Minggu, 27 Januari 2013

Album Terbaru My Bloody Valentine?! Tiga Hari Lagi!!



Okey, entah dia hanya bergurau atau betul-betul serius menjawabnya. Sebuah pertanyaan yang bisa dibilang telah menjadi sebuah enigma atau mungkin mitos dari sebuah band yang juga penuh misteri, sebuah album terbaru My Blood Valentine. Dua dekade lamanya, MBV menghilang setelah merilis album Loveless, sebuah album yang bisa disebut sempat menjadi anomali dari tekstur musik alternatif di era 90-an.

Di sela-sela pentas pemanasan di Electric Brixton, Kevin Shields menjawab pertanyaan dari penonton tentang kapan album terbaru MBV akan keluar. Dan dia menjawab, 'maybe in two or three days'

So, kengkawan semuanya, apapun itu, bersiaplah dengan sebuah album terbaru MBV. Penantian selama 21 tahun lamanya akan terbayar, dan apapun dan keren atau tidaknya album itu, i dont give a fuckin care, its MBV, dude!! 

#klik pranala youtube diatas!
-----------------------------
#klik pranala youtube dibawah ini untuk mendengar sebuah materi terbaru MBV, bertitel sementara 'Rough Song'!!!

Senin, 31 Desember 2012

Gazing on Indonesia's Shoegaze Albums in 2012

Ditengah isu kiamat oleh bangsa Maya, skena shoegazing Indonesia masih bertahan dengan kewarasannya untuk meracik kebisingan yang apik didengar. Semakin atraktif dan colorful. Oh, Viva 2012!

Satu tahun enam bulan usia blog ini, dan sepanjang tahun 2012 seperti agak sedikit kalem oleh keriuhan rilisan fisik shoegazing dibandingkan tahun 2011. Beberapa band yang diharapkan bisa merilis materinya pada tahun 2012 seperti Whistler Post, Damascus, ataupun Ansaphone, sepertinya masih berkutat di dapur rekaman mereka masing-masing.

Beberapa band-band baru yang bisa terlacak dan dishare materinya, meski jumlahnya tak sebanyak dua tahun lalu. Beberapa acara musik masih minim, meski mungkin memang dasar frekuensi dan radar kami saja yang rada lemot.

Meski begitu, blog ini masih bisa meriset rilisan-rilisan fisik shoegaze lokal. Kriteria utama tentu haruslah shoegaze dan dreampop. Ada beberapa rilisan yang memadukan dengan sentuhan postrock, ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Dan itu hal yang sulit. Tapi tentu ini adalah pandangan subjektif kami semata.

Dan di tahun 2012, kami mengagumi dua band yang berhasil merilis album yang begitu keren dan tak kalah dengan band luar. Eksplorasi musiknya lebih atraktif dan segar. Materi-materinya tentu saja pekat dan shoegazing dan dreamy, serta layak untuk dibeli.

Dan inilah mereka, sodara-sodara...

"Dan betul, Astrolab mulai menjelajah lebih liar. Jika sebelumnya, fragmentasi sound kental dari band-band dreampop seperti Blueboy ataupun Ocean Blue, kini musik mereka lebih dinamis dan kaya akan sonic sounds dari dreampop dan shoegaze." 


"Album ini siap memuaskan para pecandu hamparan nada-nada meruang, yang telah dirintis oleh TheMilo. Tetapi MVM punya cara mereka sendiri, dan album ini menyenangkan untuk dinikmati siapapun."
---------------------------------
cd dari kedua band ini bisa dibeli dengan mengontak laman facebook mereka, semoga tak kehabisan..

Sekilas rilisan album shoegaze lokal di 2011:

Minggu, 23 Desember 2012

Soundclouding The Ajie Gergaji

Sudut langit Kota Kembang kini memiliki nada dan suara. Menggantung di atap langit, beralamat di https://soundcloud.com/ajiegergaji, dan mengundang siapapun untuk berkolaborasi. Dan bisa diunduh!


Ajie Gergaji berbaju kuning
Betapa ajaibnya abad ini, musik bisa menghantui setiap sudut kaki langit berkat internet. Vokalis Themilo tampak menikmati sekali dunia maya sebagai wahana alternatif untuk idealismenya yang mungkin tak bisa seluruhnya tertampung di bandnya. Membanjir, Ajie memilih bermain nada dan suara di portal musik soundcloud.com.

Konten musiknya pun tampak selalu terupdate dengan lagu-lagu baru. Beberapa trek kolaboratif dan solo masih tetap pekat bernuansa, dreamy dan ambience, kekhasan Ajie di band Themilo. Namun dari semuanya ada dua trek yang bikin saya tergelitik untuk mendengarkannya, 'Ambilkan Bulan Bu' dan 'Linger'-nya The Cranberries.

Souncloud-nya

Well, berikut ini, wawancara santai dengan si empunya laman beralamat di https://soundcloud.com/ajiegergaji, mulai dari soal  kegemarannya berkolaborasi, spek rekaman rumahan a la Ajie Gergaji, kiat jitu Ajie meramaikan laman soundcloud-nya, 'trauma' lelah bikin album, sampai soal-soal lainnya yang mungkin bermanfaat bagi kita semua. 

1. Why soundcloud? 
karena soundcloud bagi gw adalah media teknologi paling berguna, mudah dan asyik utk nyimpen portfolio sekalian sharing denger sm orang banyak. udah gitu bisa dikomen dan diunduh.

2. proses rekaman dari lagu2 tersebut seperti apa? 
proses rekaman sangat2 sederhana. gw buat karya lagu di studio yg lokasinya di rumah. sadsonic labs. digital studio. tinggal ada ide, colok sana, colok sini, controller disana, monitor disini. beres. hehehe.

3. Seluruh instrumen dimainkan Ajie sendiri yah? Spek alat rekam rumah ajie apa aj?
Semua instrumen diisi oleh gw sendiri (saat ini), knp gw pake tanda kurung krn karya selanjutnya melibatkan dua orang musisi. tunggu aja tanggal mainnya. spek alat rekam?? digital studio sangat2 mutakhir dengan teknologi terkini!. gw manfaatin apa yg gw punya aja. laptop macbook white dgn software garage band, reason dan adobe soundbooth, controller dari line6 lalu monitor altec lansing selebihnya pake hybrid instrument: hati, telinga dan jiwa saya sepenuhnya.

4. Tell us about your influences buat lagu2 solo di laman soundcloud? ada perbedaan dg musik Themilo?
 untuk karya2 kolaborasi mungkin berbeda, karena didalam soundcloud gw ada yg gw diajak utk mengisi part gitar, vokal dll. secara utuh adalah karya mereka, jelas berbeda dengan themilo. tetapi secara teknis gw bermain ga ada perbedaan dgn themilo, karena karakter yg telah tercipta mungkin ya. hahaha. ada beberapa temen yg berkomentar lgs via chat bhw lagu yg gw buat sendiri (bkn karya kolaborasi) beberapa msh terdengar spt themilo. gimana dong? hahaha.

5. banyak kolaborasi yah? khusus Yustie, siapakah dia?
gw org yg sangat suka sekali sm kerjasama. sengaja dibuat seperti itu karena gw ingin menghadirkan sesuatu yg beda dari gw bersama themilo. Yustie seorang teman. dia adik kelas gw saat kuliah jaman dulu kala, dia jg seorang vokalis dari band yg telah bubar dan dia adalah seorang guru vokal dadakan. saat jumpa, gw bercakap2 gmn kabar band-nya trus skr ngapain, bla bla bla dan yg gw sayangkan..dia udah lama ga tampil jg bernyanyi. dari situ lah gw tarik dia supaya kembali bernyanyi. skr yusti suka dibawa2 sama themilo jadi additional vocalist.

6. cover version lagu ambilkan bulan, why? hasilnya sih asyik juga hehe; dan Linger, damn!
hahaha ambilkan bulan ya. hmm..gw terinspirasi dari anak gw yg suka nyanyi ambilkan bulan. lagu pengiringnya ceria sekali. gw pikir kenapa ga dibuat psychedelic aja biar semua org di segala usia bisa dengerin lagu yg sangat2 legendaris dan penuh khayalan ini.
khusus linger, sengaja gw meng-cover lagu yg disukai semua org dengan versi gw agar page soundcloud gw dikunjungi banyak org. jadi sedikit berbau mengundang agar bisa dengerin karya2 gw yg lainnya. hehehe.


7. bagi yg mau kolaborasi hubungi anda harus kontak dimana?
 bisa kontak gw: ajiegergaji@themiloband.com

8. ada rencana bikin album solo?
untuk album solo..ternyata gw ga tertarik ngerjain album mulai saat ini. ngerjain album itu berat bgt bagi gw, apalagi dengan pengalaman yg gw alami saat pengerjaan album photograph-nya themilo. gw lebih suka semuanya mengalir begitu aja, karya2 gw yg lahir adalah sesuai dengan mood gw pada saat itu bisa terealisasi. silakan aja org2 untuk membundel karya2 gw yg di share secara gratisan ini.   

9. cmon lennon, white shoes, dan nanti rumahsakit, rilis vinyl. Bagaimana dg themilo?
vinyl themilo? bole juga tuh.
-----------------------------------------------------------

Kamis, 29 November 2012

Just For A Day, Lost in the 90's. For Real!

Kira-kira lebih dari sebulan lalu, ruang basement Cafe Mondo dan toko kelontong aneka macam vinyl, High Fidelity berubah menjadi tempat nostalgia langgam lawas di era 90-an. From Britpop till Sarahesque, and yeah, Shoegaze. 



Entah kenapa jika bicara tentang era 90-an, saya selalu bersemangat, khususnya di lanskap musik alternatifnya. Ketika itu band-band alternatif tampak begitu kerennya, seakan representasi dari the coolness of generation x, generasi era segituan, istilahnya. Gara-gara Nirvana, setiap insan remaja dan muda menikmati asupan musik dari tanah Inggris dan Amrik yang memesona, tapi juga adiktif dan 'berbahaya'. Semacam era revolusi musik kedua setelah Beatles, yang tak hanya merubah selera musik mainstream, tetapi juga gaya hidup.

Sensasi masa lalu itu seakan tak pernah putus meski sudah dua dekade. Ketika Coldplay dan The Strokes memukau dunia, diikuti barisan band-band NME dan Pitchfork bermunculan, saya malah seperti tak merasakan greget yang membuat saya menggilai band-band di era 90-an. Yah, itu memang lebih dari sudut pandang saya sendiri. Bagi saya, era 90an tampak lebih keren dan orisinil.

Nah, hal itu saya rasakan sendiri ketika membuat sebuah acara Tribute to 90's Shoegaze, 3 tahun silam. Bejibun orang datang, dan setiap muka mewakili usia dari generasinya masing-masing. Dan hal ini kejadian lagi ketika dua owner High Fidelity mengorganisir sebuah acara bernama Just For A Day, dengan menampilkan enam selektor yang memutar plat hitam favorit mereka, mulai dari era Sarah, Britpop, sampai Shoegaze. Para selektor berinisial, peterlovefuzz, fzbz, kumyka, youthee, deebank, dan bckwrds, menampilkan koleksi shoegazing yang apik, mulai dari Slowdive, Catherine Wheel, Curve, Swervedriver, Chapterhouse, hingga MBV.

Saya ingin berbagi sebuah link blog yang menampilkan pepotoan dari acara tersebut, berikut tulisan dari sang pemilik blog yang juga memotret momen-momen di acara, yang berakhir hingga jam 2 pagi. Sekitar enam jam perjalanan lintas masa lalu yang penuh kesan dan pesan. Pesan bahwa era 90-an tak akan pernah tergantikan oleh kekinian, karena memang begitu adanya, dan spesial.

So, silahkan masuki ruang blog yang beralamat di http://oxaliseveryday.wordpress.com/2012/11/09/just-for-a-day/

Pictured by Oxalis



Sabtu, 17 November 2012

Yellow Loveless, Salutasi Negeri Sakura

Skena musik alternatif Jepang akan merilis sebuah album penghormatan terhadap My Bloody Valentine, bertajuk Yellow Loveless. Eforia menjelang konser Tokyo Rocks dan album terbaru MBV?

kovernya kuning

Jujur saya betul-betul telat untuk memposting beberapa topik di blog ini dikarenakan aktifitas pekerjaan di divisi promosi tempat saya bekerja yang almost killing my times to write about everything, dull or fascinating. Padahal begitu banyak hal menarik terjadi selama tiga bulan terakhir ini, sebut saja DJ Set Just For a Day di record store Hi Fidelity yang menampilkan beberapa selektor memutar plat hitam koleksi mereka yang berhawa noisepop, dreampop, dan shoegazing, lalu soal rencana album terbaru MBV yang diakui sendiri oleh Kevin Shields, hal yang 'keren bangaattt' kalau kata teman Jepang saya, co-owner dari Hi Fidelity.

Sampai akhirnya sebuah berita dari situs Gigsplay, membuat saya harus segera menuliskan sesuatu di blog ini, yaitu rencana album tribute dari skena musik Jepang untuk MBV, judulnya Yellow Loveless. Pihak label High Fader Records akan menampilkan band-band keren seperti Boris, Shonen Knife, hingga Lemon's Chair untuk membawakan lagu-lagu di album Loveless. Saya suka banget karena roster bandnya lintas genre, bayangin, Shonen Knife, dude!

Shone Knife bakal menguningkan Loveless
Entah apa latar belakang kemunculan album tribut ini, meski saya menduga, kehadiran MBV yang akan menjadi kedua kalinya dalam kurun waktu 4 tahun (kayaknya hehe) di Jepang, kayaknya membuat para fans MBV di sana menjadi begitu bahagia dan bersemangat untuk menghaturkan apresiasi terindah berupa album tribut.

Duh, andai mereka bisa di Indonesia, dan saya berpikir kita di Indonesia, bisa melakukan hal yang sama, sebuah kompilasi album tribute MBV dari Indonesia? Hemm :P saya harus segera membuat meeting terselubung dengan beberapa rekan kompatriot label indie dan per-band-an di skena lokal kita ini...what do you think?

-------------------------------

Setlist yang beredar di internet:

Yellow Loveless track list:
1. "Only Shallow" – 東京酒吐座 (Tokyo Shoegazer)
2. "Loomer" – GOATBED
3. "Touched" – The Sodom Project
4. "To Here Knows When" – Lemon’s Chair
5. "When You Sleep" – 少年ナイフ (Shonen Knife)
6. "I Only Said" – 東京酒吐座 (Tokyo Shoegazer)
7. "Come in Alone" – AGE of PUNK
8. "Sometimes" – Boris
9. "Blown a Wish" – SHINOBU NARITA (4-D Mode1)
10. "What You Want" – Lemon’s Chair
11. "Soon" – SADESPER RECORD

Jumat, 21 September 2012

A.R. Kane: Ketika Duo Afro Merintis Shoegaze Tanpa Niat

Gara-gara bualan memiliki sebuah band, Rudy Tambala mendapati dirinya terseret pada sebuah perjalanan musikalitas yang begitu unik di era 1980-an.


"People expected us to play Reggae. They got a wall of feedback" - Rudy Tambala


Teman saya, eks slacker negeri kiwi yang bernama Zounds72, menge-tag saya pada sebuah artikel dari Guardian, berjudul A.R. Kane: How to Invent Shoegaze Without Trying. Judul yang bikin saya tergelak sendiri karena begitu lucunya, tentang kisah band A.R. Kane, saya rasa (dan berharap) banyak yang sudah kenal dengan band lawas satu ini dari Inggris, salah satu band generasi pertama yang meretas musik shoegaze. Dan artikel ini sungguh menarik dan historikal, bagaimana dua anak muda Afro di Inggris yang 'terjebak' untuk bermain musik dan menjadi inspirasi bagi banyak band shoegaze dan alternatif di kemudian hari. So, saya ingin sekali menyarikan isi artikel tersebut untuk kita semua :)

A.R. Kane

Kisah band ini dimulai dari celetukan ngasal, Rudy Tambala kepada temannya di sebuah pesta. Ia bilang kalau punya sebuah band, padahal tidak ada sama sekali. Bahkan Rudy berpikir bahwa band ini sebenarnya tidak akan pernah ada. Sampai akhirnya, dirinya dan teman sejak SD, Alex Ayuli menemukan sebuah band bernama Cocteau Twins di televisi rumahnya lewat program musik Channel 4, dan segalanya kelak akan berubah. Dua anak afro berambut dreadlock ini terbius..

Pastinya mereka terpukau oleh musik Cocteau Twins, yang tanpa drummer, memaksimalkan tapes dan teknologi sounds saat itu, serta sosok Liz Frazer yang seperti mahkluk dari dunia lain, bersuara malaikat dan bermata besar. Dan suara gitar Robin Guthrie membungkus 'keanehan' tersebut dengan begitu indah dan megah. "That was the Fuck! We could do that," kenang Rudy ketika itu.



Beberapa hari setelah menonton Cocteau Twins, Rudy dan Ayulli bertemu dengan seorang teman perempuan Ayuli di sebuah pesta. Bualan itu pun keluar ketika si teman menanyakan apa kegiatan mereka, dan dijawab Rudy, "Kami ngeband loh". Nama A.R. Kane pun tercetus pada saat itu juga dengan menukil film Citizen Kane dan the Mark of Twain. Ditanya lagi, musiknya seperti apa, Rudy celetuk dengan menjawab nama-nama seperti The Velvet Underground, Cocteau Twins, Miles Davis, dan sedikit Joni Mitchell.

Rudy mengaku sepertinya dirinya saat itu memang sedang lagi mabuk. Tetapi seminggu kemudian mereka ditelepon oleh pihak label One Little Indian. Bualan itu berujung permintaan sebuah demo dan ajakan masuk roster label. Tentu saja, ketika itu tak ada band apalagi satu lagu, bahkan anggotanya sekalipun!

Berbekal ide kasar, Rudy dan Ayuli merekam lagu dengan dua tape kaset, lalu mereka merekam tiap track secara bergantian...serba lo-fi nan irit, dan sebuah materi demo tercipta! Derek Birkett, pendiri One Little Indian dan eks punker di band anarki punk, Flux of Pink Indians, ternyata kesengsem dengan demo mereka, dan pengen ngelihat live dari band yang sesungguhnya belum ada, baru lagu-lagu saja.

Lived in the end of 80's
Ruddy dan Ayuli pun panik! Mereka segera merekrut adik Rudy, Maggie sebagai beking vokal, seorang teman di drum, dan satu teman di bass yang hanya bisa memainkan satu not saja. Di hari ditentukan band serba dadakan ini mengundang sang bos label dan teman-temannya yang begitu menyeramkan karena punker anarki semua. Hanya modal nekat dan latihan selama dua minggu, band bernama A.R. Kane ini diterima masuk label dan siap rekaman.

Menjelang tanda tangan kontrak, Derek mengundang mereka untuk mampir ke kediamannya di London Selatan. Betul-betul kediaman dengan taman yang dihuni oleh teman-teman punk Derek. Mereka diajak ke kamarnya, dan Derek berucap, "gue sekarang punya dua band dan salah satu dari kalian akan menjadi sangat terkenal". Ditangannya ada sebuah foto anak kecil memegang kodok. "Saat itulah pertama kali saya melihat Bjork," kenangnya.

Akhirnya mereka berhasil merilis sebuah EP berjudul When You're Sad, dengan rangkaian promo manggung yang membuat para penonton kebingungan sendiri. "Mereka melihat kami gimbal dan berpikir musik reggae. Namun yang mereka dapatkan hempasan feedback, lalu berpikir pasti kesalahan teknis dan beranjak pergi. Padahal itu adalah musik kami," ujar Rudy yang kini menjadi analis musik digital.

Petualangan musik A.R. Kane pun turut mampir ke pintu label 4AD. Mereka mengirimkan demo berjudul Lolita dan diterima 4AD. Namun lagi-lagi mereka hadir di sebuah label aneh. Jika di label One Little Indians, mereka bertemu dengan bos label eks punker anarki dan gerombolannya yang selalu nongkrong di taman belakang rumah si Derek, di 4AD, mereka berkenalan dengan Vaughan Oliver, bos artistik label, yang setiap minggu selalu menggunduli seluruh karyawan label, bahkan perempuan, dan mengharuskan berbusana hitam. "What the fuck is going on?! They looked Zen, but they were'nt" kata Rudy.

Di label ini, mereka merilis sebuah album mini yang legendaris dan terbaik di awal era acid house music, Pump Up the Volume. A.R. Kane memadukan noise dan feedback, serta dreamy sound dengan beat-beat dari music house yang menghentak. Mungkin mereka adalah pelopornya dan pastinya menginspirasi band-band semacam Curve atau My Bloody Valentine di lagu Soon.

Album bertajuk MARRS ini sukses besar. Menembus penjualan satu juta kopi, dan membuat 4AD terguncang dan kelimpungan karena tak terbiasa menerima pesanan sebanyak itu. Rudy mengisahkan betapa kesuksesan mereka menghancurkan begitu banyak ilusi tentang label 4AD itu sendiri. Namun Rudy melihat album mereka yang berjudul 69 sebagai sebuah album penting bagi dirinya. Di album ini mereka bereksplorasi begitu liar dan bualan itu ternyata menjadi 'sesuatu' yang tak terbayangkan. Dirilis tahun 1988, dimana MBV pun masih wangi nuansa jangly. "Namun dirilisan berikutnya MBV menjadi begitu lebih keren dari kami dan itu menarik," ujar Rudy.

Dua album menyusul dan A.R. Kane pun bubar. Tetapi Rudy begitu bahagia dengan apa yang telah mereka berdua lakoni di masa silam. Tanpa niat, tanpa ambisi. Dan mereka justru meretas sebuah gaya musik yang dinamai oleh para jurnalis musik, yaitu shoegaze. "For a while, Alex and me had that. We were really good. Just listen to those tracks. We piled so many ideas into every fucking songs!" tutupnya. So pasti! (Marr - disarikan dari artikel Guardian)


Kamis, 12 Juli 2012

Millionmars - People and Trees (New Single)

Band dreampop asal Jakarta merilis sebuah single baru. Dreamy, teduh, rileks, manis, dan bebas diunduh!



Orang-orang dan pepohonan. Kira-kira demikian arti harfiah dari single terbaru Millionmars yang bertajuk People and Tree. Bebas diunduh oleh siapapun di laman reverbnation mereka. Kali ini, materi terbaru mereka lebih instrumental dan potensial menjadi trek favorit di playlist. Dreamy, dengan tekstur musik yang lebih asyik dan apik. So, silahkan diunduh masbro!

www.reverbnation.com/millionmars

Senin, 02 Juli 2012

Kevin Shields (My Bloody Valentine) - Interviewing the Loveless



Berikut ini wawancara Kevin Shields di tahun 2000-an di sebuah program musik Irlandia, LastTV. Yah, seputar kisah dibalik lahirnya MBV, soal isu bangkrutnya Creation Records, dan idealisme musik Kevin. Menarik untuk disimak :)

Selasa, 26 Juni 2012

Kolaboratif Ajie Gergaji

Bermanuver solo, Ajie beraksi kembali sambil berkolaborasi. Kali ini Perfect Angel dan Ferry Nurhayat kedapatan giliran bercengkerama dengan ide-ide musik si frontman The Milo ini.

Ajie Gergaji kala remaja (tebak yang mana?!)

Jika anda pernah mampir ke page Ajie di Myspace, ataupun sering ngintip laman gubahan musiknya di soundcloud, tentu akan maklum kalau orang ini kolaboratif. Setelah Bottlesmoker dan Trah Project, kini Perfect Angel di lagu Ruang Hampa, dan kang Ferry Nurhayat di Tanah Sunda. Tanah Sunda menarik perhatian, karena kentara atmosfir nada etnik khas Sunda berbalut elektronik digital.

Saya kurang tahu siapa Ferry ini, dan perannya, apakah sebagai pengolah nuansa digital pada musik lagu tersebut atau apa. Satu lagi,  Ajie juga baru saja menempel lagu Korolev di laman Soundcloud-nya yang seingat saya ada di Myspace-nya. Pokoknya, kreasi pengusaha makanan Ayam Kuning Ciwaregu (haha) ini patutlah untuk disimak.

Ajie Gergaji feat. Ferry Nurhayat - Tanah Sunda
Ajie Gergaji feat. Perfect Angel - Ruang Hampa

----------------
http://myspace.com/ajiegergaji
http://soundcloud.com/ajiegergaji

Senin, 25 Juni 2012

Astrolab @RadioShow_tvOne




Band shoegazing/dreampop, Astrolab hadir di Radioshow, 10 Juni 2012, membawakan lagu-lagu dari album EP terbaru dan juga album perdana mereka. Direkam dan diposting oleh omdjoko. Selamat menikmati live videonya! :)