Tampilkan postingan dengan label Gigs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gigs. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2016

Swervedriver Gig at Singapore, 15 June 2016


Beberapa hari lalu, saya dan beberapa teman menonton penampilan Swervedriver di Hood Bar & Cafe di Singapura. Tiketnya murah, Rp500ribu saja. Secara keseluruhan, penampilan mereka tetap tight dan keren meski hanya ditonton mungkin sekitaran 100an orang (mungkin juga bisa kurang).

Mungkin karena acaranya memang dibuat dadakan dan memanfaatkan waktu transit para personil Swervedriver sebelum memulai tur di NZ dan Aussie. Tapi malah bikin kami bisa leluasa untuk obrol2, poto-poto, dan legalisir apapun yang kami bawa dari tanah air hahaha

Jadi saya ingin share saja pepotoan dari konser Swervedriver untuk manteman semua :) selamat ngiri eh maksudnya menikmati! Konser mini yang menyenangkan!

stage panggung di hood bar & cafe

mick quinn basis supergrass menjadi basis adisional tur swervedriver

adam franklin dan jimmy hartridge, dua personil asli swervedriver
gitar jazzmaster adam franklin
efek rig milik jimmy hartridge
detil efek rig disisi kiri immy h
d etilrig effect jimmy di sisi kanan
rig efek adam franklin
rig efek adam franklin di sisi kirinya
kontingen endonesa poto bareng sebelum berpisah!
set list
legalisir!

Btw, beberapa hari lalu saya mengirim email ke Jane Blondel dari Songs For Children yang membawa Swervedriver ke Singapura, dan email dibalas, dan isinya bikin saya sumringah :D mau tau apa balasannya? 

"Swervedriver would love to go to Indonesia, next year"

Fuckin' A! 

Kamis, 25 Juni 2015

Feeling The Ride With Arian13

Arian13 adalah salah satu dari sejumlah orang di negeri ini yang menonton konser reuni Ride. Singgah di London untuk sebuah festival Metal, vokalis Seringai ini rela beli tiket mahal untuk konser Andy Bell cs.

Ride di Roundhouse
Ironinya mewawancarai orang-orang yang sudah nonton konser band-band shoegaze lawas, adalah ketika elo nggak nonton ha ha ha Ngiri adalah manusiawi, asal tidak dengki. Begitulah ketika saya putuskan meminta Arian13 untuk berbagi cerita tentang konser Ride yang berhasil ia tonton di London.

Arian13 telah dikenal penikmat musik shoegaze. Bagi yang punya kaset kompilasi shoegaze lokal Holy Noise bakal paham jika membaca liner notes yang ditulisnya. Setelah sukses nonton Slowdive, MBV (gue tebak aja sih, tapi pasti udah nonton hahaha), dan akhirnya Ride, pemilik moto #HidupAdalahKonser ini punya kesan tersendiri tentang konser reunian band shoegaze lawas asal Oxford ini.

Silahkan dinikmati!


1. Ceritaain dong awal mula lo berniat nonton Ride yang sekarang sedang tur reunian.
Justru awalnya gue nggak tahu ada konser reuni Ride ini di London, tahunya mereka akan reuni di Primavera Festival di Barcelona, Spanyol. Gue ada jadwal menonton Swans dan Temples Festival di UK, dan ternya ta ketika sedang membeli tiket konser Swans, di venue yang sama ada konser reuni Ride. Excited, tapi pas dicek ternyata tiketnya sudah sold out. Ketika sudah di London, teman kami memberi tahu kalau ada beberapa tiket yang masih available tapi sedikit lebih mahal, dan akhirnya kami beli saja. Dan ternyata di Roundhouse mereka masih menyediakan tiket untuk mereka yang tidak bisa order online walaupun harganya juga lebih mahal daripada harga tiket yang kami beli. Ya akhirnya malam itu kami berhasil menonton Ride.
2. Berapa harga tiket Ride-nya?

Harga tiket yang gue dapat itu 27 pounds, harga aslinya 25 pounds. Harga di venue pas hari H, 30 pounds.

3. Sempat beli merchandise nya Ride gak di lokasi konser?

Iya, beli, tour edition.
 
4. Sejak kapan lo suka Ride, dan apa yang bikin lo suka, secara lo dikenal sebagai penikmat musik keras.

Dari era '90an gue memang sudah mendengarkan musik-musik seperti ini. Indie pop, twee pop, shoegaze dan lainnya selain metal dan punk. Suka musiknya, biasa saja sama fashionnya. Pada dasarnya memang gue suka berbagai musik hanya saja kalau passion gue memang musik metal dan punk rock. Ketika lo mendengarkan Slowdive, Lush, My Bloody Valentine begitu kan pasti akhirnya terkait juga dengan Ride. Dulu pertama dengerin ya album Nowhere, awalnya suka memang dari hitsnya, "Vapour Trail" dan "In A Different Place". Dapet CDnya, tapi nggak ingat dulu beli atau dapat dari mana/siapa.

5. Kesan lo saat nonton live Ride, kayak apa sih? Seberapa epic mereka manggung di depan mata lo.

Malam itu mereka tight sih, tidak seperti band yang sudah lama tidak manggung. Setlist-nya ok, walau ada beberapa lagu yang gue berharap dibawakan tapi ternyata nggak. Durasinya sekitar 1.5 jam, standar lah. Tapi kalau boleh gue bandingkan, kerenan konser Slowdive di Singapura tahun lalu, terutama soundnya. Atau mungkin karena memang gue lebih suka sama Slowdive kali ya. Haha.

6. Penampilan mereka kayaknya rada kalem yah (secara sudah berumur juga sih), bagaimana dengan tingkat kebisingan mereka?

Mereka nggak terlalu bising, kecuali bagian noise-nya sih. Maksudnya, sound systemnya besar dan kencang, tapi bukan kayak bising seperti konser My Bloody Valentine atau Sunn O))). Kalau mereka kalem, bukannya dari dulu live mereka memang kalem ya?
Yang seru itu pas nunggu mereka on stage di teras luar atas di Roundhouse, nampaknya banyak scenester-scenester indie pop London yang reuni, udah pada tua-tua gitu. Nggak kayak konser-konser metal, para old school-nya ini nggak banyak yang pakai tshirt band. Ada sih beberapa yang masih pakai tshirt band atau berdandan cutting edge, tapi nggak banyak. Dan surprisingly nggak banyak anak muda atau juga hipster yang menonton konser reuni Ride. Mungkin mereka hanya muncul di festival-festival musik, sementara kalau waktu itu memang die hard fans-nya Ride saja yang datang.
7. Penuh gak yang nonton konser Ride?

Roundhouse venue besar, dan penuh dan tidak sesak. Sepertinya tidak sold out tiketnya, tapi ya itu, penuh.


8. Kira2 band macam Ride atau Slowdive bisa dibawa gak yah sama promotor lokal hahaha

Kalau event festival gue rasa bisa. Tapi kalau die hard fansnya yang beli tiket hanya 1000-1500 orang.. bad business.
 

9. Moto lo, #HidupAdalahKonser. Ceritain dong soal Hidup Adalah Konser. Sejak kapan lo menjalani 'umroh' ini, konser pertama lo apa, lalu setiap tahun apa lo ada target harus nonton konser?

Sejak gue nonton konser Slayer formasi original di Singapura tahun 2006 nampaknya. Sejak itu sering menyisihkan uang buat nonton konser di luar. Kalau target, mungkin mulai sejak tahun lalu ketika melihat headliners awal Temples Festival dan Hellfest. Akhirnya memberanikan diri berangkat walau hanya sendirian. Tahun depan sih kalau berhasil menabung lagi ingin datang ke Maryland Death Fest di USA. Kalau 'hidup adalah konser' itu lebih ke ungkapan gue untuk mereka yang mengejar passion-nya menonton musik live keluar negeri, mereka yang memang niat banget mengejar menonton band-band favoritnya yang rasanya punya kemungkinan kecil untuk main di Indonesia atau Asia Tenggara.

10. Di sosmed lo sering banget tiba-tiba di luar negeri nonton konser. Kasih dong tips dan trik buat kita-kita (tsah!) bisa merasakan serunya nonton konser di luar negeri hahaha

Tips pertama: rajinlah menabung! Haha. Nggak ada trik sih, kalau sekalian liputan juga rasanya media musik lokal nggak banyak ngasih kemudahan kecuali band/musisinya mainstream. Ya kalau gue sih, nonton konser ke luar itu sekalian traveling. Jarang gue traveling keluar kalau nggak sekalian nonton konser. Memang enaknya sih sekalian pas summer, karena banyak festival kan. Kalau akomodasi bisa diakali sih akan lebih enak dan irit ya. Gue karena nggak mau rugi, akhirnya banyak ke museum juga, apalagi rata-rata gratis kan.

11. Dari berbagai band shoegaze yang reunian, band apa yang menurut lo paling bersyukur telah nontonin, atau berharap bisa reunian?
Slowdive, tentu saja.

Rabu, 13 Agustus 2014

Slowdived with Alvin Yunata

Alvin Yunata menonton Slowdive di Singapura, Lebaran lalu. Membuat iri teman-temannya dengan kehadirannya disana dan foto bersama. Berikut ini adalah wawancara khusus bersama bapak satu anak ini soal nonton Slowdive, semoga bermanfaat dan menginspirasi.

1. Ceritain perkenalan lo dgn musik slowdive dan kesan personal dgn lagu2 mereka?
Kecintaan gue akan musik macam ini adalah ketika kakak kelas gw semasa SMA yang bernama Ajie Gergaji memperkenalkan gw dengan band bernama My Bloody Valentine. Saat itu Ajie memiliki band bernama Live at Pawn yang saat itu membawakan lagu bernuansa hardcore seperti Helmet. Saat bertandang ke rumahnya Ajie (saat itu dia kelas 3) memperdengarkan sebuah kaset bertitel "Loveless" saat itu saya yang masih duduk di kelas 2 SMA tak pernah mendengarkan musik macam itu sebelumnya. Saya pikir ada masalah dengan kasetnya, apakah ini kasetnya rusak? Apakah pitanya sudah aus? Setelah saya mengetok ngetok si rumah kaset ternyata hasilnya tetap sama dan oh memang begini lagunya. Pendek cerita setelah itu pandangan saya akan musik mulai berbeda dan akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan atribut punk, hardcore, metal dll untuk menyelam lebih dalam. Hingga suatu masa saya bertemu dengan Slowdive. Album Souvlaki adalah album pertama yang saya dengar, semasa SMA saya suka sekali dengan keadaan galau, selalu patah hati, tak bisa menjamah cewek2 favorit di sekolah, hingga menjadikan Morrissey sebagai nabi kekelaman saat itu. Dan saat itu Slowdive lah yang menjadi teman di temaram pojokan kamar. Souvlaki benar-benar menjadi jembatan saat itu, "Alison", "Machine Gun", "Here She Comes", "40 Days" hingga "Dagger" menjadi track-track favorit, sampai-sampai seorang kakak sepupu melaporkan hal tersebut pada orang tua saya karena lagu-lagu tersebut disinyalir terlalu kelam dan takut terjadi hal-hal buruk pada saya saat itu.  

2. Koleksi vinyl slowdive yg lo punya? Ada kisah tersendiri?
Koleksi Vinyl Slowdive hanya beberapa saja Just For A Day, Souvlaki, Morningrise EP dan satu kompilasi Blue Day. Untuk mendapatkan first pressing sangat sulit Souvlaki dan Pygmalion harga sudah selangit maka untuk Souvlaki saya hanya membeli yang reissue. Syukur untuk Just For A Day saya bisa mendapatkan vinyl first pressing nya.  


3. Gimana lo bisa dapat tiket slowdive di singapura?
Tuhan memihak pada saya, timbul keraguan ketika tersiar kabar bahwa Slowdive akan mengunjungi Singapore di "peak season", tiket pesawat serba mahal. Keraguan terus menyelimuti saya saat itu namun sebuah pertanda kemudian muncul satu persatu, salah satu yang krusial mendapatkan kabar dari seorang teman seorang manager kondang ternama Satria Ramadhan akan menjual tiket early bird yang ia dapatkan karena dirinya akan memilih untuk pergi ke Fuji Rock Festival. 

4. Persiapan lo utk naik haji slowdive di sana?
Saya kira persiapan saya telah terencana dengan matang, mendapatkan tiket pesawat dari Bandung yang harganya jauh lebih murah dan kebetulan saya akan berlebaran disana juga. Memilih 1 vinyl untuk tandatangan (Just For A Day) karena kalau membawa semua terlalu repot. Satu hari sebelum berangkat saya sudah sampai di Bandung setelah lelah menyetir dari Jakarta dan hari mulai gelap hingga suatu saat saya tersadar kalau passport saya tertinggal di Jakarta! Fuck! Tinggal beberapa jam lagi dan saya harus bertemu dengan rintangan ini. Kembali ke Jakarta pada pukul 12 malam lalu kembali ke Bandung pada pukul 4 subuh dan langsung menuju bandara Husein Sastranegara! 

5. Ceritain detil yg terjadi saat slowdive naik panggung, lagu pertama apa dan yg lo rasain, dan apa ada encore?
Sekitar 2 jam sebelum open gate saya dan dua teman memilih untuk menikmati segelas kopi di area belakang venue karena disana terdapat banyak pilihan restoran. Tiba-tiba mata terpaku pada sesosok mahluk bule keluar dari pintu sebuah mall perasaan tak menentu hingga terbelalak melihat sosok Rachel Goswell diikuti Neil Halstead berjalan dibelakangnya. Lidah ini kelu hanya mampu mengikuti mereka tanpa bisa berkata apa-apa hingga sosok semua personil band masuk ke back stage area. Saat itu kami sangat menyesal karena telah membuang momen secara percuma.
Abis itu kita segera meluncur ke antrian dengan niatan biar bisa nonton di depan, akhirnya setelah mengantri kita masuk dari gerbang semua tampak sederhana gak ada umbul-umbul, gak ada poster gede hanya ada antrian aja. Sesampainya di dalem kita langsung disuguhi lagu-lagu dari Teenage Fanclub, Primal Scream, hingga The Sundays sederetan tracklist 90s.  
Standard ketika pada naek panggung semua mulai berteriak dan bertepuk tangan, awalnya seperti set panggung yang sederhana tapi ketika Slowdive mulai naik panggung ternyata beberapa set lighting bermain cukup membius mereka membuka shownya lewat lagu "Slowdive" diambil dari EP pertama mereka dengan judul yang sama. Dan sekejap, BANG! obat bius mulai beraksi, bulu kuduk merinding, Slowdive berhasil melumpuhkan semua indera saya di awal show-nya. Ini terlalu gila bantuan  permainan lighting seakan membantu Neil dan Rachel cs untuk memaksa semua penonton terhenyak entah ada setan dreampop atau shoegaze mulai bergentayangan. 
Sintingnya mereka membuat repertoir yang sempurna begitu mengalun adil antara track-track dari ketiga album mereka. "Avalyn", "Catch A Breeze" hingga "Crazy For You" membuat saya terbuai. Air mata seperti tak tertahankan hingga akhirnya bendungan itu pun jebol, air mata deras terkucur tepat ketika mereka membuka lagu "Machine Gun". Mereka terus menghajar saya  tanpa henti tanpa banyak basa basi sesekali Neil dan Rachel mengganti gitar mereka masing-masing. Ketika suara Neil muncul sendiri penambahan echo adalah keputusan yang tepat dan ternyata bagian ledakan yang distorsif pun selama ini memang muncul dari raungan gitar Neil. Tidak sedetik pun Slowdive membiarkan saya bernafas track "40 Days" disambung menuju "Morningrise" dan "She Calls" membuat saya menyerah, Slowdive benar-benar menyiksa bathin saya dengan indahnya. Lagu terakhir sebelum encore jatuh pada "Golden Hair" mereka membawakannya dengan sempurna, rasanya saya harus meringis miris bertubi-tubi.
Tetapi sungguh ide brilian ketika Neil deal it with himself to performed "Dagger", bayangkan suara echo dari Neil mendendangkan tipikal lagu seperti ini. Sepertinya nuansa magis ini yang akan tersirat apabila kita melihat perform Neil solo ataupun bersama moniker Mojave 3. Lagu terakhir tentunya the one and only, "Alison" semua ikut menyanyi seperti koor panjang dan diakhiri dengan raungan gulungan fuzz penanda akhir show. Kesimpulannya? Fantastis!!!

6. Apa lo bener2 jadi gegoleran di lantai sambil menatap langit2 plus mata menerawang kosong pas lagu Allison? Kami menagih janji tersebut.
 Ngga sorry banget gw tau lo pada kecewa tapi masalahnya gw berdiri di depan dan ga ada space sama sekali untuk "gogoleran", sekali lagi saya minta maaf.

with Neil Halstead
7. Kan ada after party slowdive, ceritain dong sedikit kayak apa suasananya?
Inget cerita saya ketika sebelum masuk ke gate? Disitu kita menyesal dan merasa kebodohan tingkat akut, satu-satunya harapan adalah datang ke after party. Kalo kalian jeli tertera pada undangan after party WITH Slowdive. Disematkan kata "WITH" disana, ya awalnya saya pun ragu namun ini sepertinya patut dicoba lagian malam masih panjang dan kebetulan didalam rombongan kami berlima ada the birthday boy si Arian13 iya dia memang metalhead sejati tapi dia sejak dahulu memang sangat suka dengan musik shoegaze, jangan salah.
Kami memutuskan untuk pergi ke bar tersebut, ah saya lupa namanya dan malas mencari tahu lagi. Pendek cerita kami sampai ditujuan dan tahukan anda apa yang kami lihat ketika baru saja membuka pintu taxi? Neil fucking Halstead was straight standing in front of the bar with a can of beer. Mengenakan kaos The Stooges warna putih dan topi trucker yang sama ketika dipanggung. Dia seperti orang biasa dengan rokok dimulutnya berbaur dengan semua orang yang sibuk dengan spidol dan kamera. Keringat dingin bercucuran dengan paniknya saya merogoh tas untuk mengeluarkan spidol beserta sleeve vinyl Just For A Day, tidak lupa menyiapkan setting kamera di smartphone.
Ya hanya ada Neil disitu tak nampak personil lainnya sambil gugup saya berusaha setenang mungkin tapi sepertinya saya gagal. Seingat saya, saya hanya bisa chit chat sedikit basa basi katro,
Saya: "Hai Neil boleh saya minta tandatangan dan foto bersama?" 
Neil: "Yeah Sure!"
Saya: "It's been so long almost 20 years waiting for you guys."
Neil: "Wow, nice to heard that."
Saya: "Hei I love you when you built Mojave 3 too, how's a going?"
Neil: "Maybe I'll do some solo project first."
That's it abis itu lidah kembali kelu dan giliran antrian berikutnya.
Tanpa pikir panjang kami segera ke dalam dan benar saja sisa personil ada di pojokan DJ booth namun suasana sedikit berbeda. Antrian tersusun rapih dua orang panitia security berjaga jaga di samping Rachel Goswell yang lagi sibuk melayani para fansnya yang meminta tandatangan dan foto bersama. Persis giliran rombongan kami tiba-tiba security memasang line dan berkata, "Ok enough she needs rest!". What the fuck?!! Kami hanya bisa melongo pasrah dengan memasang tampang "pengemis kelaparan" trik agar panitia atau bahkan para personil mau menerima kami. Beberapa menit kemudian hasilnya, nihil!
Dalam benak saya saat itu adalah mencaci maki sisa personil Slowdive yang sok Inggris keningratan jauh dibandingkan Neil Halstead yang sudah hijrah ke Amerika membuat project Mojave3 yang membuat dia jauh lebih bohemian dan membumi.
Tak lama kemudian mukjizat Tuhan datang kembali pada saya tiba-tiba seorang panitia menghampiri saya dan bertanya apakah itu sleeve vinyl, dan saya jawab ya. Ok kalau begitu kemari saya bantu tapi hanya sleeve vinyl saja karena sekalian dibarengin dengan sleeve vinyl dari sang DJ. Mata saya membelalak seakan tak percaya karena dari rombongan yang tersisa hanya saya seorang yang membawa sleeve vinyl, seraya sang panitia mengambil sleeve vinyl saya dan bertanya mana saja personilnya (helloooooo..... Situ panitia 17an?). Signed! Mission Accomplished!
8. Pasti banyak wajah WNI yah?
Ya banyak tapi ngga sebanyak biasanya mungkin emang momennya kurang pas bagi orang-orang Indonesia karena banyak yang lagi lebaranan. 

9. Pendapat lo dgn makin banyak band shoegaze yg mulai reuni dan mencari nafkah dgn rangkaian tur
Oiya gak apa-apa justru bagus karena saatnya sekarang saya bisa menikmati karena dulu mau nonton aja susah banget deh kayaknya.  
10. Band shoegaze lawas yg lo harap maen di Indonesia? 
Lush dan Boo Radleys (walaupun di era akhir 90an mereka udah gak shoegaze lagi), Medicine, Catherine Wheels, Swervedriver, My Bloody Valentine, Drop Nineteens ah sama lah paling ama lo Pet.... 

11. Lo setuju gak kalo Slowdive dan band2 shoegaze lawas bikin album baru? Apa alasannya?
Ngga, gak perlu soalnya bakal jadi bumerang untungnya formula My Bloody Valentine berhasil. Tapi gw sih gak berharap mereka bikin album baru lah takutnya jadi bumerang merusak esensi kemurnian yang sudah terukir kalo sampai salah langkah. Jadi sebaiknya gak perlu ada album baru cukup tur reuni aja. 



12. Akhir kata, plat Slowdive berttd itu apa bisa dilepas untuk saya? Pakai fasilitas kredit 6 bulan yah.
Kalo lo menyimak cerita gw diatas lo tega bener deh Pet, FUCK YOU PET! HAHAHAHAHA....

follow this dude @spitndroll

Senin, 11 Februari 2013

My Bloody Valentine, Live Japan 2013. A Confession of Their Beautiful Noise..


Fathan Goenandar, gitaris band shoegaze bandung Avenue, begitu beruntungnya bisa menyaksikan secara langsung, My Bloody Valentine beraksi di atas panggung. Pengalaman luar biasa yang memekakkan kedua telinganya di negeri sushi ini. Damn..envy so bad :))


 "You made me realise that you were great !!"

Itulah kata-kata yang bisa saya katakan setelah menonton My Bloody Valentine. Mimpi saya mendengarkan live dua puluh menit 'noise session' dari lagu You Made Me Realize, akhirnya menjadi kenyataan. Harsh noise yang dahsyat dan saya pun memutuskan tidak mengenakan ear plug saat itu. Walaupun saya harus merelakan kuping saya sakit sampai hari ini. Ok, saya tidak akan membahas bagaimana noise session nya, saya akan coba bercerita pengelaman menarik saya menonton My Bloody Valentine Japan Tour 2013 Sunday February 10th 2013 Extra Stage Tokyo. ---- Fathan (Avenue)

Berburu Tiket

Sekitar bulan Agustus 2012, teman saya yang huge-fans of My Bloody Valentine, memberi tahu tentang kabar MBV akan tour ke Jepang. Wow! Saya sangat beruntung secara saya tinggal di Tokyo dan pastinya band shoegaze lawas ini bakal mampir di ibukota Jepang untuk rangkaian turnya. Saya pun tidak tahu pre-sale ticket ternyata sudah dijual berbulan-bulan sebelumnya. Saya pikir sebulan sebelumnya pun tiket mungkin masih tersedia, tetapi dugaan saya salah besar. 

Pada bulan Oktober, kami berdua berencana untuk menonton MBV dengan membeli 2 tiket pada hari yang yang sama. Tetapi tiket yang dijual pada hari jumat dan sabtu sold out, (walaupun pre-sale) what the hell!! maji ka yo!! Kecewa banget karena terlambat membeli pre-sale tiket. Saya sendiri tidak menyangka band indie model MBV bisa menyedot antuasiasme orang jepang seperti ini. Kalau Lady Gaga atau Bruno Mars tentu masuk akal

Seminggu kemudian, Smash (promotornya) menambah satu extra stage untuk hari minggu. Lucky! Tiket akan dijual hanya di salah satu toko di mall Parco, Shibuya. Berencana akan membelinya hari itu setelah pulang kantor. Datang tepat 10 menit sebelum toko itu ditutup, dan ternyata sudah sold out selang sejam boks tiket dibuka. Oh shit, band macam apa MBV ini? Ok sekarang saya beranggapan MBV setara dengan ketenaran Lady Gaga Lol! Atau terlalu banyak calo yang memborongnya. 

Whatever, I must watch this phenomenal band! Dengan terpaksa saya mencari calo tiket. Sesuai perkiraan tiket banyak dijual di yahoo auction Jepang. Dengan harga yang beragam. Harga asli semua jenis tiket adalah 8.000 yen  (sekitar 800 ribu dengan kurs Rp 100), tetapi harga yang dijual di yahoo berkisar 10.000 untuk all standing ticket sampai untuk reserved-seat ticket  25.000 yen!! Akhirnya, saya membeli tiket untuk dua orang seharga 13.500 yen. Itu pun hanya tersedia untuk hari minggu yaitu extra stage concert. 

Nevermind, finally i got it!! Sayangnya teman saya membatalkan untuk menonton MBV yang sudah direncanakan jauh-jauh hari dengan alasan memilih konser di Australia. Dan 1 tiket pun menganggur. Dengan terpaksa saya menjual lagi di internet, mulai dari craiglist, facebook dan yahoo auction. Ehm, merasa rugi karena mendapat kan tiket harga hampir 2X lipat saya pun memutuskan menjual nya kembali dengan harga yang lebih mahal. Sesuai perkiraan, bulan desember saya berhasil menjual nya dengan harga 15.000 yen (sekitar Rp 1.500.000), he he he..
           
Awal bulan Februari kebetulan juga ada kabar tentang rilis album baru MBV. Wow, after 22 years, finally they will release new stuff!! ha ha ha, insane. And… i download it (illegaly) :p. Cukup kaget, saya berpikir kepuasan mendengar materi di album berjudul 'M B V' ini hanya bisa dirasakan pada saat menonton live. Sound pada album itu akan hidup dengan sound system yang dahsyat. Saya sangat berharap mereka membawakan lagu di album barunya, terutama lagu dengan “on the plane sounds”,  Wonder 2. Dan saya merasa perlu membeli cdnya sebagai bukti fisik fans MBV. Lol

The Day has Come!

Tidak terasa tanggal sudah 10 februari dengan cuaca di Tokyo berkisar 1 – 9 derajat celcius. Saya pun memeriksa tiket saya, tidak lupa membawa glove dan scarf. Gate dibuka jam 5 sore, perjalanan dari rumah ke Shinkiba, tempat lokasi event, sekitar 1 jam via kereta. Saya berencana pergi jam 4 sore, tetapi satu dan lain hal saya telat 30 menit (standar orang Indonesia lol). 

Sampai di stasiun Shinkiba sekitar pukul 5.30. Saya pun bergegas jalan ke Studio Coast (sekitar 10 menit ). Seperti biasa selalu ada wanita-wanita jepang yang nangkring berharap mendapat kan tiket gratis dengan membawa kertas dengan ber tulisan マイブラチケットゆずって下さい artinya, 'minta tiket Maibura (sebutan untuk My Bloody Valentine)'. 

Sayang saya tidak sempat mengambil fotonya karena buru-buru. Sekitar 50 meter dari venue terdapat calo-calo yang bersedia membeli kelebihan tiket. Lalu tibalah di depan gate bersama segerombolan orang yang sudah menanti sambil merokok dan minum bir. Saya pun dengan santai merokok dan mengambil beberapa foto. Sepuluh menit sebelum acara berlangsung saya menyempatkan diri membeli kaos MBV yang di jual dengan berbagai macam design.   

Berbagai macam design kaos dan sweater MBV. Damn nge-blur.

Lalu dengan kocek 3.500 yen, saya memilih kaos dengan design simpel bertuliskan MBV.

Berbekal tiket, saya beranjak ke antrian pintu masuk venue yang memuat kapasitas 2400 orang saja. Informasi tambahan, konser MBV di Tokyo dihelatkan sebanyak tiga hari berturut-turut loh. Hemmm...  di area acara ternyata saya kudu membayar 500 yen ditukar dengan drink ticket beer yang sudah disiapkan panitia. Okelah, memilih untuk tidak menukarkan dengan beer, saya langsung berlari mencari tempat bagus untuk menonton mereka. Kali ini saya memang tidak berniat menonton paling depan, saya memilih untuk bisa mendengarkan sound yang baik dengan bisa melihat jelas semua personil, yaitu di tangga belakang. Yups untung saja masih ada tangga yang tersedia di barisan belakang. Dan tentunya semua orang berdiri.

Stage Set


Pukul 18.10, mereka pun memasuki stage dan seluruh penonton yang sudah menanti lama bertepuk tangan. Menonton konser di Jepang, jangan harap akan ricuh dan seru dengan teriakan histeris penonton. Kecuali kalo menonton di festival seperti Fuji Rock atau Summer Sonic. Belinda Butcher yang memakai setelan baju hitam hitam langsung menjadi pusat perhatian penonton. Masih terlihat “segar” dan “sexy” seperti di vidioklip Soon, ha ha ha . 

Tanpa basa basi, lagu  “I only Said” dimainkan. Sound gitar dengan sekitar 8 ampli dan 7 head untuk Kevin Shield; 3 ampli dengan 2 head untuk Belinda; dan 2 ampli dan 2 head untuk Debbie Googe (basis), betul-betul memecahkan keheningan suasana. Lagu berikutnya, When You Sleep. Setelah lagu ini barulah penonton mulai berani meneriakan nama-nama mereka, dan semua serentak meneriakan “Belinda”, dan Belinda pun menjawab “hello" --- ...aduhay :p - editor

Next song from new album. "New You" dimana sound gitar Kevin Shields sangat luar biasa, layers gitarnya bertekstur sangat indah. Lebih keren daripada di albumnya! "You Never Should" menjadi lagu kempat yang dibawakan. Lagu kelima, salah satu track fave saya dari tremolo EP “Honey Power”. Lagi-lagi, penonton mulai histeris meneriakan nama Belinda berkali-kali, dijawab dengan senyum Belinda oh damn so sweet ha ha. 

Oh ya, di setiap pergantian lagu, Kevin dan Belinda selalu mengganti gitar mereka. Kevin Shield dengan Jazzmaster, dan Belinda kadang-kadang dengan bergantian antara Jazzmaster dan Jaguar. Gitar Belinda selalu berwarna glitter, tentu saja menambah pesonanya sebagai gitaris yang “pemalu”. Gitar akustik pun dimainkan oleh Kevin untuk lagu "Cigarette in Your Bed". Gitar Jazzmaster kembali di tangan Kevin Shields untuk lagu "Come in Alone". Pada jeda lagu terakhirnya Kevin menyempatkan tuk berucap, “hello, this is our last gig in Tokyo”, dan pukulan ripple snare Colm membuka sebuah lagu klasik berjudul "Only Shallow".     

Aihh.. Belinda pun berkata “thank you, thank you for coming” Yeahhhhhhh.. Senang sekali mendengarnya. Kevin sempat kebingungan karena suara gitarnya tidak keluar, dan hanya noise atau mungkin loop nya yang terdengar. Bisa dibayangkan line rig effect-nya pasti rumit sekali ha ha ha. Setelah bertanya kepada kru dan  soundnya kembali normal, lagu "Thorn" ditampilkan apik. Selang lima detik, "Nothing Much to Lose". Lagu ini menjadi penampilan favorit saya, dimana Debbie Googe sangat atraktif dan energik. Sound bass-nya sangat terasa menggelegar! Meski bagi saya di lagu ini, sound yang dihasilkan kurang maksimal, but, they were still amazing.

Berikutnya, alunan feedback guitar Kevin mengalir dan membuka sebuah lagu gundah paling dinanti, "To Here Knows When". Kombinasi sempurna antara sound gitar, loops, dan suara desahan merdu Belinda. Dan setelahnya dari EP you made me realise “Slow”. Di lagu ini gitar Kevin lebih terdengar warm daripada di albumnya. Sepertinya inilah lagu yang paling ditunggu oleh para pembeli tiket. Setelah terdengar loops drum dari “Soon”, para penonton langsung bersorak dan tepuk tangan. Semua orang menggoyangkan badan dan seolah ingin berdansa. 

Seperti biasa setelah berganti gitar dan feedback pun terdengar, this is the most harsh song that I should dance, kami dihajar dengan lagu “Feed Me With Your Kiss”. Tapi jangan harap bisa joged ala punk rock konser di Jepang, kita hanya bisa menggerakan badan sekedarnya. Bagi mereka, konser mahal untuk didengarkan dan dinikmati. Masalahnya, bagi saya  pogo dancing merupakan cara untuk menikmati konser ha ha ha. Yeah this is japan. Shouganai. Saya pun hanya menggoyangkan badan dan kepala.

Bisingnya You Made Me Realise


Kelar lagu diatas, sang penabuh drum Colm Coisog langsung memberikan aba-aba untuk sebuah lagu sinting berjudul "You Made Me Realise". Dan pas segmen noise session, sangat dahsyat. Harsh noise yang menurut saya cukup berstruktur, 5 menit pertama disuguhi dengan low-mid bass noise yang terasa seperti ditancapkan pelan-pelan ke kepala kita. Terasa sekali sound system mulai naik ke frequensi middle, fuzz dan octave terasa jelas dan terasa segala isi dari dalam otak saya  seperti diblender ha ha ha. Seolah mendengarkan merzbow live menggunakan guitar. Tekstur soundnya memang monoton, tetapi sound yang dihasilkannya sangat “blended”. Setelah 10 menit pitch mulai terasa dan memekakan telinga, cymbal yang terus dipukul oleh colm sampai tidak terdengar. Gain pun sepertinya dinaikan beberapa desibel. Yang menarik olah tata lampu  dan visualisasi yang terus berubah semakin menambah atmosfir keriuhan noise di lagu ini.

Puncaknya, tsunami gelombang noise terdengar begitu jelas dan sangat kencang sekali. Terkadang frekuensi tinggi begitu terdengar dan memekakan telinga, sampai tidak sadar saya terus menggoyangkan badan mendengarkan noise session ini. Kerennya, tanpa aba-aba, langsung kembali masuk ke badan lagu. Lagu ini pun menjadi penutup konser.

Di akhir konser, Kevin melambaikan tangan dan dari gerakan mulutnya berkata “thank you”. Tidak ada encore dan selesai. Thats it... Damn!! Sepertinya saya ingin terus berada disana dan masih ingin terus mendengarkan 10 lagu lagi sampai puas. Tapi dengan ini saya harus merasa 'cukup puas'.   

"See you again Kevin, Belinda, Debbie, Colm. We wish you come to Indonesia"

Itulah kalimat yang sangat ingin saya sampaikan ke mereka. Apabila mereka konser di tanah air, saya akan pogo dancing dengan bebas. Ha ha ha ---- sepakat, than! :)). Setelah selesai rasa haus pun tak terelakkan, saya beranjak pergi menuju antrian penukaran drink ticket dengan sekaleng Heineken Beer. 

Selagi mengantri saya teringat pamflet MBV Japan Tour tertempel di beberapa dinding. Saya ingin mencabutnya dan membawa pulang. Kebanyakan penonton sekadar mengambil foto dari pamflet itu. Hemmm, sayangnya, sedikit demi sedikit telah dicabut. Damn, karena saya masih mengantri beer, hanya bisa melihat pamflet yang terus menerus di cabut oleh para fans MBV. Dan begitu pula salah satu tempat pamflet yang di tempel di luar gedung. Saya telat beberapa detik dengan para Oneesan (Japanese women) yang sedang menggulung pamphlet tersebut. 

Yah sudahlah memang bukan rezekinya. Yang membuat saya kagum, para penonton MBV bukan hanya kalangan anak muda, tetapi orang tua yang menurut saya berumur 40 tahunan, bahkan ibu-ibu. Mungkin mereka memang penggemar setia MBV dari jaman 90-an. Dan juga para wanita-wanita yang sering saya lihat datang bergerombol. Persentasi wanita dan laki-kali mungkin 50:50. Sangat wajar apabila tiket langsung sold out dalam waktu beberapa jam.

Well, terima kasih untuk Fauzi Rahman dengan semua informasi tentang MBV di Jepang. Peter yang memberikan saya kesempatan untuk mengisi di blog ini. Thanks Pete, kangen gue manggung lagi bareng band Avenue yang sudah menjadi bagian hidup dalam bershoegaze ria ---- ha ha ha buruan balik, ntar kita bikin acara lagi :))

(Ditulis oleh Fathan Goenandar)
------------------------------------------------

My Bloody Valentine Japan Tour 2013
Extra Stage February 10th @ Studio Coast Shinkiba, Tokyo
Set List
1.    I Only Said 
2.    When You Sleep 
3.    New You 
4.    You Never Should 
5.    Honey Power 
7.    Come In Alone 
8.    Only Shallow 
9.    Thorn 
12. Slow 
13. Soon 


Note: rekaman Audio bakal di upload dalam waktu dekat. Maaf direkam dengan iphone didalam saku celana, jadi kualitasnya sangat jelek.


Fathan Goenandar

Kamis, 29 November 2012

Just For A Day, Lost in the 90's. For Real!

Kira-kira lebih dari sebulan lalu, ruang basement Cafe Mondo dan toko kelontong aneka macam vinyl, High Fidelity berubah menjadi tempat nostalgia langgam lawas di era 90-an. From Britpop till Sarahesque, and yeah, Shoegaze. 



Entah kenapa jika bicara tentang era 90-an, saya selalu bersemangat, khususnya di lanskap musik alternatifnya. Ketika itu band-band alternatif tampak begitu kerennya, seakan representasi dari the coolness of generation x, generasi era segituan, istilahnya. Gara-gara Nirvana, setiap insan remaja dan muda menikmati asupan musik dari tanah Inggris dan Amrik yang memesona, tapi juga adiktif dan 'berbahaya'. Semacam era revolusi musik kedua setelah Beatles, yang tak hanya merubah selera musik mainstream, tetapi juga gaya hidup.

Sensasi masa lalu itu seakan tak pernah putus meski sudah dua dekade. Ketika Coldplay dan The Strokes memukau dunia, diikuti barisan band-band NME dan Pitchfork bermunculan, saya malah seperti tak merasakan greget yang membuat saya menggilai band-band di era 90-an. Yah, itu memang lebih dari sudut pandang saya sendiri. Bagi saya, era 90an tampak lebih keren dan orisinil.

Nah, hal itu saya rasakan sendiri ketika membuat sebuah acara Tribute to 90's Shoegaze, 3 tahun silam. Bejibun orang datang, dan setiap muka mewakili usia dari generasinya masing-masing. Dan hal ini kejadian lagi ketika dua owner High Fidelity mengorganisir sebuah acara bernama Just For A Day, dengan menampilkan enam selektor yang memutar plat hitam favorit mereka, mulai dari era Sarah, Britpop, sampai Shoegaze. Para selektor berinisial, peterlovefuzz, fzbz, kumyka, youthee, deebank, dan bckwrds, menampilkan koleksi shoegazing yang apik, mulai dari Slowdive, Catherine Wheel, Curve, Swervedriver, Chapterhouse, hingga MBV.

Saya ingin berbagi sebuah link blog yang menampilkan pepotoan dari acara tersebut, berikut tulisan dari sang pemilik blog yang juga memotret momen-momen di acara, yang berakhir hingga jam 2 pagi. Sekitar enam jam perjalanan lintas masa lalu yang penuh kesan dan pesan. Pesan bahwa era 90-an tak akan pernah tergantikan oleh kekinian, karena memang begitu adanya, dan spesial.

So, silahkan masuki ruang blog yang beralamat di http://oxaliseveryday.wordpress.com/2012/11/09/just-for-a-day/

Pictured by Oxalis



Sabtu, 26 Mei 2012

DJ BCKWRDS

Butuh satu DJ dan dua pak kardus vinyl untuk meracuni lobi Demajors. Si pelaku beranonim BCKWRDS, dan berhasil memutar kembali arah waktu dengan nostalgia trek-trek lawas di era 90's shoegaze. Ekstasi dan hacep!

DJ BCKWRD
Semalam, di lobi Demajors, berlangsung acara DJ set dari beberapa kolektor vinyl bertajuk 'Sampai Ketemu Lagi! Baba". Saya bersama dua teman sengaja mampir ke acara itu, sambil bertemu dengan beberapa teman lama, dan juga simpati kepada si Baba, orang Jepang yang akan mudik dengan lengan patah akibat dibacok oleh geng motor di Sevel, di Jakarta Pusat.


Syukurlah si Baba yang juga DJ ini baik-baik saja. Acara DJ set untuk Baba pun tetap asyik meski hanya segelintiran saja yang datang, dan umumnya para kolektor dan teman sejawat. Beberapa DJ sudah memulai aksi dengan plat-plat pilihan. Namun seorang DJ memutar trek lagu (lupa nama lagunya) yang tak asing di telinga kami, Spirea-X,  sebuah band shoegaze 90'an yang hanya muncul numpang lewat saat itu, sebuah proyekan singkat dari eks Primal Scream.

Trek-trek berikutnya pun berlanjut dengan, yah, lagu lawas dari skena shoegaze di 90an. Dan kami pun merapat mendekati booth DJ, dan menyadari bahwa si pelaku tak lain teman kami, si gitaris band anti keahlian formal, berinisial A.Y., dengan nama samaran BCKWRDS. Si DJ memutar lagu-lagu gaib mulai dari Breather (Chapterhouse), Deep Seat (Swervedriver), Sweetness and Light (Lush), Feed Me With Your Kisses (MBV), Taste dan Vapour Trail (Ride), sampai Lazarus (Boo Radleys).

TUNED by BCKWRD

Too bad, kami tak sempat merekam penampilan si DJ, tetapi playlist yang diputernya bikin saya puas hati dan berpikir sebuah ide liar tentang sebuah acara DJ set yang khas :) If you know what i mean hehe.. Suatu saat nanti, doakan!

Minggu, 04 Maret 2012

Feeling The Pains of Being Pure At Heart at Jakarta

Didukung dua band pembuka, Polyester Embassy dan White Shoes and The Couple Company, band asal kota New York, The Pains of Being Pure at Heart memukau beberapa ratus pasang mata di Balai Sarbini.

The Pains at Balai Sarbini
Duh, begitu sepinya malam Sabtu, bertanggal 2 Maret itu. Setelah bersalin dari kantor dan siap berangkat menuju Balai Sarbini, tempat dimana Kip Berman cs., sama sekali tak kebayang kalau acara yang diusung CHMBRS ini hanya dipenuhi oleh sekitar 400an orang saja, dari kapasitas ruangan yang bisa menampung 2000an.  Padahal band ini bisa dibilang termasuk menjadi band populer didengar oleh scenester di tanah air.

Jam 7 saya dan teman, Tommy the Drowner, sampai di pintu masuk tempat acara, dan tak ditemui ada keramaian atau sesaknya penonton. Pada saat pintu masuk dibuka pun, pada jam 8-an, tak ada tuh antrian memanjang layaknya sebuah konser musik. Bahkan ketika masuk ke ruang konser, begitu melompong, bahkan saya sampai bisa tiduran saking sepinya.

Dugaan sementara, mungkin karena heboh konser Morrissey di Indonesia yang sudah berkicau sejak minggu kedua Februari, lalu acara Java Jazz (entah yah) bertepatan pada tanggal tersebut, sepertinya telah membunuh momentum konser The Pains of Being Pure at Heart. Mungkin banyak yang memilih tak datang agar bisa membeli tiket Morrissey yang semakin sulit dicari itu. Wallahualam.

Semakin dinginnya ruang konser, dan sepinya penonton tak membunuh niat kami, toh tiket sudah terbeli dan band yang rilisannya via Slumberland ini patut disaksikan. Kapan lagi bisa melihat Kip dengan suara teduhnya, dan Peggy Wang yang cute hehehe...

Polyester Embassy menjadi band pembuka pertama. Band postrock asal Bandung memulai dengan keriuhan efek-efek mereka, dan cabikan bassline yang rough. Sayangnya, kedua ampli dari masing-masing gitaris tampak berebutan siapa yang paling keras dan meraungi ruang konser, bising. Mungkin tak sempat check sound?

White Shoes and the Couple Company tampil selepas Polyester Embassy. What else can i say anymore, they're the best indie band in Indonesia, fuckin class! Sari cs. begitu memikat dan rapih, dan juga piawai dalam merajut keintiman dengan penonton melalui lagu, dan juga Sari sendiri. Bahkan Kip pun mengidolai band ini, dan mengapresiasi band yang lahir dari kampus IKJ saat tampil di atas panggung. Class, and international!

Kip Berman dengan Telecaster-nya
Setelah itu, hadirlah Kip dan gengnya. Dan sekitar 400an orang bergembira dan menikmati lagu-lagu dari kedua album dan B-sides, meski harus merapatkan jaket saking dinginnya Balai Sarbini. Saya lupa lagu-lagu apa saja, tetapi semua lagu mulai dari Contender, Come Saturday, sampai Say No To Love, ditampilkan dengan mengesankan, dan membuat saya terus joget dan lupa umur. Soundsnya tertata rapi dan Kip cs tak terpengaruh dengan jumlah penonton yang tak begitu banyak.

Overall, terlepas dari sepinya penonton, Big Thanks buat CHMBRS dan Revisions untuk menghadirkan band berkelas ini. Two thumbs up!

Thanks for Joan Lumanauw for gave the permissions of concert photos
Thanks for Kip, bisa foto bareng dengan kami :))

Jumat, 21 Oktober 2011

Hoarse Tour 2011

Sebuah tur bertajuk Hoarse Tour 2011, siap melabrak tiga kota dengan penampilan tiga band yang mengusung musik tidak populer dan anti-rock. Bising mengincar Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta.

HOARSE TOUR 2011, begitu kami menyebut rangkaian tur tiga kota ini. SORRA (Bandung) akan menjadi tuan rumah pertama pada tanggal 4 November 2011, disusul oleh BAREFOOD (Jakarta) pada tanggal 5 November 2011, dan ditutup dengan jamuan dari NERVOUS (Yogyakarta) pada tanggal 12 November 2011.



Timeline:
1. Jumat, 4 November 2011
Braga Cafe, Jl. Braga no 15, Bandung
bersama Neowax, Veskil

2. Sabtu, 5 November 2011
Bara Futsal, Jl. Falatehan No.68 Blok M, Jakarta Selatan
bersama Damascus, StrawberryWine

3. Sabtu, 12 November 2011
Wadjah Coffee, Jl. Wahid Hasyim, Condongcatur
bersama Talking Coasty, Anggisluka

Your call. Either way, we welcome you.

===========================================