Tampilkan postingan dengan label Shoegazer Geek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shoegazer Geek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2014

Slowdived with Alvin Yunata

Alvin Yunata menonton Slowdive di Singapura, Lebaran lalu. Membuat iri teman-temannya dengan kehadirannya disana dan foto bersama. Berikut ini adalah wawancara khusus bersama bapak satu anak ini soal nonton Slowdive, semoga bermanfaat dan menginspirasi.

1. Ceritain perkenalan lo dgn musik slowdive dan kesan personal dgn lagu2 mereka?
Kecintaan gue akan musik macam ini adalah ketika kakak kelas gw semasa SMA yang bernama Ajie Gergaji memperkenalkan gw dengan band bernama My Bloody Valentine. Saat itu Ajie memiliki band bernama Live at Pawn yang saat itu membawakan lagu bernuansa hardcore seperti Helmet. Saat bertandang ke rumahnya Ajie (saat itu dia kelas 3) memperdengarkan sebuah kaset bertitel "Loveless" saat itu saya yang masih duduk di kelas 2 SMA tak pernah mendengarkan musik macam itu sebelumnya. Saya pikir ada masalah dengan kasetnya, apakah ini kasetnya rusak? Apakah pitanya sudah aus? Setelah saya mengetok ngetok si rumah kaset ternyata hasilnya tetap sama dan oh memang begini lagunya. Pendek cerita setelah itu pandangan saya akan musik mulai berbeda dan akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan atribut punk, hardcore, metal dll untuk menyelam lebih dalam. Hingga suatu masa saya bertemu dengan Slowdive. Album Souvlaki adalah album pertama yang saya dengar, semasa SMA saya suka sekali dengan keadaan galau, selalu patah hati, tak bisa menjamah cewek2 favorit di sekolah, hingga menjadikan Morrissey sebagai nabi kekelaman saat itu. Dan saat itu Slowdive lah yang menjadi teman di temaram pojokan kamar. Souvlaki benar-benar menjadi jembatan saat itu, "Alison", "Machine Gun", "Here She Comes", "40 Days" hingga "Dagger" menjadi track-track favorit, sampai-sampai seorang kakak sepupu melaporkan hal tersebut pada orang tua saya karena lagu-lagu tersebut disinyalir terlalu kelam dan takut terjadi hal-hal buruk pada saya saat itu.  

2. Koleksi vinyl slowdive yg lo punya? Ada kisah tersendiri?
Koleksi Vinyl Slowdive hanya beberapa saja Just For A Day, Souvlaki, Morningrise EP dan satu kompilasi Blue Day. Untuk mendapatkan first pressing sangat sulit Souvlaki dan Pygmalion harga sudah selangit maka untuk Souvlaki saya hanya membeli yang reissue. Syukur untuk Just For A Day saya bisa mendapatkan vinyl first pressing nya.  


3. Gimana lo bisa dapat tiket slowdive di singapura?
Tuhan memihak pada saya, timbul keraguan ketika tersiar kabar bahwa Slowdive akan mengunjungi Singapore di "peak season", tiket pesawat serba mahal. Keraguan terus menyelimuti saya saat itu namun sebuah pertanda kemudian muncul satu persatu, salah satu yang krusial mendapatkan kabar dari seorang teman seorang manager kondang ternama Satria Ramadhan akan menjual tiket early bird yang ia dapatkan karena dirinya akan memilih untuk pergi ke Fuji Rock Festival. 

4. Persiapan lo utk naik haji slowdive di sana?
Saya kira persiapan saya telah terencana dengan matang, mendapatkan tiket pesawat dari Bandung yang harganya jauh lebih murah dan kebetulan saya akan berlebaran disana juga. Memilih 1 vinyl untuk tandatangan (Just For A Day) karena kalau membawa semua terlalu repot. Satu hari sebelum berangkat saya sudah sampai di Bandung setelah lelah menyetir dari Jakarta dan hari mulai gelap hingga suatu saat saya tersadar kalau passport saya tertinggal di Jakarta! Fuck! Tinggal beberapa jam lagi dan saya harus bertemu dengan rintangan ini. Kembali ke Jakarta pada pukul 12 malam lalu kembali ke Bandung pada pukul 4 subuh dan langsung menuju bandara Husein Sastranegara! 

5. Ceritain detil yg terjadi saat slowdive naik panggung, lagu pertama apa dan yg lo rasain, dan apa ada encore?
Sekitar 2 jam sebelum open gate saya dan dua teman memilih untuk menikmati segelas kopi di area belakang venue karena disana terdapat banyak pilihan restoran. Tiba-tiba mata terpaku pada sesosok mahluk bule keluar dari pintu sebuah mall perasaan tak menentu hingga terbelalak melihat sosok Rachel Goswell diikuti Neil Halstead berjalan dibelakangnya. Lidah ini kelu hanya mampu mengikuti mereka tanpa bisa berkata apa-apa hingga sosok semua personil band masuk ke back stage area. Saat itu kami sangat menyesal karena telah membuang momen secara percuma.
Abis itu kita segera meluncur ke antrian dengan niatan biar bisa nonton di depan, akhirnya setelah mengantri kita masuk dari gerbang semua tampak sederhana gak ada umbul-umbul, gak ada poster gede hanya ada antrian aja. Sesampainya di dalem kita langsung disuguhi lagu-lagu dari Teenage Fanclub, Primal Scream, hingga The Sundays sederetan tracklist 90s.  
Standard ketika pada naek panggung semua mulai berteriak dan bertepuk tangan, awalnya seperti set panggung yang sederhana tapi ketika Slowdive mulai naik panggung ternyata beberapa set lighting bermain cukup membius mereka membuka shownya lewat lagu "Slowdive" diambil dari EP pertama mereka dengan judul yang sama. Dan sekejap, BANG! obat bius mulai beraksi, bulu kuduk merinding, Slowdive berhasil melumpuhkan semua indera saya di awal show-nya. Ini terlalu gila bantuan  permainan lighting seakan membantu Neil dan Rachel cs untuk memaksa semua penonton terhenyak entah ada setan dreampop atau shoegaze mulai bergentayangan. 
Sintingnya mereka membuat repertoir yang sempurna begitu mengalun adil antara track-track dari ketiga album mereka. "Avalyn", "Catch A Breeze" hingga "Crazy For You" membuat saya terbuai. Air mata seperti tak tertahankan hingga akhirnya bendungan itu pun jebol, air mata deras terkucur tepat ketika mereka membuka lagu "Machine Gun". Mereka terus menghajar saya  tanpa henti tanpa banyak basa basi sesekali Neil dan Rachel mengganti gitar mereka masing-masing. Ketika suara Neil muncul sendiri penambahan echo adalah keputusan yang tepat dan ternyata bagian ledakan yang distorsif pun selama ini memang muncul dari raungan gitar Neil. Tidak sedetik pun Slowdive membiarkan saya bernafas track "40 Days" disambung menuju "Morningrise" dan "She Calls" membuat saya menyerah, Slowdive benar-benar menyiksa bathin saya dengan indahnya. Lagu terakhir sebelum encore jatuh pada "Golden Hair" mereka membawakannya dengan sempurna, rasanya saya harus meringis miris bertubi-tubi.
Tetapi sungguh ide brilian ketika Neil deal it with himself to performed "Dagger", bayangkan suara echo dari Neil mendendangkan tipikal lagu seperti ini. Sepertinya nuansa magis ini yang akan tersirat apabila kita melihat perform Neil solo ataupun bersama moniker Mojave 3. Lagu terakhir tentunya the one and only, "Alison" semua ikut menyanyi seperti koor panjang dan diakhiri dengan raungan gulungan fuzz penanda akhir show. Kesimpulannya? Fantastis!!!

6. Apa lo bener2 jadi gegoleran di lantai sambil menatap langit2 plus mata menerawang kosong pas lagu Allison? Kami menagih janji tersebut.
 Ngga sorry banget gw tau lo pada kecewa tapi masalahnya gw berdiri di depan dan ga ada space sama sekali untuk "gogoleran", sekali lagi saya minta maaf.

with Neil Halstead
7. Kan ada after party slowdive, ceritain dong sedikit kayak apa suasananya?
Inget cerita saya ketika sebelum masuk ke gate? Disitu kita menyesal dan merasa kebodohan tingkat akut, satu-satunya harapan adalah datang ke after party. Kalo kalian jeli tertera pada undangan after party WITH Slowdive. Disematkan kata "WITH" disana, ya awalnya saya pun ragu namun ini sepertinya patut dicoba lagian malam masih panjang dan kebetulan didalam rombongan kami berlima ada the birthday boy si Arian13 iya dia memang metalhead sejati tapi dia sejak dahulu memang sangat suka dengan musik shoegaze, jangan salah.
Kami memutuskan untuk pergi ke bar tersebut, ah saya lupa namanya dan malas mencari tahu lagi. Pendek cerita kami sampai ditujuan dan tahukan anda apa yang kami lihat ketika baru saja membuka pintu taxi? Neil fucking Halstead was straight standing in front of the bar with a can of beer. Mengenakan kaos The Stooges warna putih dan topi trucker yang sama ketika dipanggung. Dia seperti orang biasa dengan rokok dimulutnya berbaur dengan semua orang yang sibuk dengan spidol dan kamera. Keringat dingin bercucuran dengan paniknya saya merogoh tas untuk mengeluarkan spidol beserta sleeve vinyl Just For A Day, tidak lupa menyiapkan setting kamera di smartphone.
Ya hanya ada Neil disitu tak nampak personil lainnya sambil gugup saya berusaha setenang mungkin tapi sepertinya saya gagal. Seingat saya, saya hanya bisa chit chat sedikit basa basi katro,
Saya: "Hai Neil boleh saya minta tandatangan dan foto bersama?" 
Neil: "Yeah Sure!"
Saya: "It's been so long almost 20 years waiting for you guys."
Neil: "Wow, nice to heard that."
Saya: "Hei I love you when you built Mojave 3 too, how's a going?"
Neil: "Maybe I'll do some solo project first."
That's it abis itu lidah kembali kelu dan giliran antrian berikutnya.
Tanpa pikir panjang kami segera ke dalam dan benar saja sisa personil ada di pojokan DJ booth namun suasana sedikit berbeda. Antrian tersusun rapih dua orang panitia security berjaga jaga di samping Rachel Goswell yang lagi sibuk melayani para fansnya yang meminta tandatangan dan foto bersama. Persis giliran rombongan kami tiba-tiba security memasang line dan berkata, "Ok enough she needs rest!". What the fuck?!! Kami hanya bisa melongo pasrah dengan memasang tampang "pengemis kelaparan" trik agar panitia atau bahkan para personil mau menerima kami. Beberapa menit kemudian hasilnya, nihil!
Dalam benak saya saat itu adalah mencaci maki sisa personil Slowdive yang sok Inggris keningratan jauh dibandingkan Neil Halstead yang sudah hijrah ke Amerika membuat project Mojave3 yang membuat dia jauh lebih bohemian dan membumi.
Tak lama kemudian mukjizat Tuhan datang kembali pada saya tiba-tiba seorang panitia menghampiri saya dan bertanya apakah itu sleeve vinyl, dan saya jawab ya. Ok kalau begitu kemari saya bantu tapi hanya sleeve vinyl saja karena sekalian dibarengin dengan sleeve vinyl dari sang DJ. Mata saya membelalak seakan tak percaya karena dari rombongan yang tersisa hanya saya seorang yang membawa sleeve vinyl, seraya sang panitia mengambil sleeve vinyl saya dan bertanya mana saja personilnya (helloooooo..... Situ panitia 17an?). Signed! Mission Accomplished!
8. Pasti banyak wajah WNI yah?
Ya banyak tapi ngga sebanyak biasanya mungkin emang momennya kurang pas bagi orang-orang Indonesia karena banyak yang lagi lebaranan. 

9. Pendapat lo dgn makin banyak band shoegaze yg mulai reuni dan mencari nafkah dgn rangkaian tur
Oiya gak apa-apa justru bagus karena saatnya sekarang saya bisa menikmati karena dulu mau nonton aja susah banget deh kayaknya.  
10. Band shoegaze lawas yg lo harap maen di Indonesia? 
Lush dan Boo Radleys (walaupun di era akhir 90an mereka udah gak shoegaze lagi), Medicine, Catherine Wheels, Swervedriver, My Bloody Valentine, Drop Nineteens ah sama lah paling ama lo Pet.... 

11. Lo setuju gak kalo Slowdive dan band2 shoegaze lawas bikin album baru? Apa alasannya?
Ngga, gak perlu soalnya bakal jadi bumerang untungnya formula My Bloody Valentine berhasil. Tapi gw sih gak berharap mereka bikin album baru lah takutnya jadi bumerang merusak esensi kemurnian yang sudah terukir kalo sampai salah langkah. Jadi sebaiknya gak perlu ada album baru cukup tur reuni aja. 



12. Akhir kata, plat Slowdive berttd itu apa bisa dilepas untuk saya? Pakai fasilitas kredit 6 bulan yah.
Kalo lo menyimak cerita gw diatas lo tega bener deh Pet, FUCK YOU PET! HAHAHAHAHA....

follow this dude @spitndroll

Rabu, 11 Januari 2012

Shoegazer Geek: Andi Hans

Selalu santai dan tenang di atas panggung, pria ini dikenal sebagai pendawai gitar utama di band-band menarik seperti C'mon Lennon, Blossom Diary, dan juga band shoegaze ibukota, Whistler Post. Kini, Andi Hans, berbagi pengalaman dan resep meracik kontur sounds yang dieksplorasinya selama ini.

Andi Hans
Gitaris yang telah makan asam garam di banyak band indie di tanah air ini (he had a short stint at the Upstairs in their early days, as their first keyboardist), kini sedang mempersiapkan album perdana dari Whistler Post, dimana dua single mereka turut dirilis gratis di blog ini. Dikenal piawai mengolah karakter sound gitar yang apik dan rapi di atas panggung, Andi Hans berbagi skema routing effects yang selama ini diterapkannya di atas panggung;

Fender Jazzmaster (Japan) -->Boss NS-2 --> Dunlop Cry Baby --> TS 9dx --> Boss HM-2 --> Boss Chorus Ensemble --> Carl Martin Surf Trem Vintage --> Electro Harmonix Stereo Memory Man with Hazarai Looping
 
Additional gears: Ebow, Fender Mustang (Japan/40th Aniversary)

Talking About Noise

Berikut tanya jawab dengan Andi Hans akan petualangannya meracik sound gitar di berbagai band berbeda karakter, taktik simpel menjaga sound gitar di atas panggung, sampai faktor Weezer dan Iyub Sugarstar seperti selalu menghantuinya..(merinding)


1. Seperti apa sih eksplorasi skema efek2 lo, baik di wp maupun pada band-band lo lain sebelumnya, seperti cmon lennon dan blossom diary? 
Di WP eksplorasi skema efek2 gitar gue bisa lebih banyak dibanding band2 sebelom gue seperti di C’mon Lennon dan Blossom Diary. Dan berhubung di WP gue udah mulai rajin menabung, jadi bisa beli efek yang berguna dan bakalan kepake di lagu2nya. Jadi ya pemakaian efek di sesuaikan dengan lagu2 di WP. Skema efek gue di WP itu sama seperti waktu di Blossom Diary di EP About a Poor Boy, gak terlalu Shoegaze banget, jarang juga maenin sound reverb yg berlapis2. Sesekali aja gue maenin sound seperti itu  karena sesuai dan cocok sama lagunya. Di lagu2 WP sound2nya masih bertema British kadang juga bertema Alternative 90an ke wijer2an (baca Weezer2an *band Weezer :ppp) gak deeeng… hahaha

Kalo dulu waktu di C’mon Lennon skema efek gue simple banget cuma ada 1 efek Boss Distorsi disitu, yaitu Boss Turbo Distortion DS-2 . Dan kalo lo pernah dengerin lagu C’mon Lennon – Adiksi. Itu cuma permainan pada saat rekaman aja, efek gue pada saat itu cuma satu. Yaitu Boss DS-2. Tiap kali maenin Adiksi di panggung, lumayan bingung mau miripin sound gitar gue kayak waktu di rekaman adiksi hehehe… akhirnya gue suruh Iyub Sugarstar / Santa Monica maenin dari bawah panggung dan gue tinggal acting maen gitar doang hahahaha (boong lagi deeng)

Di Blossom Diary explorasi skema efek gue mulai naek level, karena sound2 efek juga harus cocok sama lagu2 mereka, jadi harus cermat dalam memilih2 efek dan sound2nya :p. di EP About a Poor Boy sound2nya masih bertema sound2 British, contohnya seperti di lagu About a Poor Boy, dan cuma ada satu lagu dengan sound efek Shoegaze 90an dengan efek reverb digabung sama delay plus chorus seperti di lagu “Four of Us”.

2. Lo memakai memory man plus hazarai, ada alasan dan apa yang bisa diperoleh dengan efek tersebut, ketimbang memory man biasa.
Gue pake memory man plus hazarai itu karena bisa looping. jadi kalo lo pake pilihan looping di efek itu, lo seperti bisa maenin 2 part gitar yg berbeda, yg satu lagi adalah part yg udah lo set dengan nada yg looping berulang2, lalu part yg 1 lagi adalah part yg gue maenin langsung… bingung yah?? Buka youtube aja :p

3. Lo dikenal rapi dan terjaga, dalam sound dan permainan ketika di atas panggung, bahkan di tempat acara dengan ampli kelas tiga hahaha apa sih resep rahasianya hehe baik bersifat teknis maupun non teknis haha kali pake pelet apa :))
resep rahasianya adalaaaah… gak apal kunci2 gitar sama sekali Hehehehe… gue cuma apal kunci gitar c d e f g a b, selebihnya nebak2 nada aja. dan satu lagi resepnya adalah gak pernah ngulik sound2 ampli, gue setting ampli juga selalu nebak2, dan lagi2 gue nyuruh Iyub Sugarstar / Santa Monica buat nyetingin ampli gue hahaha (boong lagi deeeng) . gue cuma setting Low Mid Bass itu ke angka arah jarum jam 12. jadi kalo semuanya udah enak di kuping ya udah tinggal maen aja

4.Efek pertama yang lo punya?
Efek pertama cuma punya Boss Turbo Distortion DS-2

5.Lo memakai gitar fender jazzmaster jepang, bnyk yg komplen soal bridge dan tremolo system yang rada ringkih, ada pengalaman?
betul sekali bung peter… tremolo systemnya suka kendor. karena gue dapet gitarnya juga seken, dan mungkin udah bermasalah dari orang tangan pertamanya. jadi kalo lo gak maenin hati2, abis lo maenin tremolonya lalu gak nyadar steman gitar lo bisa berubah fals. Kalo lo males servis, cara maeninnya gini aja, karena tremolo fender Jazzmaster itu cuma bisa dimaenin dengan menekan tremolo tersebut ke arah dalam, dan ada semacam switch di bagian badan tremolo sistemnya, nah biasanya gue pake switch yg paling depan, jadi pada saat lo maenin handle tremolonya bakalan menahan untuk supaya gerakan tremolonya gak terlalu menekan kedalam, kalo switch yg kearah belakang itu memungkinkan lo untuk menggoyang tremolo lo lebih leluasa lagi sampe2 lo lupa maenin terlalu keras jadinya per di dalem tremolo itu jadi kendor berlebihan.

-----------

Check out his music with Whistler Post at www.myspace.com/whistlerpost 

Senin, 19 Desember 2011

Behind The Noises of Kevin Shields

Loveless kerap disebut sebagai sebuah album alternative yang unik dan orisinil oleh para kritikus musik. Lanskap musik shoegazing diterjemahkan Kevin Shields bersama My Bloody Valentine melalui album ini, dan menginspirasi banyak band lainnya.

Kevin Shields
Rahasia dibalik tekstur keriuhan dan berisik yang berlapis dan artistik dari My Bloody Valentine, hanya ada di benak seorang pria baya bernama Kevin Shields. Begitu banyak band yang berusaha mengulik dan terinspirasi dari inovasinya, mulai dari Asobi Seksu, Nine Inch Nails, hingga U2 sekalipun (on their Achtung Baby's album).

Nah, selamat menikmati parade poto-poto rigs dan effect gear dari Kevin Shields di atas panggung yang terdokumentasikan pada saat reuni MBV pada tiga tahun lalu. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi bagi para gitaris band shoegaze di tanah air :P

Kevin Shields Main Pedal Board
Kevin's Secondary Board
 
Loop Control System and Set List.

Pedal Board for You Made Me Realise's Noises

From Jazz til Jag, You choose..
Amps for Noises

Berhubung pusing dengan rumitnya senjata amunisi Kevin Shields, berikut ter-paste-kan ulasan singkat dari blog Guitar Player, yang juga sama-sama pusing menelaah efek-efek milik pria paruh baya berdarah Irlandia ini... *sigh

Besides the pedals on the floor, there were lots of pedals on top of his rack.
A more or less complete list of Kevin’s pedals (on teh floor) and rack units is:
Pedalboard:
Volume Pedal
Roger Mayer Stone Fuzz
Digitech Whammy
RMC Wah?
Effector 13 Rocket (not Micro Pog as previously stated here. It looked liek one from teh distance, the white knobs were misleading…)
Effector 13 Truly Beautiful Disaster
MG That’s Echo Folks
Snarling Dogs Mold Spore
Roger Mayer Vision Octavia
Pete Cornish Custom? NG-2?
Ernie Ball Volume
Boss TU-2 Tuner
Mike Hill Services Midi Foot Controller w/ External Mute Switch (for rack effects)
Rack:
Alesis MidiVerb II
Yamaha GEP-50
conditioner
Yamaha SPX-900
Yamaha SPX-90
Alesis MidiVerb II
Mike Hill Services Midi Effect Preset boxes x5
Now…the following AMAZING pics show ALL the FX pedals Kevin Shields brought on tour, including a good look at his rack – God knows if he actually used all of them, but here we go!

A few things we can see:
Ibanez AD-9 Delay (could be Maxon, too); Z-Vex Seek Wah II; Danelectro Back Talk Reverse Delay pedal; Boss PN-2; Boss GE-7 Equalizer; Electro Harmonix Big Muff; Coloursound Fuzz; Boss SD-1; Boss Delay (DD-3?); Boss DD-20 Giga Delay; Coloursound Tremolo; Z-vex Super Hard-On; Z-Vex Tremolo Probe; Dunlop Rotovibe; Tech 21 SansAmp; Electro Harmonix Q-Tron
…and many, many more, that we can’t find out what they are…and we are too tired to find out now!

Some pedals he uses: an old Vox Tonebender; Homebrew Power Screamer Overdrive; Boss DD-6; Boss TW-1 ‘T-Wah’; Digitech JamMan; Boss AW-3 Dynamic Wah; modded Ibanez AD-9 Delay, probably by Keeley (“The stock foot switch operates as a feedback/self oscillation control! Hold the footswitch down and your notes will go into feedback! Just as if you turned the repeat control all the way up, this is great for sustaining notes or adding a bit of craziness to you music, music, music, music, music!”); proving that he’s not a pedal snob, Kevin uses an Electro-Harmonix  Little Big Muff; other Boss pedals include the Dynamic Filter, Acoustic Simulator, two GE-7 Equalizers, another DD-6 Delay, the famed PN-2 Tremolo/Pan and a PS-5 Super Shifter; A few Roger Meyer and Peter Cornish custom pedals; a Z-Vex Box Of Rock; MXR M-109 Graphic EQ and a few other boutique pedals… 
4) Setlist, MIDI Foot controller and A/B Switch. That’s how he controls his beast…teh controler has a “Mike Hill Services” label on it. (http://guitarplayer.wordpress.com)

--------------------------

Newly updated! Jika butuh informasi nama-nama efek-efek di poto-poto di atas, langsung klik ke http://www.effectsbay.com/2011/08/kevin-shields-my-bloody-valentine-pedal-boards/

Kamis, 08 September 2011

Shoegazer Geek: Ajie Gergaji

Judul artikel berseri ini hanya plesetan dari Guitargeek.com, sebuah situs gitaris populer yang menampilkan ulasan rigs effects atau perangkat efek dari gitaris dunia, mulai dari blues, hairy metal, hingga punk sekalipun. Nah, Shoegazer Geek ingin mengulas penjelajahan musikalitas dari para gitaris band shoegaze di Indonesia, dan gitaris yang berkenan berbagi ilmu secara perdana adalah Ajie Gergaji dari Themilo.

Ajie Gergajie
Sosok vokalis dan gitaris dari band Themilo ini bertanggung jawab pada karakter musik Themilo yang meruang dan berlapis. Mantan personil Cherry Bombshell yang juga penggemar Helmet ini baru saja merilis album kedua Themilo yang tertunda begitu lama, bertajuk Photograph. Dibawah ini, skema routing effects milik Ajie, baik di atas panggung maupun studio;

Fender Jaguar'62 --> Rocktron: Noise Suppressor --> Boss: compressor-sustainer --> Marshall: Shred Master --> Boss: Chorus --> Boss: Digital Delay --> Hughes & Kettner: Replex - Analog Delay with Tube --> Fender Twin Reverb / Vox AC30 / Roland Jazz Chorus Amplification.

 Talking about Noises

Berikut interviu singkat bersama Ajie Gergaji tentang proses kreatif olah sounds, pilihan antara analog dan digital, serta kenangan efek pertamanya saat masih di Cherry Bombshell.

1. Apakah ada perbedaan rig effect ketika di album pertama dan kedua Themilo? Kalo iya, seperti apa?
Ada perbedaan. album pertama blom pake Hughes & Kettner: Replex.

2. Marshall Shred Master, ada alasan tertentu memakainya ketimbang efek distorsi lainnya?
Sebelum efek ini dulu saya pake Boss Metal Zone, Distortion dan distorsi dari KORG AX30G multiple fx. Marshall Shred Master bagi saya memiliki overdrive yang nyaman di telinga, mudah pengaturannya dan yang terpenting adalah berkarakter.

3. Ketika masih di Cherry Bombshell, rig effect-nya seperti apa sih?
Serius mau tau rig fx saat di cherbomb? banyak banget! :p --> KORG AX30G Digital Multiple Effect.

4. Proses kreatif olah sound effect menurut elo seharusnya bagaimana? Apa kita harus berburu efek-efek high-end?
Umumnya membaca dari beberapa referensi bacaan utk mendptkan efek yang diinginkan. Tapi bagi saya tidak demikian pada awalnya. Proses kreatif mungkin berbeda pada setiap orang. Kebetulan saya itu lebih MEMANFAATKAN SESUATU YANG ADA/DIMILIKI untuk mendapatkan sesuatu yg saya inginkan. KORG AX30G adalah efek pertama yang saya siksa setiap hari sampai pada akhirnya saya benar-benar paham. Dan pada akhirnya membandingkan antara sistem efek Digital dan Analog untuk memahami kelebihan dan kekurangannya. Saya beralih ke efek Analog dikarenakan saya nyaman dengan itu semua.

5. Ada kabar Themilo bersiap bikin album baru lagi? Kalau iya, apa ada kejutan terbaru (semoga tidak sampai 7 tahun lg)?
Themilo sedang proses pembuatan album ketiga.kejutan? Simak aja pada waktunya nanti :)

 -----

Check out his music and songs with Themilo at http://themiloband.com/ 
or his solo-materials at http://www.myspace.com/ajiegergaji