkin ya. hahaha. ada beberapa temen yg berkomentar lgs via chat bhw lagu yg gw buat sendiri (bkn karya kolaborasi) beberapa msh terdengar spt themilo. gimana dong? hahaha.
5. banyak kolaborasi yah? khusus Yustie, siapakah dia?
gw org yg sangat suka sekali sm kerjasama. sengaja dibuat seperti itu karena gw ingin menghadirkan sesuatu yg beda dari gw bersama themilo. Yustie seorang teman. dia adik kelas gw saat kuliah jaman dulu kala, dia jg seorang vokalis dari band yg telah bubar dan dia adalah seorang guru vokal dadakan. saat jumpa, gw bercakap2 gmn kabar band-nya trus skr ngapain, bla bla bla dan yg gw sayangkan..dia udah lama ga tampil jg bernyanyi. dari situ lah gw tarik dia supaya kembali bernyanyi. skr yusti suka dibawa2 sama themilo jadi additional vocalist.
6. cover version lagu ambilkan bulan, why? hasilnya sih asyik juga hehe; dan Linger, damn!
hahaha ambilkan bulan ya. hmm..gw terinspirasi dari anak gw yg suka nyanyi ambilkan bulan. lagu pengiringnya ceria sekali. gw pikir kenapa ga dibuat psychedelic aja biar semua org di segala usia bisa dengerin lagu yg sangat2 legendaris dan penuh khayalan ini.
khusus linger, sengaja gw meng-cover lagu yg disukai semua org dengan versi gw agar page soundcloud gw dikunjungi banyak org. jadi sedikit berbau mengundang agar bisa dengerin karya2 gw yg lainnya. hehehe.
7. bagi yg mau kolaborasi hubungi anda harus kontak dimana?
bisa kontak gw: ajiegergaji@themiloband.com
8. ada rencana bikin album solo?
untuk album solo..ternyata gw ga tertarik ngerjain album mulai saat ini. ngerjain album itu berat bgt bagi gw, apalagi dengan pengalaman yg gw alami saat pengerjaan album photograph-nya themilo. gw lebih suka semuanya mengalir begitu aja, karya2 gw yg lahir adalah sesuai dengan mood gw pada saat itu bisa terealisasi. silakan aja org2 untuk membundel karya2 gw yg di share secara gratisan ini.
9. cmon lennon, white shoes, dan nanti rumahsakit, rilis vinyl. Bagaimana dg themilo?
vinyl themilo? bole juga tuh.
-----------------------------------------------------------
Kamis, 29 November 2012
Just For A Day, Lost in the 90's. For Real!
Kira-kira lebih dari sebulan lalu, ruang basement Cafe Mondo dan toko kelontong aneka macam vinyl, High Fidelity berubah menjadi tempat nostalgia langgam lawas di era 90-an. From Britpop till Sarahesque, and yeah, Shoegaze.
Entah kenapa jika bicara tentang era 90-an, saya selalu bersemangat, khususnya di lanskap musik alternatifnya. Ketika itu band-band alternatif tampak begitu kerennya, seakan representasi dari the coolness of generation x, generasi era segituan, istilahnya. Gara-gara Nirvana, setiap insan remaja dan muda menikmati asupan musik dari tanah Inggris dan Amrik yang memesona, tapi juga adiktif dan 'berbahaya'. Semacam era revolusi musik kedua setelah Beatles, yang tak hanya merubah selera musik mainstream, tetapi juga gaya hidup.
Sensasi masa lalu itu seakan tak pernah putus meski sudah dua dekade. Ketika Coldplay dan The Strokes memukau dunia, diikuti barisan band-band NME dan Pitchfork bermunculan, saya malah seperti tak merasakan greget yang membuat saya menggilai band-band di era 90-an. Yah, itu memang lebih dari sudut pandang saya sendiri. Bagi saya, era 90an tampak lebih keren dan orisinil.
Nah, hal itu saya rasakan sendiri ketika membuat sebuah acara Tribute to 90's Shoegaze, 3 tahun silam. Bejibun orang datang, dan setiap muka mewakili usia dari generasinya masing-masing. Dan hal ini kejadian lagi ketika dua owner High Fidelity mengorganisir sebuah acara bernama Just For A Day, dengan menampilkan enam selektor yang memutar plat hitam favorit mereka, mulai dari era Sarah, Britpop, sampai Shoegaze. Para selektor berinisial, peterlovefuzz, fzbz, kumyka, youthee, deebank, dan bckwrds, menampilkan koleksi shoegazing yang apik, mulai dari Slowdive, Catherine Wheel, Curve, Swervedriver, Chapterhouse, hingga MBV.
Saya ingin berbagi sebuah link blog yang menampilkan pepotoan dari acara tersebut, berikut tulisan dari sang pemilik blog yang juga memotret momen-momen di acara, yang berakhir hingga jam 2 pagi. Sekitar enam jam perjalanan lintas masa lalu yang penuh kesan dan pesan. Pesan bahwa era 90-an tak akan pernah tergantikan oleh kekinian, karena memang begitu adanya, dan spesial.
So, silahkan masuki ruang blog yang beralamat di http://oxaliseveryday.wordpress.com/2012/11/09/just-for-a-day/
Entah kenapa jika bicara tentang era 90-an, saya selalu bersemangat, khususnya di lanskap musik alternatifnya. Ketika itu band-band alternatif tampak begitu kerennya, seakan representasi dari the coolness of generation x, generasi era segituan, istilahnya. Gara-gara Nirvana, setiap insan remaja dan muda menikmati asupan musik dari tanah Inggris dan Amrik yang memesona, tapi juga adiktif dan 'berbahaya'. Semacam era revolusi musik kedua setelah Beatles, yang tak hanya merubah selera musik mainstream, tetapi juga gaya hidup.
Sensasi masa lalu itu seakan tak pernah putus meski sudah dua dekade. Ketika Coldplay dan The Strokes memukau dunia, diikuti barisan band-band NME dan Pitchfork bermunculan, saya malah seperti tak merasakan greget yang membuat saya menggilai band-band di era 90-an. Yah, itu memang lebih dari sudut pandang saya sendiri. Bagi saya, era 90an tampak lebih keren dan orisinil.
Nah, hal itu saya rasakan sendiri ketika membuat sebuah acara Tribute to 90's Shoegaze, 3 tahun silam. Bejibun orang datang, dan setiap muka mewakili usia dari generasinya masing-masing. Dan hal ini kejadian lagi ketika dua owner High Fidelity mengorganisir sebuah acara bernama Just For A Day, dengan menampilkan enam selektor yang memutar plat hitam favorit mereka, mulai dari era Sarah, Britpop, sampai Shoegaze. Para selektor berinisial, peterlovefuzz, fzbz, kumyka, youthee, deebank, dan bckwrds, menampilkan koleksi shoegazing yang apik, mulai dari Slowdive, Catherine Wheel, Curve, Swervedriver, Chapterhouse, hingga MBV.
Saya ingin berbagi sebuah link blog yang menampilkan pepotoan dari acara tersebut, berikut tulisan dari sang pemilik blog yang juga memotret momen-momen di acara, yang berakhir hingga jam 2 pagi. Sekitar enam jam perjalanan lintas masa lalu yang penuh kesan dan pesan. Pesan bahwa era 90-an tak akan pernah tergantikan oleh kekinian, karena memang begitu adanya, dan spesial.
So, silahkan masuki ruang blog yang beralamat di http://oxaliseveryday.wordpress.com/2012/11/09/just-for-a-day/
![]() |
| Pictured by Oxalis |
Sabtu, 17 November 2012
Yellow Loveless, Salutasi Negeri Sakura
Skena musik alternatif Jepang akan merilis sebuah album penghormatan terhadap My Bloody Valentine, bertajuk Yellow Loveless. Eforia menjelang konser Tokyo Rocks dan album terbaru MBV?
Jujur saya betul-betul telat untuk memposting beberapa topik di blog ini dikarenakan aktifitas pekerjaan di divisi promosi tempat saya bekerja yang almost killing my times to write about everything, dull or fascinating. Padahal begitu banyak hal menarik terjadi selama tiga bulan terakhir ini, sebut saja DJ Set Just For a Day di record store Hi Fidelity yang menampilkan beberapa selektor memutar plat hitam koleksi mereka yang berhawa noisepop, dreampop, dan shoegazing, lalu soal rencana album terbaru MBV yang diakui sendiri oleh Kevin Shields, hal yang 'keren bangaattt' kalau kata teman Jepang saya, co-owner dari Hi Fidelity.
Sampai akhirnya sebuah berita dari situs Gigsplay, membuat saya harus segera menuliskan sesuatu di blog ini, yaitu rencana album tribute dari skena musik Jepang untuk MBV, judulnya Yellow Loveless. Pihak label High Fader Records akan menampilkan band-band keren seperti Boris, Shonen Knife, hingga Lemon's Chair untuk membawakan lagu-lagu di album Loveless. Saya suka banget karena roster bandnya lintas genre, bayangin, Shonen Knife, dude!
Entah apa latar belakang kemunculan album tribut ini, meski saya menduga, kehadiran MBV yang akan menjadi kedua kalinya dalam kurun waktu 4 tahun (kayaknya hehe) di Jepang, kayaknya membuat para fans MBV di sana menjadi begitu bahagia dan bersemangat untuk menghaturkan apresiasi terindah berupa album tribut.
Duh, andai mereka bisa di Indonesia, dan saya berpikir kita di Indonesia, bisa melakukan hal yang sama, sebuah kompilasi album tribute MBV dari Indonesia? Hemm :P saya harus segera membuat meeting terselubung dengan beberapa rekan kompatriot label indie dan per-band-an di skena lokal kita ini...what do you think?
-------------------------------
Setlist yang beredar di internet:
Yellow Loveless track list:
1. "Only Shallow" – 東京酒吐座 (Tokyo Shoegazer)
2. "Loomer" – GOATBED
3. "Touched" – The Sodom Project
4. "To Here Knows When" – Lemon’s Chair
5. "When You Sleep" – 少年ナイフ (Shonen Knife)
6. "I Only Said" – 東京酒吐座 (Tokyo Shoegazer)
7. "Come in Alone" – AGE of PUNK
8. "Sometimes" – Boris
9. "Blown a Wish" – SHINOBU NARITA (4-D Mode1)
10. "What You Want" – Lemon’s Chair
11. "Soon" – SADESPER RECORD
| kovernya kuning |
Jujur saya betul-betul telat untuk memposting beberapa topik di blog ini dikarenakan aktifitas pekerjaan di divisi promosi tempat saya bekerja yang almost killing my times to write about everything, dull or fascinating. Padahal begitu banyak hal menarik terjadi selama tiga bulan terakhir ini, sebut saja DJ Set Just For a Day di record store Hi Fidelity yang menampilkan beberapa selektor memutar plat hitam koleksi mereka yang berhawa noisepop, dreampop, dan shoegazing, lalu soal rencana album terbaru MBV yang diakui sendiri oleh Kevin Shields, hal yang 'keren bangaattt' kalau kata teman Jepang saya, co-owner dari Hi Fidelity.
Sampai akhirnya sebuah berita dari situs Gigsplay, membuat saya harus segera menuliskan sesuatu di blog ini, yaitu rencana album tribute dari skena musik Jepang untuk MBV, judulnya Yellow Loveless. Pihak label High Fader Records akan menampilkan band-band keren seperti Boris, Shonen Knife, hingga Lemon's Chair untuk membawakan lagu-lagu di album Loveless. Saya suka banget karena roster bandnya lintas genre, bayangin, Shonen Knife, dude!
| Shone Knife bakal menguningkan Loveless |
Duh, andai mereka bisa di Indonesia, dan saya berpikir kita di Indonesia, bisa melakukan hal yang sama, sebuah kompilasi album tribute MBV dari Indonesia? Hemm :P saya harus segera membuat meeting terselubung dengan beberapa rekan kompatriot label indie dan per-band-an di skena lokal kita ini...what do you think?
-------------------------------
Setlist yang beredar di internet:
Yellow Loveless track list:
1. "Only Shallow" – 東京酒吐座 (Tokyo Shoegazer)
2. "Loomer" – GOATBED
3. "Touched" – The Sodom Project
4. "To Here Knows When" – Lemon’s Chair
5. "When You Sleep" – 少年ナイフ (Shonen Knife)
6. "I Only Said" – 東京酒吐座 (Tokyo Shoegazer)
7. "Come in Alone" – AGE of PUNK
8. "Sometimes" – Boris
9. "Blown a Wish" – SHINOBU NARITA (4-D Mode1)
10. "What You Want" – Lemon’s Chair
11. "Soon" – SADESPER RECORD
Jumat, 21 September 2012
A.R. Kane: Ketika Duo Afro Merintis Shoegaze Tanpa Niat
Gara-gara bualan memiliki sebuah band, Rudy Tambala mendapati dirinya terseret pada sebuah perjalanan musikalitas yang begitu unik di era 1980-an.
Teman saya, eks slacker negeri kiwi yang bernama Zounds72, menge-tag saya pada sebuah artikel dari Guardian, berjudul A.R. Kane: How to Invent Shoegaze Without Trying. Judul yang bikin saya tergelak sendiri karena begitu lucunya, tentang kisah band A.R. Kane, saya rasa (dan berharap) banyak yang sudah kenal dengan band lawas satu ini dari Inggris, salah satu band generasi pertama yang meretas musik shoegaze. Dan artikel ini sungguh menarik dan historikal, bagaimana dua anak muda Afro di Inggris yang 'terjebak' untuk bermain musik dan menjadi inspirasi bagi banyak band shoegaze dan alternatif di kemudian hari. So, saya ingin sekali menyarikan isi artikel tersebut untuk kita semua :)
Kisah band ini dimulai dari celetukan ngasal, Rudy Tambala kepada temannya di sebuah pesta. Ia bilang kalau punya sebuah band, padahal tidak ada sama sekali. Bahkan Rudy berpikir bahwa band ini sebenarnya tidak akan pernah ada. Sampai akhirnya, dirinya dan teman sejak SD, Alex Ayuli menemukan sebuah band bernama Cocteau Twins di televisi rumahnya lewat program musik Channel 4, dan segalanya kelak akan berubah. Dua anak afro berambut dreadlock ini terbius..
Pastinya mereka terpukau oleh musik Cocteau Twins, yang tanpa drummer, memaksimalkan tapes dan teknologi sounds saat itu, serta sosok Liz Frazer yang seperti mahkluk dari dunia lain, bersuara malaikat dan bermata besar. Dan suara gitar Robin Guthrie membungkus 'keanehan' tersebut dengan begitu indah dan megah. "That was the Fuck! We could do that," kenang Rudy ketika itu.
Beberapa hari setelah menonton Cocteau Twins, Rudy dan Ayulli bertemu dengan seorang teman perempuan Ayuli di sebuah pesta. Bualan itu pun keluar ketika si teman menanyakan apa kegiatan mereka, dan dijawab Rudy, "Kami ngeband loh". Nama A.R. Kane pun tercetus pada saat itu juga dengan menukil film Citizen Kane dan the Mark of Twain. Ditanya lagi, musiknya seperti apa, Rudy celetuk dengan menjawab nama-nama seperti The Velvet Underground, Cocteau Twins, Miles Davis, dan sedikit Joni Mitchell.
Rudy mengaku sepertinya dirinya saat itu memang sedang lagi mabuk. Tetapi seminggu kemudian mereka ditelepon oleh pihak label One Little Indian. Bualan itu berujung permintaan sebuah demo dan ajakan masuk roster label. Tentu saja, ketika itu tak ada band apalagi satu lagu, bahkan anggotanya sekalipun!
Berbekal ide kasar, Rudy dan Ayuli merekam lagu dengan dua tape kaset, lalu mereka merekam tiap track secara bergantian...serba lo-fi nan irit, dan sebuah materi demo tercipta! Derek Birkett, pendiri One Little Indian dan eks punker di band anarki punk, Flux of Pink Indians, ternyata kesengsem dengan demo mereka, dan pengen ngelihat live dari band yang sesungguhnya belum ada, baru lagu-lagu saja.
Ruddy dan Ayuli pun panik! Mereka segera merekrut adik Rudy, Maggie sebagai beking vokal, seorang teman di drum, dan satu teman di bass yang hanya bisa memainkan satu not saja. Di hari ditentukan band serba dadakan ini mengundang sang bos label dan teman-temannya yang begitu menyeramkan karena punker anarki semua. Hanya modal nekat dan latihan selama dua minggu, band bernama A.R. Kane ini diterima masuk label dan siap rekaman.
Menjelang tanda tangan kontrak, Derek mengundang mereka untuk mampir ke kediamannya di London Selatan. Betul-betul kediaman dengan taman yang dihuni oleh teman-teman punk Derek. Mereka diajak ke kamarnya, dan Derek berucap, "gue sekarang punya dua band dan salah satu dari kalian akan menjadi sangat terkenal". Ditangannya ada sebuah foto anak kecil memegang kodok. "Saat itulah pertama kali saya melihat Bjork," kenangnya.
Akhirnya mereka berhasil merilis sebuah EP berjudul When You're Sad, dengan rangkaian promo manggung yang membuat para penonton kebingungan sendiri. "Mereka melihat kami gimbal dan berpikir musik reggae. Namun yang mereka dapatkan hempasan feedback, lalu berpikir pasti kesalahan teknis dan beranjak pergi. Padahal itu adalah musik kami," ujar Rudy yang kini menjadi analis musik digital.
Petualangan musik A.R. Kane pun turut mampir ke pintu label 4AD. Mereka mengirimkan demo berjudul Lolita dan diterima 4AD. Namun lagi-lagi mereka hadir di sebuah label aneh. Jika di label One Little Indians, mereka bertemu dengan bos label eks punker anarki dan gerombolannya yang selalu nongkrong di taman belakang rumah si Derek, di 4AD, mereka berkenalan dengan Vaughan Oliver, bos artistik label, yang setiap minggu selalu menggunduli seluruh karyawan label, bahkan perempuan, dan mengharuskan berbusana hitam. "What the fuck is going on?! They looked Zen, but they were'nt" kata Rudy.
Di label ini, mereka merilis sebuah album mini yang legendaris dan terbaik di awal era acid house music, Pump Up the Volume. A.R. Kane memadukan noise dan feedback, serta dreamy sound dengan beat-beat dari music house yang menghentak. Mungkin mereka adalah pelopornya dan pastinya menginspirasi band-band semacam Curve atau My Bloody Valentine di lagu Soon.
Album bertajuk MARRS ini sukses besar. Menembus penjualan satu juta kopi, dan membuat 4AD terguncang dan kelimpungan karena tak terbiasa menerima pesanan sebanyak itu. Rudy mengisahkan betapa kesuksesan mereka menghancurkan begitu banyak ilusi tentang label 4AD itu sendiri. Namun Rudy melihat album mereka yang berjudul 69 sebagai sebuah album penting bagi dirinya. Di album ini mereka bereksplorasi begitu liar dan bualan itu ternyata menjadi 'sesuatu' yang tak terbayangkan. Dirilis tahun 1988, dimana MBV pun masih wangi nuansa jangly. "Namun dirilisan berikutnya MBV menjadi begitu lebih keren dari kami dan itu menarik," ujar Rudy.
Dua album menyusul dan A.R. Kane pun bubar. Tetapi Rudy begitu bahagia dengan apa yang telah mereka berdua lakoni di masa silam. Tanpa niat, tanpa ambisi. Dan mereka justru meretas sebuah gaya musik yang dinamai oleh para jurnalis musik, yaitu shoegaze. "For a while, Alex and me had that. We were really good. Just listen to those tracks. We piled so many ideas into every fucking songs!" tutupnya. So pasti! (Marr - disarikan dari artikel Guardian)
"People expected us to play Reggae. They got a wall of feedback" - Rudy Tambala
Teman saya, eks slacker negeri kiwi yang bernama Zounds72, menge-tag saya pada sebuah artikel dari Guardian, berjudul A.R. Kane: How to Invent Shoegaze Without Trying. Judul yang bikin saya tergelak sendiri karena begitu lucunya, tentang kisah band A.R. Kane, saya rasa (dan berharap) banyak yang sudah kenal dengan band lawas satu ini dari Inggris, salah satu band generasi pertama yang meretas musik shoegaze. Dan artikel ini sungguh menarik dan historikal, bagaimana dua anak muda Afro di Inggris yang 'terjebak' untuk bermain musik dan menjadi inspirasi bagi banyak band shoegaze dan alternatif di kemudian hari. So, saya ingin sekali menyarikan isi artikel tersebut untuk kita semua :)
![]() |
| A.R. Kane |
Kisah band ini dimulai dari celetukan ngasal, Rudy Tambala kepada temannya di sebuah pesta. Ia bilang kalau punya sebuah band, padahal tidak ada sama sekali. Bahkan Rudy berpikir bahwa band ini sebenarnya tidak akan pernah ada. Sampai akhirnya, dirinya dan teman sejak SD, Alex Ayuli menemukan sebuah band bernama Cocteau Twins di televisi rumahnya lewat program musik Channel 4, dan segalanya kelak akan berubah. Dua anak afro berambut dreadlock ini terbius..
Pastinya mereka terpukau oleh musik Cocteau Twins, yang tanpa drummer, memaksimalkan tapes dan teknologi sounds saat itu, serta sosok Liz Frazer yang seperti mahkluk dari dunia lain, bersuara malaikat dan bermata besar. Dan suara gitar Robin Guthrie membungkus 'keanehan' tersebut dengan begitu indah dan megah. "That was the Fuck! We could do that," kenang Rudy ketika itu.
Beberapa hari setelah menonton Cocteau Twins, Rudy dan Ayulli bertemu dengan seorang teman perempuan Ayuli di sebuah pesta. Bualan itu pun keluar ketika si teman menanyakan apa kegiatan mereka, dan dijawab Rudy, "Kami ngeband loh". Nama A.R. Kane pun tercetus pada saat itu juga dengan menukil film Citizen Kane dan the Mark of Twain. Ditanya lagi, musiknya seperti apa, Rudy celetuk dengan menjawab nama-nama seperti The Velvet Underground, Cocteau Twins, Miles Davis, dan sedikit Joni Mitchell.
Rudy mengaku sepertinya dirinya saat itu memang sedang lagi mabuk. Tetapi seminggu kemudian mereka ditelepon oleh pihak label One Little Indian. Bualan itu berujung permintaan sebuah demo dan ajakan masuk roster label. Tentu saja, ketika itu tak ada band apalagi satu lagu, bahkan anggotanya sekalipun!
Berbekal ide kasar, Rudy dan Ayuli merekam lagu dengan dua tape kaset, lalu mereka merekam tiap track secara bergantian...serba lo-fi nan irit, dan sebuah materi demo tercipta! Derek Birkett, pendiri One Little Indian dan eks punker di band anarki punk, Flux of Pink Indians, ternyata kesengsem dengan demo mereka, dan pengen ngelihat live dari band yang sesungguhnya belum ada, baru lagu-lagu saja.
![]() |
| Lived in the end of 80's |
Menjelang tanda tangan kontrak, Derek mengundang mereka untuk mampir ke kediamannya di London Selatan. Betul-betul kediaman dengan taman yang dihuni oleh teman-teman punk Derek. Mereka diajak ke kamarnya, dan Derek berucap, "gue sekarang punya dua band dan salah satu dari kalian akan menjadi sangat terkenal". Ditangannya ada sebuah foto anak kecil memegang kodok. "Saat itulah pertama kali saya melihat Bjork," kenangnya.
Akhirnya mereka berhasil merilis sebuah EP berjudul When You're Sad, dengan rangkaian promo manggung yang membuat para penonton kebingungan sendiri. "Mereka melihat kami gimbal dan berpikir musik reggae. Namun yang mereka dapatkan hempasan feedback, lalu berpikir pasti kesalahan teknis dan beranjak pergi. Padahal itu adalah musik kami," ujar Rudy yang kini menjadi analis musik digital.
Petualangan musik A.R. Kane pun turut mampir ke pintu label 4AD. Mereka mengirimkan demo berjudul Lolita dan diterima 4AD. Namun lagi-lagi mereka hadir di sebuah label aneh. Jika di label One Little Indians, mereka bertemu dengan bos label eks punker anarki dan gerombolannya yang selalu nongkrong di taman belakang rumah si Derek, di 4AD, mereka berkenalan dengan Vaughan Oliver, bos artistik label, yang setiap minggu selalu menggunduli seluruh karyawan label, bahkan perempuan, dan mengharuskan berbusana hitam. "What the fuck is going on?! They looked Zen, but they were'nt" kata Rudy.
Di label ini, mereka merilis sebuah album mini yang legendaris dan terbaik di awal era acid house music, Pump Up the Volume. A.R. Kane memadukan noise dan feedback, serta dreamy sound dengan beat-beat dari music house yang menghentak. Mungkin mereka adalah pelopornya dan pastinya menginspirasi band-band semacam Curve atau My Bloody Valentine di lagu Soon.
Album bertajuk MARRS ini sukses besar. Menembus penjualan satu juta kopi, dan membuat 4AD terguncang dan kelimpungan karena tak terbiasa menerima pesanan sebanyak itu. Rudy mengisahkan betapa kesuksesan mereka menghancurkan begitu banyak ilusi tentang label 4AD itu sendiri. Namun Rudy melihat album mereka yang berjudul 69 sebagai sebuah album penting bagi dirinya. Di album ini mereka bereksplorasi begitu liar dan bualan itu ternyata menjadi 'sesuatu' yang tak terbayangkan. Dirilis tahun 1988, dimana MBV pun masih wangi nuansa jangly. "Namun dirilisan berikutnya MBV menjadi begitu lebih keren dari kami dan itu menarik," ujar Rudy.
Dua album menyusul dan A.R. Kane pun bubar. Tetapi Rudy begitu bahagia dengan apa yang telah mereka berdua lakoni di masa silam. Tanpa niat, tanpa ambisi. Dan mereka justru meretas sebuah gaya musik yang dinamai oleh para jurnalis musik, yaitu shoegaze. "For a while, Alex and me had that. We were really good. Just listen to those tracks. We piled so many ideas into every fucking songs!" tutupnya. So pasti! (Marr - disarikan dari artikel Guardian)
Langganan:
Postingan (Atom)













