Selasa, 05 April 2016

Noirless - Indecisive (Single)

Wow! Satu lagi band shoegaze lokal bermunculan, kali ini dari Bandung, namanya Noirless. Dan pastinya tidak noiseless, dan shoegazing as cool as fuck.



Youtuber bernama Ryoka menaruh link lagu dari Noirless di facebook IndonesianShoegazer. Dia ketik 'bandung, euy'. Well, sepertinya ini menarik setelah kemunculan Heals, band shoegaze apalagi yang muncul dari kota ini. Sudah lama tak muncul lagi geliat band shoegaze bandung setelah era band-band maritime records.

pas denger, wow, keren ini. jarang juga denger band semacam ini. single indecisive punya materi yang at least nggak akan bikin kita lupa lagu ini punya siapa. materinya kuat. saya akan nekat saja untuk menyebutkan band ini hampir mirip seperti  sugarstar. hah, sugarstar!? bukan dalam arti negatif, lebih reminding me a lot bout that fuckin great shoegaze band itu aja.

saya akan menanti rilisan fisik Noirless yang terdiri dari Rama Mazaya (Guitar&Vocal) Aryandra Kareem (Guitar&Vocal) Bayu Arifianto (Bass), dan tentu saja aksi live mereka. jika ada yang tahu kabari yah di facebook grup. penasaran. asli.

follow mereka di
https://soundcloud.com/noirless_band
https://twitter.com/noirless_

Sabtu, 02 April 2016

Hellens - Distancia EP Pre Order

Bersama Gerpfast Kolektif, Hellens bersiap merilis EP perdana bertitel Distancia.



Pre order materi digital via bandcamp mereka sudah dibuka beberapa hari lalu. Jika melirik di laman Gerpfast Kolektif, ada dua lagu yang bisa didengar gratis, dari enam lagu yang akan hadir di EP Distancia. Fadeaway dan Losing Distance (old ver.) benar-benar menarik untuk disimak dari band shoegaze asal Tangerang ini. Berasa 90's dan referensi musik mereka tak jauh dari band-band Creation Records dan 4AD. and that's a good thing, always haha

Saya pribadi tak sabar kapan bisa melihat mereka manggung secara live. EP Distancia sendiri juga akan dirilis dalam bentuk kaset, dan akan dirilis pada Records Store Day 2016 nanti, tanggal 16-17 april. Kabarnya sih kalau jadi, untuk di Jakarta, kaset EP Distancia akan dijual di booth Anoa Records pada saat RSD 2016 di Pasar Santa hahahaha :D

Mari kita tunggu!


Heals - Wave (New Single)

Interesting video for their new single, Heals. Single yang patut disimak dari band asal Bandung ini, karena sekarang ada sisi feminin-nya, dengan vokal female melatari Wave. Mari kita tunggu kapankah album penuh mereka akan dirilis oleh ffwd records.




Rabu, 03 Februari 2016

Gazing on Indonesia's Shoegaze Album on 2015

Tahun 2015 berlalu menyisakan beberapa rilisan fisik shoegaze lokal, tahun yang terbilang aktif. Mulai dari rilisan vinyl sampai kaset. Berikut rilisan 2015 yang mengesankan dan telah terekam di blog kesayangan kita semua. Maaf artikelnya gak bisa panjang, rilisan 2015 terbilang banyak. Alasan.

Indonesian Shoegazer Compilation - Holy Noise

Holy Noise

 I dont know, feeling saya mengatakan kalau Holy Noise bisa masuk ke daftar album kompilasi indies lokal yang esensial.(Wastedrockers)



 Reissued Themilo



Overall, rilisan terbaru Let Me Begin plus 4 trek lagu unreleased, menjadi rilisan yang penting untuk dimiliki. Penting karena menjadi awal musik shoegaze di negeri ini.



Elemental Gaze - Elemental

album Elemental patut dimiliki, sebuah album yang dirilis Sorge Records dengan materi yang apik, solid, dan tertata dengan baik. Spacey and gazing, beautiful and noisey. 


Intenna - Helter Skelter

Sebuah album perdana dari band shoegaze kota Malang yang memikat, Intenna telah hadir. Judulnya Helter Skelter, a parade of beautiful noises.



Deasterina - Demo EP

Band baru asal Jakarta bernama Deasterina merilis sebuah demo EP yang patut disimak. Satu lagi shoegazer baru dengan materi yang tak mengecewakan.



Selasa, 22 Desember 2015

Deasterina - Demo EP

Band baru asal Jakarta bernama Deasterina merilis sebuah demo EP yang patut disimak. Satu lagi shoegazer baru dengan materi yang tak mengecewakan.




Belum lama saya mendapatkan satu lagu dari salah satu personil Deasterina, dan menyenangkan juga ada satu band shoegazing baru lagi muncul di Indonesia. Lalu dua lagu lagi terkirim, dan okay, band ini punya sesuatu yang layak untuk dinikmati.

Lahir dari kampus IKJ, dengan nama Babushka, tahun 2013, lalu berganti nama menjadi Deasterina. Musiknya memang condong ke band-band di label 4AD macam Lush dan juga Chapterhouse. Personilnya Ages Bangun - Drums, Timmy Loen - Bass & Vocals, Danny Yuwanda - Gitar, dan Yudhitaprawesti Shah - Vocals.



Ketiga lagu yang mereka rilis dalam EP demo adalah Male & Female, Luminescence, dan damn, satu lagu saya yang bagus imho, Luminescence. Layak jadi single andalan. Coba dengerin di laman soundcloud mereka di https://soundcloud.com/deasterina

Jika kamu mau dapatkan EP-nya, bisa dibeli via instagram Zimpanzu seharga, 35ribu, numbered, hanya 50 keping saja.

Rabu, 25 November 2015

Intenna - Helter Skelter

Sebuah album perdana dari band shoegaze kota Malang yang memikat, Intenna telah hadir. Judulnya Helter Skelter, a parade of beautiful noises.



Akhirnya yang ditunggu sekian lama, album perdana Intenna. Band shoegaze kota Malang ini sudah bikin saya kepincut sejak dapat informasi dari teman tentang keberadaan band ini. Dan selalu senang mendapati band shoegaze tradisional khas 90s seperti mereka.

Album perdana mereka bertitel Helter Skelter. Ada 10 lagu di album ini, termasuk beberapa single mereka seperti Flowery dan Thirst di album split bareng Guttersnipe, dan Memar di kompilasi Indonesian Shoegazer: Holy Noise. Namun beberapa lagu di album ini juga keren banget spt Glimpse, misalnya. Di lagu Lantur, mereka bermain2 dgn lanturan psikedelik.



Personil band ini adalah Oming (vokal), Prastowo, Haidi, Suhaimi, dan Ovan. Beberapa lagu sepertinya tak diisi  suara vokal Oming karena dugaan saya si Oming keburu di Jakarta hahaha Tetapi tak apa sih, sama-sama bagus.

Kalau bicara influence, album ini memang kayak mosaik kontur musik shoegaze 90s. Dan pribadi saya suka album ini. Descent effort from these guys. Segeralah beli album ini, dan mari berharap kita bisa menonton live mereka.

----------------

Selasa, 06 Oktober 2015

Hellens

Kota Tangerang juga memiliki geliat shoegaze yang menarik. Hellens adalah nama band asal Tangerang yang dimaksud. 



Ada dua lagu di soundcloud mereka, berjudul Spacelight dan Losing Distance. Materinya bagus-bagus, mengingatkan pada band-band shoegaze di label Cherry Records jaman dulu, mungkin semacam seperti Blind Mr. Jones, atau Helium asal US.

Menyenangkan juga mendapati masih ada band shoegaze tradisional bermunculan. Sudah lama juga saya tak posting band baru. Hellens bisa jadi gairah baru di scene, dan semoga bisa melihat mereka dipanggung. Nice.

Kunjungi laman soundcloud mereka di https://soundcloud.com/officialhellens

Larasati Nugraha as Vocalist
Ary Gunaryono as Keyboardist
Andrian Garibaldi as Bassist
Satrio Rizky as Lead Guitarist
Igar Ardiansyah as Rhythm Guitarist
Maulana Akbar as Drummer

Sabtu, 29 Agustus 2015

Elemental Gaze - Elemental

Band Nu Gaze yang lahir di kota Bandung, Elemental Gaze, merilis sebuah album yang solid dan meruang. Penantian yang sudah ditunggu begitu lamanya.



Butuh layanan gojek untuk mengantar saya dari kantor di Cisaranten Wetan menuju Lawangwangi di daerah Dago Atas. Memotong jalur utama, lewat taman makam pahlawan Cikutra, terus saja melaju menanjak menghindari macet sore hari Bandung yang hampir mirip Jakarta. Tujuannya? Peluncuran album band Elemental Gaze.

Peluncuran album bandnya Luthfi Kurniadi, Fuad Abdulgani, dan Bilfian Sugiana bikin saya kagum. Diadakan dengan konsep outdoor di taman, dengan latar gemerlap kota Bandung di kala malam. Dan menariknya, meski di hari itu bentrok dengan acara musik lain, yang hadir ternyata banyak, sekitar seratusan. Padahal akses ke cafe Lawangwangi tak ada angkot.



Penampilan Elemental Gaze dengan membawa repertoir dari album terbaru mereka Elemental, dan juga beberapa lagu di luar album, terbilang rapi. Diselingi curcol Fuad yang selalu bikin penonton tertawa, bikin acara ini lebih rileks dan tidak serius-serius amat. Lebih hangat.

Sepulang rumah, saya coba putar album Elemental. Ada 11 lagu dengan beberapa track dibantu oleh teman-teman mereka dari Tiga Pagi dan Slylab. Opening track oleh Aurora, dentingan piano yang berusaha membangun atmosfir album Elemental. Beberapa track yang saya anggap standout adalah track lagu Ngaben, Winching the Night Away (1), dan God Knows Why This Should Be Kept For All Time.

Untuk lagu Ngaben, saya suka dengan cara mereka memadukan nuansa nada-nada khas Bali, dan tidak seperti kebingungan untuk meraciknya menjadi sebuah lagu. Dua vokal dan liriknya bagus. Lalu untuk track God Knows Why This Should Be Kept For All Time, adalah favorit saya, lagu tentang mushroom kalau kata mereka saat peluncuran.

Sementara track instrumental dimana Elemental berbising ria dengan bebasnya, di lagu Winching the Night Away, bisa menjadi trek yang bisa menemani siapapun yang sedang menuju Bandung via tol Cipularang. Beat electric drum dan bass-nya, quite a killer tone di lagu ini.

Overall, album Elemental patut dimiliki, sebuah album yang dirilis Sorge Records dengan materi yang apik, solid, dan tertata dengan baik. Spacey and gazing, beautiful and noisey.

Kamis, 25 Juni 2015

Feeling The Ride With Arian13

Arian13 adalah salah satu dari sejumlah orang di negeri ini yang menonton konser reuni Ride. Singgah di London untuk sebuah festival Metal, vokalis Seringai ini rela beli tiket mahal untuk konser Andy Bell cs.

Ride di Roundhouse
Ironinya mewawancarai orang-orang yang sudah nonton konser band-band shoegaze lawas, adalah ketika elo nggak nonton ha ha ha Ngiri adalah manusiawi, asal tidak dengki. Begitulah ketika saya putuskan meminta Arian13 untuk berbagi cerita tentang konser Ride yang berhasil ia tonton di London.

Arian13 telah dikenal penikmat musik shoegaze. Bagi yang punya kaset kompilasi shoegaze lokal Holy Noise bakal paham jika membaca liner notes yang ditulisnya. Setelah sukses nonton Slowdive, MBV (gue tebak aja sih, tapi pasti udah nonton hahaha), dan akhirnya Ride, pemilik moto #HidupAdalahKonser ini punya kesan tersendiri tentang konser reunian band shoegaze lawas asal Oxford ini.

Silahkan dinikmati!


1. Ceritaain dong awal mula lo berniat nonton Ride yang sekarang sedang tur reunian.
Justru awalnya gue nggak tahu ada konser reuni Ride ini di London, tahunya mereka akan reuni di Primavera Festival di Barcelona, Spanyol. Gue ada jadwal menonton Swans dan Temples Festival di UK, dan ternya ta ketika sedang membeli tiket konser Swans, di venue yang sama ada konser reuni Ride. Excited, tapi pas dicek ternyata tiketnya sudah sold out. Ketika sudah di London, teman kami memberi tahu kalau ada beberapa tiket yang masih available tapi sedikit lebih mahal, dan akhirnya kami beli saja. Dan ternyata di Roundhouse mereka masih menyediakan tiket untuk mereka yang tidak bisa order online walaupun harganya juga lebih mahal daripada harga tiket yang kami beli. Ya akhirnya malam itu kami berhasil menonton Ride.
2. Berapa harga tiket Ride-nya?

Harga tiket yang gue dapat itu 27 pounds, harga aslinya 25 pounds. Harga di venue pas hari H, 30 pounds.

3. Sempat beli merchandise nya Ride gak di lokasi konser?

Iya, beli, tour edition.
 
4. Sejak kapan lo suka Ride, dan apa yang bikin lo suka, secara lo dikenal sebagai penikmat musik keras.

Dari era '90an gue memang sudah mendengarkan musik-musik seperti ini. Indie pop, twee pop, shoegaze dan lainnya selain metal dan punk. Suka musiknya, biasa saja sama fashionnya. Pada dasarnya memang gue suka berbagai musik hanya saja kalau passion gue memang musik metal dan punk rock. Ketika lo mendengarkan Slowdive, Lush, My Bloody Valentine begitu kan pasti akhirnya terkait juga dengan Ride. Dulu pertama dengerin ya album Nowhere, awalnya suka memang dari hitsnya, "Vapour Trail" dan "In A Different Place". Dapet CDnya, tapi nggak ingat dulu beli atau dapat dari mana/siapa.

5. Kesan lo saat nonton live Ride, kayak apa sih? Seberapa epic mereka manggung di depan mata lo.

Malam itu mereka tight sih, tidak seperti band yang sudah lama tidak manggung. Setlist-nya ok, walau ada beberapa lagu yang gue berharap dibawakan tapi ternyata nggak. Durasinya sekitar 1.5 jam, standar lah. Tapi kalau boleh gue bandingkan, kerenan konser Slowdive di Singapura tahun lalu, terutama soundnya. Atau mungkin karena memang gue lebih suka sama Slowdive kali ya. Haha.

6. Penampilan mereka kayaknya rada kalem yah (secara sudah berumur juga sih), bagaimana dengan tingkat kebisingan mereka?

Mereka nggak terlalu bising, kecuali bagian noise-nya sih. Maksudnya, sound systemnya besar dan kencang, tapi bukan kayak bising seperti konser My Bloody Valentine atau Sunn O))). Kalau mereka kalem, bukannya dari dulu live mereka memang kalem ya?
Yang seru itu pas nunggu mereka on stage di teras luar atas di Roundhouse, nampaknya banyak scenester-scenester indie pop London yang reuni, udah pada tua-tua gitu. Nggak kayak konser-konser metal, para old school-nya ini nggak banyak yang pakai tshirt band. Ada sih beberapa yang masih pakai tshirt band atau berdandan cutting edge, tapi nggak banyak. Dan surprisingly nggak banyak anak muda atau juga hipster yang menonton konser reuni Ride. Mungkin mereka hanya muncul di festival-festival musik, sementara kalau waktu itu memang die hard fans-nya Ride saja yang datang.
7. Penuh gak yang nonton konser Ride?

Roundhouse venue besar, dan penuh dan tidak sesak. Sepertinya tidak sold out tiketnya, tapi ya itu, penuh.


8. Kira2 band macam Ride atau Slowdive bisa dibawa gak yah sama promotor lokal hahaha

Kalau event festival gue rasa bisa. Tapi kalau die hard fansnya yang beli tiket hanya 1000-1500 orang.. bad business.
 

9. Moto lo, #HidupAdalahKonser. Ceritain dong soal Hidup Adalah Konser. Sejak kapan lo menjalani 'umroh' ini, konser pertama lo apa, lalu setiap tahun apa lo ada target harus nonton konser?

Sejak gue nonton konser Slayer formasi original di Singapura tahun 2006 nampaknya. Sejak itu sering menyisihkan uang buat nonton konser di luar. Kalau target, mungkin mulai sejak tahun lalu ketika melihat headliners awal Temples Festival dan Hellfest. Akhirnya memberanikan diri berangkat walau hanya sendirian. Tahun depan sih kalau berhasil menabung lagi ingin datang ke Maryland Death Fest di USA. Kalau 'hidup adalah konser' itu lebih ke ungkapan gue untuk mereka yang mengejar passion-nya menonton musik live keluar negeri, mereka yang memang niat banget mengejar menonton band-band favoritnya yang rasanya punya kemungkinan kecil untuk main di Indonesia atau Asia Tenggara.

10. Di sosmed lo sering banget tiba-tiba di luar negeri nonton konser. Kasih dong tips dan trik buat kita-kita (tsah!) bisa merasakan serunya nonton konser di luar negeri hahaha

Tips pertama: rajinlah menabung! Haha. Nggak ada trik sih, kalau sekalian liputan juga rasanya media musik lokal nggak banyak ngasih kemudahan kecuali band/musisinya mainstream. Ya kalau gue sih, nonton konser ke luar itu sekalian traveling. Jarang gue traveling keluar kalau nggak sekalian nonton konser. Memang enaknya sih sekalian pas summer, karena banyak festival kan. Kalau akomodasi bisa diakali sih akan lebih enak dan irit ya. Gue karena nggak mau rugi, akhirnya banyak ke museum juga, apalagi rata-rata gratis kan.

11. Dari berbagai band shoegaze yang reunian, band apa yang menurut lo paling bersyukur telah nontonin, atau berharap bisa reunian?
Slowdive, tentu saja.

Minggu, 07 Juni 2015

Themilo - Serbuk Terbang Telah Sirna

Single terbaru Themilo bakal membuat para pendengar setianya untuk mengernyitkan dahi. Judulnya Serbuk Terbang Telah Sirna, yang baru rilis 6 Juni kemarin.





Perubahan akan terjadi dimanapun, kapanpun, dan pada siapapun. Termasuk Themilo yang kini usianya sudah lebih dari 1 dekade, telah melewati banyak momen kacau seperti saat master album Photograph hilang dari komputer dan memaksa mereka selama 7 tahun kehilangan mood untuk merilis apapun. Kemudian album tersebut rilis, dan momen bahagia ketika rilisan vinyl dan cd Let Me Begin bisa terwujud dengan selamat.

Kebutuhan untuk penyegaran dilakukan oleh Themilo. Serbuk Terbang Telah Sirna adalah perubahan tersebut. Perubahan corak musik yang bakal bikin kaget pendengar die hard Themilo. Lagu ini lebih upbeat, indie 90s, dua hal yang tak ditemui di album Photograph, bahkan di album Let Me Begin. Layer noise ala shoegaze dreampop mulai tak kentara, dan setiap instrumen bisa lebih muncul. Namun sonic landscape tetap membaluti lagu melalui kibor Unyil.

Bagi yang sudah membeli single lagu ini via online atau pada saat Themilo manggung tanggal 6 Juni kemarin tentu membutuhkan waktu untuk mencerna, tetapi bagi saya, lagu ini tetap keren dan patut dinikmati. Lirik Ajie yang mungkin lebih kaya makna dan arti, membuat saya yakin kalau perubahan musik Themilo tak ada yang perlu disesali. Lebih mature, istilahnya.

Bicara perubahan, saya jadi ingat ketika Ride melakukan perubahan musik di album Carnival of Light. Ketika itu para fans mereka syok, meski mendapat review yang lumayan oke, tetapi proses transisi yang tak mulus oleh band, justru menjadi blunder. Apakah Themilo bisa melakukan transisi yang nyaman? Hanya mereka yang bisa menemukan jawabannya. Merilis satu single ini secara online bisa dibilang cara yang baik untuk proses tersebut.

Akhir kata, saya sarankan untuk menikmati perubahan Themilo dengan pikiran terbuka, karena setiap hal butuh perubahan yang menyegarkan. Dan mereka bisa membuktikannya dengan baik dan apik.

--------------------------------

Dapatkan single Serbuk Terbang Telah Sirna IDR 10.000 dengan mengontak mereka di twitter atau di situs mereka >>>> http://themiloband.com/