Band Bandung bernama Heals memantik perhatian melalui single Void. Kejutan kota Bandung yang fresh dan keren.
Jadi saya sudah dikasih tahu sama teman kalau ada band bernama Heals yang patut dicermati, lalu si basis Dental Surf Combat kasih link di grup facebook, dan gitaris Morfem kasih link via whatsapp, sebuah single berjudul Void. Dan keren band asal Bandung ini.
Mendengarkan lagu band yang line up-ya, terdiri dari Aldead (Gitar/Vokal), Eja (Gitar/Vokal), Via (Bass/Vokal), Rara (Gitar) dan Cumi (Drum), jadi teringat My Vitriol, sebuah band seminal shoegaze di era 2000-an. Musik Heals tight dan rapi, isian dan hook2 di lagunya menawan. Saya penasaran dengan album perdana mereka, dan pastinya akan saya beli. Mau tahu musik mereka seperti apa? Dengar saja lagu Void di laman soundcloud mereka.
VOID
Senin, 11 Mei 2015
Senin, 09 Maret 2015
Petisi Datangkan Ride dan Slowdive!
Sebuah petisi online diluncurkan oleh oknum tak dikenal, mengajak masyarakat untuk mendukung sebuah konser Ride dan Slowdive di Indonesia.
klik!
Akhirnya ada yang nggak tahan untuk membuat sebuah petisi online mendatangkan Ride dan Slowdive ke Indonesia. Request yang sebenarnya bakal membuat para promotor berkerut kening mengingat kurang familiar kedua nama band tersebut bagi mereka.
| Ride |
Meski begitu, niat ini semoga bisa bersambut, setelah sempat ada gerakan mendatangkan Jesus and Mary Chain dari Singapura ke Jakarta, namun kandas karena satu hal penuh intrik, lalu juga menghadirkan Slowdive yang sempat ke Singapura namun tak ada yang berani dengan urusan balik modalnya.
Silahkan ikuti petisi online ini, semoga suara kita terdengar oleh para promotor, ketika negeri ini sudah tidak mendengar keluh kesah rakyat jelata. Ya ya ya..
Rabu, 04 Maret 2015
Arian13 - Liner Notes Holy Noise
Tulisan dibawah ini adalah isi dari liner notes kaset kompilasi shoegaze lokal yang ditulis oleh Arian13, vokalis band Seringai. Saya rasa penting untuk diposting di blog ini ketika Arian13 bercerita tentang historis awal keberadaan musik shoegaze dan band-bandnya di Indonesia, termasuk soal band metal dan musik shoegaze!
Fast forward 10 tahun lagi, hari ini.
Yang sedang kalian pegang sekarang adalah sebuah kompilasi shoegaze pertama
dari Indonesia. Kompilasi indie pop cukup banyak, tapi kompilasi yang spesifik mendokumentasikan
band-band shoegaze/dreampop yang signifikan, adalah kaset yang sedang kalian
pegang ini.
Dua
puluh lima tahun lalu, tidak ada scene independen, apalagi scene indiepop atau
shoegaze. Kecenderungan musik di era '90an pada waktu itu adalah metal dan punk
rock yang kerap disebut sebagai musik underground, yang memang secara networking sudah mapan sehingga
eksistensi para band-band ini cenderung lebih 'mudah'.
Besar
di Bandung, saya beruntung mendapat kesempatan melihat Cherry Bombshell formasi
awal dengan vokalis Alexandra Wuisan di penghujung tahun '90an. Karakter vokal
Sandra, begitu membius dan menghanyutkan, sedikit mengingatkan saya kepada
Cocteau Twins. Bersama Alexandra, Cherry Bombshell sempat merilis sebuah mini
album dalam format kaset, 500 keping dan tidak pernah dirilis ulang lagi.
Tidak
lama Alexandra mengundurkan diri, dan membentuk Sieve, yang sayangnya tidak
lama aktif namun saya beruntung mendapatkan rilisan kasetnya, Biara, dan sempat menonton live mereka
beberapa kali. Ketika Sieve eksis, sudah ada band The Milo, yang mengambil
jalur musik yang sedikit berbeda dengan Sieve tapi searah. Sedikit ethereal
dreampop, shoegaze, dengan sentuhan goth.
Frontman/gitaris
The Milo, Ajie Gergaji, dulu merupakan gitaris band metal/alternatif Life At
Pawn, dimana drummernya, Edy Khemod, kini adalah drummer Seringai. Dan
mengingat motor/gitaris Cherry Bombshell, Harry Ajo, juga adalah gitaris
Puppen, saya pikir dulu scene musik underground awal memang cukup openminded. Semangatnya, adalah saling
dukung atau membuat proyek musik yang berbeda dengan musik yang biasa dimainkan,
dalam hal ini metal atau punk rock.
Saya
jadi teringat foto band di album band grindcore Napalm Death Utopia Banished, dimana gitaris Mitch
Harris mengenakan sebuah t-shirt Curve, dan interview Justin Broadrick dari
Napalm Death/Godflesh yang menyebutkan kalau My Bloody Valentine adalah salah
satu musik favoritnya. Pada saat itu, informasi seperti ini adalah mindblowing. Mungkin hal-hal seperti ini
dulu seperti 'mendorong' para musisi underground lokal untuk memproduksi musik
lain diluar metal atau punk rock.
| Justin Broadrick - Napalm Death |
Anyway. Fast forward lima belas tahun
silam di Jakarta, yaitu scene BB's dan Parc, dua bar yang rajin mengadakan
event-event musik non mainstream. Dari The Upstairs, Sajama Cut, That's
Rockafeller, hingga The Sastro. Salah satu yang menyita perhatian saya adalah
ketika menonton Sugarstar. Aransemen dan sound mereka sangat bagus. Band
shoegaze ini sebenarnya sudah eksis sebelum scene BB's dan Parc ada, dan memang
saya pernah mendengar band ini direkomendasikan oleh seorang teman. Membuat
saya bertanya-tanya, di Indonesia sudah sebanyak apa ya scene musik seperti
ini? Dari beberapa kota besar, mungkin ada band-band sejenis, tapi sayangnya
seperti Sugarstar, jarang ada yang akhirnya merilis rekaman dan
terdokumentasikan secara rekaman.
| Sugarstar |
Menakjubkan
mendengarkan satu demi satu sound shoegaze/dreampop yang berbeda. Dari old timers seperti Ajie Gergaji,
Elemental Gaze, Poptart, hingga yang terbaru seperti Seaside dan Treasure
Hiding. Beberapa band malah berisikan pemain-pemain lama! Tetapi tetap saja, exciting. Menyenangkan mendengarkan band
yang membawakan musik yang tidak umum ini. Saya berharap semua band yang ada di
dalam kompilasi ini berhasil merilis album, dan bahkan aktif dalam waktu yang
lama. Masih banyak pekerjaan rumah kita untuk membuat scene ini lebih hidup,
dan tidak ada yang bilang itu sebuah hal yang mudah. Let's go.
-
Arian13, Seringai
Minggu, 11 Januari 2015
Revolution - The Shoegaze Revival
Sebuah kompilasi shoegaze lintas batas kontinen siap hadir di bulan Februari. 30 band dengan tekstur kebisingannya masing-masing, 4 band diantaranya berasal dari Indonesia.
Dunia memang begitu luas. Dan semakin tak ada batasnya ketika internet berhasil mematahkan batasan-batasan teritorial dan geografis. Semua orang bisa berkelana dengan pikiran dan kreatifitasnya. Dan musik menjadi salah satu bentuk yang paling diuntungkannya.
Kompilasi shoegaze internasional berjudul Revolution - The Shoegaze Revival bisa menjadi contoh sempurna. Gerpfast Kolektif dari label Indonesia dan Ear to Ear Records sebuah label dari Inggris bekerjasama untuk mengumpulkan band-band shoegaze/dreampop/blisspop dari seantero dunia yang telah mereka lacak di dunia maya ke dalam satu kompilasi besar tersebut.
Ada 30 band, 4 diantaranya dari Indonesia, yaitu Intenna, Sharesprings, Seaside, dan Damascus. Saya mendengarkan ketigapuluh band tersebut yang telah diposting di bandcamp Ear to Ear Records (klik saja) dan kompilasi ini sangat menarik. Dan sangat berwarna sekali. Dan ini benar-benar kompilasi yang sesuai dengan namanya.
Ada beberapa band yang bikin saya surprise dengan suguhan musik mereka, seperti Ummagma, Clustersun, atau Magao. Coba kalian dengar materi mereka dan pasti setuju bahwa kompilasi ini begitu fresh dan tak membosankan. Alhasil di kompilasi ini kita bisa merasakan sedikit sentuhan khas jangly, madchester, new wave, dan synth; ditengah keriuhan fuzz, delay, dan reverb tentunya.
Informasi di bandcamp menyebutkan bahwa kompilasi ini bakal dirilis pada 11 Februari 2015. Saya berharap akan ada rilisan fisiknya, apakah itu berbentuk CD atau kaset. Kalau Vinyl, wah, pasti bakal sangat luar biasa sekali.
Meski begitu, kompilasi Revolution - The Shoegaze Revival, adalah kompilasi shoegaze yang menurut saya bisa menghadirkan band-band yang tepat untuk genre tersebut. Kita bisa menikmati mosaik kebisingan yang indah dari setiap band, dan bagaimana mereka menerjemahkannya kedalam tekstur musik yang tanpa pretensius.
Keempat band dari Indonesia turut menambahkan warna di kompilasi ini. Blog ini turut memberikan rekomendasi kepada Gerpfast Kolektif terhadap band-band shoegaze Indonesia yang tepat dan menarik untuk hadir di kompilasi.
Beberapa hari lalu saya ikut nobar Beautiful Noise, dan itu dokumenter yang bagus. Kompilasi ini boleh dibilang berhasil mendokumentasikan band-band yang terinspirasi dari band-band lawas di Beautiful Noise dengan baik dan cermat. Kompilasi yang menyenangkan.
Dunia memang begitu luas. Dan semakin tak ada batasnya ketika internet berhasil mematahkan batasan-batasan teritorial dan geografis. Semua orang bisa berkelana dengan pikiran dan kreatifitasnya. Dan musik menjadi salah satu bentuk yang paling diuntungkannya.
Kompilasi shoegaze internasional berjudul Revolution - The Shoegaze Revival bisa menjadi contoh sempurna. Gerpfast Kolektif dari label Indonesia dan Ear to Ear Records sebuah label dari Inggris bekerjasama untuk mengumpulkan band-band shoegaze/dreampop/blisspop dari seantero dunia yang telah mereka lacak di dunia maya ke dalam satu kompilasi besar tersebut.
Ada 30 band, 4 diantaranya dari Indonesia, yaitu Intenna, Sharesprings, Seaside, dan Damascus. Saya mendengarkan ketigapuluh band tersebut yang telah diposting di bandcamp Ear to Ear Records (klik saja) dan kompilasi ini sangat menarik. Dan sangat berwarna sekali. Dan ini benar-benar kompilasi yang sesuai dengan namanya.
Ada beberapa band yang bikin saya surprise dengan suguhan musik mereka, seperti Ummagma, Clustersun, atau Magao. Coba kalian dengar materi mereka dan pasti setuju bahwa kompilasi ini begitu fresh dan tak membosankan. Alhasil di kompilasi ini kita bisa merasakan sedikit sentuhan khas jangly, madchester, new wave, dan synth; ditengah keriuhan fuzz, delay, dan reverb tentunya.
Informasi di bandcamp menyebutkan bahwa kompilasi ini bakal dirilis pada 11 Februari 2015. Saya berharap akan ada rilisan fisiknya, apakah itu berbentuk CD atau kaset. Kalau Vinyl, wah, pasti bakal sangat luar biasa sekali.
Meski begitu, kompilasi Revolution - The Shoegaze Revival, adalah kompilasi shoegaze yang menurut saya bisa menghadirkan band-band yang tepat untuk genre tersebut. Kita bisa menikmati mosaik kebisingan yang indah dari setiap band, dan bagaimana mereka menerjemahkannya kedalam tekstur musik yang tanpa pretensius.
Keempat band dari Indonesia turut menambahkan warna di kompilasi ini. Blog ini turut memberikan rekomendasi kepada Gerpfast Kolektif terhadap band-band shoegaze Indonesia yang tepat dan menarik untuk hadir di kompilasi.
Beberapa hari lalu saya ikut nobar Beautiful Noise, dan itu dokumenter yang bagus. Kompilasi ini boleh dibilang berhasil mendokumentasikan band-band yang terinspirasi dari band-band lawas di Beautiful Noise dengan baik dan cermat. Kompilasi yang menyenangkan.
Minggu, 04 Januari 2015
Gazing on Indonesia's Shoegaze Albums in 2014
Tahun 2014 cukup meriah dengan rilisan yang seru dan menarik dari band-band shoegaze lokal. Mulai dari vinyl, cd, hingga kaset.
Sepanjang tahun lalu, rasanya menjadi tahun yang bagus, band-band shoegaze lokal mulai merilis sesuatu, lalu banyak juga acara-acara musik. Jika di tahun 2013, cuma 3 band saja yang merilis fisik, di 2014 justru cukup ramai. Semoga di tahun 2015 bakal lebih ramai lagi, terlebih akan dirilisnya kompilasi shoegaze lokal Holy Noise oleh Anoa Records, Januari ini.
Tanpa panjang kata, berikut saya persembahkan rilisan-rilisan oke di tahun 2014!
Treasure Hiding - Sang Cahaya EP
Sharesprings - Maydear
Negative Lovers - Faster Lover
Black Mustangs - s/t
Sepanjang tahun lalu, rasanya menjadi tahun yang bagus, band-band shoegaze lokal mulai merilis sesuatu, lalu banyak juga acara-acara musik. Jika di tahun 2013, cuma 3 band saja yang merilis fisik, di 2014 justru cukup ramai. Semoga di tahun 2015 bakal lebih ramai lagi, terlebih akan dirilisnya kompilasi shoegaze lokal Holy Noise oleh Anoa Records, Januari ini.
Tanpa panjang kata, berikut saya persembahkan rilisan-rilisan oke di tahun 2014!
Treasure Hiding - Sang Cahaya EP
![]() |
| kentara sekali pengaruh dari Robin Guthrie dan Cocteau Twins, atau All About Eve. Namun vokal Adel yang female adult pop cukup bikin Treasure Hiding lebih fresh. |
Sharesprings - Maydear
![]() |
| The best single from this band. Insanely beautiful. Charmingly heart-crushing. That's all. |
Negative Lovers - Faster Lover
![]() |
| Faster Lover seperti sebuah sesi orgy antara Nine Inch Nails, Spacemen 3, atau Loop. Parahnya lagi, sang DJ Jags Kooner meremix lagu ini dalam dua versi yang semakin keren. |
Black Mustangs - s/t
![]() |
| "keliaran film dokumenter DIG, ketidak pedulian terhadap kemajuan jaman dan cita-cita, dan juga no future kalau kata Sex Pistols" (Toni BRNDLS). |
Jumat, 12 Desember 2014
Holy Noise, a Compilation of Local Shoegazer
Penutup tahun 2014, Anoa Records bersiap merilis sebuah kompilasi shoegaze lokal yang pertama di Indonesia. Berbentuk kaset dan dirilis terbatas.
Akhirnya, impian sebuah rilisan kompilasi dimana band-band shoegaze, dreampop ataupun blisspop di Indonesia bisa terwujud. Kompilasi yang menampilkan ragam tekstur shoegaze dari band-band lokal, dengan karakter musik memikat. Anoa Records berhasil mengumpulkan band-band tersebut ke dalam satu rilisan, dan IMHO sebuah kompilasi yang wajib didapatkan.
Kurasi dari band-band turut dibantu blog ini, dimana sudah hampir 4 atau 3 tahun, saya ngubek via online atau kabar dari rekan, tentang keberadaan band shoegaze lokal. Sekitar 14 band/artis terkumpul untuk proyek kompilasi berjudul Holy Noise ini.
Ide kompilasi ini sebenarnya sudah ada sejak ketika teman-teman sejawat membuat acara Tribute to 90s Shoegaze, di Maret 2009 silam. Dan ketika sebagian dari mereka kemudian mendirikan label Anoa Records, terwujud juga niat untuk kompilasi tersebut. Kompilasi dimana band-band shoegaze lokal ini bisa dikenal, dan keberadaan musiknya juga dirasakan.
Band-band yang hadir di kompilasi ini sengaja minus Themilo dan Sugarstar, tentu dengan alasan mereka sudah dikenal. Kompilasi Holy Noise ingin menghadirkan kebisingan-kebisingan yang baru, dan tak kalah kerennya. Mereka adalah:
![]() |
| treasure hiding |
![]() |
| mellonyellow |
![]() |
| seaside |
![]() |
| sharesprings |
![]() |
| jellybelly |
![]() |
| intenna |
![]() |
| ajie gergaji |
![]() |
| elemental gaze |
![]() |
| damascus |
![]() |
| black mustangs |
![]() |
| astrolab |
![]() |
| lazysofia |
Dari Jakarta: Mellonyellow, Poptart, Black Mustangs, Sharesprings, Elemental Gaze, Damascus, Treasure Hiding, dan Seaside; Bandung: Astrolab, Lazysofia, Jellybelly, dan Ajie Gergaji, Yogyakarta: Kapsul; dan Malang oleh Intenna.
Komposisinya cukup mewakili gerak-gerik scene shoegaze lokal, meski saya yakin masih banyak yang belum ketahuan. Namun Holy Noise tetap menyajikan suguhan noise yang menarik semisal tweegaze ala Sharesprings dari Jakarta, dreampop/goth-nya Intenna dari Malang ataupun solo karir Ajie Gergaji, frontman Themilo. Belum lagi band Poptart dari Jakarta, shoegazer lawas dan telah lama bubar, berlirik Indonesia yang menurut saya obscured dan keren.
Liner notes dari kompilasi pun oleh Arian13, vokalis Seringai, penyuka shoegazing music pula. Penasaran juga apa yang akan ditulis Arian13 tentang kompilasi Holy Noise dan band-band yang ada didalamnya, Mari kita lihat nanti di Januari 2015 dimana Anoa Records berjanji untuk merilisnya. Semoga benar-benar tepat janji!
Rabu, 01 Oktober 2014
Negative Lovers - Faster Lover EP
Negative Lovers semakin liar dengan Faster Lover EP. Vinyl, Jags Kooner, dan enam track yang akan membuat kita lepas kontrol sesaat. Liar!

Rilisan terbaru dari Negative Lovers bertitel Faster Lover EP, bagi saya betul-betul rekaman fucking bad-ass record! Setelah sebelumnya merilis vinyl dengan musik dan lirik yang lebih gelap, EP terbaru mereka lebih liar dan keren.
Dengan trek single Faster Lover yang cepat dan tanpa basa-basi, band yang diusung Beben dan Toni ini betul-betul bikin saya butuh menonton mereka secara live. Faster Lover seperti sebuah sesi orgy antara Nine Inch Nails, Spacemen 3, atau Loop. Parahnya lagi, sang DJ Jags Kooner meremix lagu ini dalam dua versi yang semakin keren. Saya diberitahu kalau Jags Kooner sangat pemilih untuk meremix lagu, bahkan musisi terkenal sekalipun.
Materi lainnya, juga sudah ada di single unduh mereka di internet seperti Last Sex dan Hit n Run. Sekali lagi Faster Lover EP begitu bagus karena dikelola tata suara oleh Iyub Sinjitos. Semua orang sudah tahu ketika Iyub kasih sentuhan, maka album tersebut akan begitu kerennya.
Problemnya, sudah jadi obrolan ketika band-band yang ditangani Iyub saat mixing dan mastering, kesulitan di atas panggung agar persis seperti di album. Tetapi untungnya Negative Lovers menambah satu gitaris keren bernama Giorgi eks Poptart, yang semakin menebalkan kesan spacey dan noise landscape di atas panggung. Saya sudah nonton live-nya, dan saya langsung lupa soal detil-detil yang berbau Iyub. :))
Akhir kata, Faster Lover EP, cool as FUCK records!

Rilisan terbaru dari Negative Lovers bertitel Faster Lover EP, bagi saya betul-betul rekaman fucking bad-ass record! Setelah sebelumnya merilis vinyl dengan musik dan lirik yang lebih gelap, EP terbaru mereka lebih liar dan keren.
Dengan trek single Faster Lover yang cepat dan tanpa basa-basi, band yang diusung Beben dan Toni ini betul-betul bikin saya butuh menonton mereka secara live. Faster Lover seperti sebuah sesi orgy antara Nine Inch Nails, Spacemen 3, atau Loop. Parahnya lagi, sang DJ Jags Kooner meremix lagu ini dalam dua versi yang semakin keren. Saya diberitahu kalau Jags Kooner sangat pemilih untuk meremix lagu, bahkan musisi terkenal sekalipun.
Materi lainnya, juga sudah ada di single unduh mereka di internet seperti Last Sex dan Hit n Run. Sekali lagi Faster Lover EP begitu bagus karena dikelola tata suara oleh Iyub Sinjitos. Semua orang sudah tahu ketika Iyub kasih sentuhan, maka album tersebut akan begitu kerennya.
Problemnya, sudah jadi obrolan ketika band-band yang ditangani Iyub saat mixing dan mastering, kesulitan di atas panggung agar persis seperti di album. Tetapi untungnya Negative Lovers menambah satu gitaris keren bernama Giorgi eks Poptart, yang semakin menebalkan kesan spacey dan noise landscape di atas panggung. Saya sudah nonton live-nya, dan saya langsung lupa soal detil-detil yang berbau Iyub. :))
Akhir kata, Faster Lover EP, cool as FUCK records!
Senin, 15 September 2014
Black Mustangs on a Limited Cassette
Anoa Records berencana merilis Black Mustangs dalam bentuk kaset dicetak terbatas. Enam materi, 100 keping di Cassette Store Day
Entah apa alasan Anoa Records merilis materi band yang sudah bubar, bahkan bisa dibilang jarang yang mengetahui bahkan melihat live-nya. Label ini merasa musik mereka keren, dan sepertinya merilis dalam bentuk kaset bisa menjadi peluang yang bagus untuk menyambung hidup label pas-pasan tersebut.
Namanya Black Mustangs. rilisan terbaru Anoa Records setelah Barefood dan Seaside. Band ini pernah muncul di salah satu blog ini - artikel - plus satu lagu gratis unduh, Now Is The Time. Ketika itu saya pun belum pernah melihat mereka secara live. Who the hell are they? Lagu yg bisa saya lacak pun hanya itu, kebetulan juga nemu di page facebook mereka.
Bertahun kemudian, akhirnya saya dikasih tahu Beben Negative Lovers bahwa Black Mustangs adalah band adiknya, Joe. Berkenalan, Joe memberi saya dua materi lainnya. Damn good, Black Mustangs seperti anak didik Anton Newcombe yang liar dengan keangkuhan Black Rebel Motorcyle.
Sayangnya, Joe bilang bahwa bandnya keburu bubar karena kesibukan masing-masing personil mencari ijazah di luar negeri. Personil tersisa yg sudah pulang kampung memilih mendirikan band baru bernama Sun Mantra.
Sungguh sayang sekali jika materi mereka menghilang begitu saja. Kebetulan saya juga di Anoa Records, kami segera menawarkan diri untuk merilis dalam bentuk kaset, limited. Syukurnya, Joe bersedia untuk kerjasama ini. Mungkin dia sedikit bingung kalau ada label yang mau merilis materi bandnya yang bubar, bahkan bisa dibilang obscured.
Personil Black Mustangs terdiri dari Dimitri Dompas (vokal, tamborin), Andreas Barhenlando (drum), Jonathan 'Joe' Pardede (bass, vokal), Fritz Adi Nugroho (gitar), Jody Andara (basis), Roberto Bhisma (gitar). Band ini berdiri sejak tahun 2009 dengan pengaruh band-band psikedelik dan shoegaze yang mereka gemari.
Kami menerima enam materi untuk produksi kaset mereka. Saya akhirnya bisa berkenalan dengan sosok musik mereka. Keren! Lagu-lagu seperti Alone, Wild Control, atau Around Us dengan petikan lead ritem yang druggy. Lalu ada lagu Heavens of Hell, featuring vokal feminin, Saphirra Singgih, menjadi favorit saya.
Anoa Records memutuskan untuk merislis kaset bertepatan pada Cassette Store Day, 27 September 2014. Hanya dicetak 100 keping saja, diberi nomor agar tampak terbatas. Dibikinnya pun di Lokananta, Solo. Harganya IDR50.000, dan dijual tak hanya Jakarta, tetapi juga di kota-kota lainnya.
Liner notes ditulis oleh Toni BRNDLS yang berpikir musik mereka: "keliaran film dokumenter DIG, ketidak pedulian terhadap kemajuan jaman dan cita-cita, dan juga no future kalau kata Sex Pistols". Silahkan dirasakan sendiri.
---------------------
Pantau info rilisan kaset ini di timeline twitter: @anoarecords
Soundcloud:
soundcloud.com/anoarecords/black-mustangs-alone
soundcloud.com/black-mustangs
Entah apa alasan Anoa Records merilis materi band yang sudah bubar, bahkan bisa dibilang jarang yang mengetahui bahkan melihat live-nya. Label ini merasa musik mereka keren, dan sepertinya merilis dalam bentuk kaset bisa menjadi peluang yang bagus untuk menyambung hidup label pas-pasan tersebut.
Namanya Black Mustangs. rilisan terbaru Anoa Records setelah Barefood dan Seaside. Band ini pernah muncul di salah satu blog ini - artikel - plus satu lagu gratis unduh, Now Is The Time. Ketika itu saya pun belum pernah melihat mereka secara live. Who the hell are they? Lagu yg bisa saya lacak pun hanya itu, kebetulan juga nemu di page facebook mereka.
Bertahun kemudian, akhirnya saya dikasih tahu Beben Negative Lovers bahwa Black Mustangs adalah band adiknya, Joe. Berkenalan, Joe memberi saya dua materi lainnya. Damn good, Black Mustangs seperti anak didik Anton Newcombe yang liar dengan keangkuhan Black Rebel Motorcyle.
Sayangnya, Joe bilang bahwa bandnya keburu bubar karena kesibukan masing-masing personil mencari ijazah di luar negeri. Personil tersisa yg sudah pulang kampung memilih mendirikan band baru bernama Sun Mantra.
Sungguh sayang sekali jika materi mereka menghilang begitu saja. Kebetulan saya juga di Anoa Records, kami segera menawarkan diri untuk merilis dalam bentuk kaset, limited. Syukurnya, Joe bersedia untuk kerjasama ini. Mungkin dia sedikit bingung kalau ada label yang mau merilis materi bandnya yang bubar, bahkan bisa dibilang obscured.
Personil Black Mustangs terdiri dari Dimitri Dompas (vokal, tamborin), Andreas Barhenlando (drum), Jonathan 'Joe' Pardede (bass, vokal), Fritz Adi Nugroho (gitar), Jody Andara (basis), Roberto Bhisma (gitar). Band ini berdiri sejak tahun 2009 dengan pengaruh band-band psikedelik dan shoegaze yang mereka gemari.
Kami menerima enam materi untuk produksi kaset mereka. Saya akhirnya bisa berkenalan dengan sosok musik mereka. Keren! Lagu-lagu seperti Alone, Wild Control, atau Around Us dengan petikan lead ritem yang druggy. Lalu ada lagu Heavens of Hell, featuring vokal feminin, Saphirra Singgih, menjadi favorit saya.
Anoa Records memutuskan untuk merislis kaset bertepatan pada Cassette Store Day, 27 September 2014. Hanya dicetak 100 keping saja, diberi nomor agar tampak terbatas. Dibikinnya pun di Lokananta, Solo. Harganya IDR50.000, dan dijual tak hanya Jakarta, tetapi juga di kota-kota lainnya.
Liner notes ditulis oleh Toni BRNDLS yang berpikir musik mereka: "keliaran film dokumenter DIG, ketidak pedulian terhadap kemajuan jaman dan cita-cita, dan juga no future kalau kata Sex Pistols". Silahkan dirasakan sendiri.
---------------------
Pantau info rilisan kaset ini di timeline twitter: @anoarecords
Soundcloud:
soundcloud.com/anoarecords/black-mustangs-alone
soundcloud.com/black-mustangs
Rabu, 13 Agustus 2014
Slowdived with Alvin Yunata
Alvin Yunata menonton Slowdive di Singapura, Lebaran lalu. Membuat iri teman-temannya dengan kehadirannya disana dan foto bersama. Berikut ini adalah wawancara khusus bersama bapak satu anak ini soal nonton Slowdive, semoga bermanfaat dan menginspirasi.

1. Ceritain perkenalan lo dgn musik slowdive dan kesan personal dgn lagu2 mereka?
Kecintaan gue akan musik macam ini adalah ketika kakak kelas gw semasa SMA yang bernama Ajie Gergaji memperkenalkan gw dengan band bernama My Bloody Valentine. Saat itu Ajie memiliki band bernama Live at Pawn yang saat itu membawakan lagu bernuansa hardcore seperti Helmet. Saat bertandang ke rumahnya Ajie (saat itu dia kelas 3) memperdengarkan sebuah kaset bertitel "Loveless" saat itu saya yang masih duduk di kelas 2 SMA tak pernah mendengarkan musik macam itu sebelumnya. Saya pikir ada masalah dengan kasetnya, apakah ini kasetnya rusak? Apakah pitanya sudah aus? Setelah saya mengetok ngetok si rumah kaset ternyata hasilnya tetap sama dan oh memang begini lagunya. Pendek cerita setelah itu pandangan saya akan musik mulai berbeda dan akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan atribut punk, hardcore, metal dll untuk menyelam lebih dalam. Hingga suatu masa saya bertemu dengan Slowdive. Album Souvlaki adalah album pertama yang saya dengar, semasa SMA saya suka sekali dengan keadaan galau, selalu patah hati, tak bisa menjamah cewek2 favorit di sekolah, hingga menjadikan Morrissey sebagai nabi kekelaman saat itu. Dan saat itu Slowdive lah yang menjadi teman di temaram pojokan kamar. Souvlaki benar-benar menjadi jembatan saat itu, "Alison", "Machine Gun", "Here She Comes", "40 Days" hingga "Dagger" menjadi track-track favorit, sampai-sampai seorang kakak sepupu melaporkan hal tersebut pada orang tua saya karena lagu-lagu tersebut disinyalir terlalu kelam dan takut terjadi hal-hal buruk pada saya saat itu.
2. Koleksi vinyl slowdive yg lo punya? Ada kisah tersendiri?
Koleksi Vinyl Slowdive hanya beberapa saja Just For A Day, Souvlaki, Morningrise EP dan satu kompilasi Blue Day. Untuk mendapatkan first pressing sangat sulit Souvlaki dan Pygmalion harga sudah selangit maka untuk Souvlaki saya hanya membeli yang reissue. Syukur untuk Just For A Day saya bisa mendapatkan vinyl first pressing nya.
Tuhan memihak pada saya, timbul keraguan ketika tersiar kabar bahwa Slowdive akan mengunjungi Singapore di "peak season", tiket pesawat serba mahal. Keraguan terus menyelimuti saya saat itu namun sebuah pertanda kemudian muncul satu persatu, salah satu yang krusial mendapatkan kabar dari seorang teman seorang manager kondang ternama Satria Ramadhan akan menjual tiket early bird yang ia dapatkan karena dirinya akan memilih untuk pergi ke Fuji Rock Festival.
4. Persiapan lo utk naik haji slowdive di sana?
Saya kira persiapan saya telah terencana dengan matang, mendapatkan tiket pesawat dari Bandung yang harganya jauh lebih murah dan kebetulan saya akan berlebaran disana juga. Memilih 1 vinyl untuk tandatangan (Just For A Day) karena kalau membawa semua terlalu repot. Satu hari sebelum berangkat saya sudah sampai di Bandung setelah lelah menyetir dari Jakarta dan hari mulai gelap hingga suatu saat saya tersadar kalau passport saya tertinggal di Jakarta! Fuck! Tinggal beberapa jam lagi dan saya harus bertemu dengan rintangan ini. Kembali ke Jakarta pada pukul 12 malam lalu kembali ke Bandung pada pukul 4 subuh dan langsung menuju bandara Husein Sastranegara!
5. Ceritain detil yg terjadi saat slowdive naik panggung, lagu pertama apa dan yg lo rasain, dan apa ada encore?
Sekitar 2 jam sebelum open gate saya dan dua teman memilih untuk menikmati segelas kopi di area belakang venue karena disana terdapat banyak pilihan restoran. Tiba-tiba mata terpaku pada sesosok mahluk bule keluar dari pintu sebuah mall perasaan tak menentu hingga terbelalak melihat sosok Rachel Goswell diikuti Neil Halstead berjalan dibelakangnya. Lidah ini kelu hanya mampu mengikuti mereka tanpa bisa berkata apa-apa hingga sosok semua personil band masuk ke back stage area. Saat itu kami sangat menyesal karena telah membuang momen secara percuma.
Abis itu kita segera meluncur ke antrian dengan niatan biar bisa nonton di depan, akhirnya setelah mengantri kita masuk dari gerbang semua tampak sederhana gak ada umbul-umbul, gak ada poster gede hanya ada antrian aja. Sesampainya di dalem kita langsung disuguhi lagu-lagu dari Teenage Fanclub, Primal Scream, hingga The Sundays sederetan tracklist 90s.
Standard ketika pada naek panggung semua mulai berteriak dan bertepuk tangan, awalnya seperti set panggung yang sederhana tapi ketika Slowdive mulai naik panggung ternyata beberapa set lighting bermain cukup membius mereka membuka shownya lewat lagu "Slowdive" diambil dari EP pertama mereka dengan judul yang sama. Dan sekejap, BANG! obat bius mulai beraksi, bulu kuduk merinding, Slowdive berhasil melumpuhkan semua indera saya di awal show-nya. Ini terlalu gila bantuan permainan lighting seakan membantu Neil dan Rachel cs untuk memaksa semua penonton terhenyak entah ada setan dreampop atau shoegaze mulai bergentayangan.
Sintingnya mereka membuat repertoir yang sempurna begitu mengalun adil antara track-track dari ketiga album mereka. "Avalyn", "Catch A Breeze" hingga "Crazy For You" membuat saya terbuai. Air mata seperti tak tertahankan hingga akhirnya bendungan itu pun jebol, air mata deras terkucur tepat ketika mereka membuka lagu "Machine Gun". Mereka terus menghajar saya tanpa henti tanpa banyak basa basi sesekali Neil dan Rachel mengganti gitar mereka masing-masing. Ketika suara Neil muncul sendiri penambahan echo adalah keputusan yang tepat dan ternyata bagian ledakan yang distorsif pun selama ini memang muncul dari raungan gitar Neil. Tidak sedetik pun Slowdive membiarkan saya bernafas track "40 Days" disambung menuju "Morningrise" dan "She Calls" membuat saya menyerah, Slowdive benar-benar menyiksa bathin saya dengan indahnya. Lagu terakhir sebelum encore jatuh pada "Golden Hair" mereka membawakannya dengan sempurna, rasanya saya harus meringis miris bertubi-tubi.
Tetapi sungguh ide brilian ketika Neil deal it with himself to performed "Dagger", bayangkan suara echo dari Neil mendendangkan tipikal lagu seperti ini. Sepertinya nuansa magis ini yang akan tersirat apabila kita melihat perform Neil solo ataupun bersama moniker Mojave 3. Lagu terakhir tentunya the one and only, "Alison" semua ikut menyanyi seperti koor panjang dan diakhiri dengan raungan gulungan fuzz penanda akhir show. Kesimpulannya? Fantastis!!!
6. Apa lo bener2 jadi gegoleran di lantai sambil menatap langit2 plus mata menerawang kosong pas lagu Allison? Kami menagih janji tersebut.
Ngga sorry banget gw tau lo pada kecewa tapi masalahnya gw berdiri di depan dan ga ada space sama sekali untuk "gogoleran", sekali lagi saya minta maaf.
![]() |
| with Neil Halstead |
7. Kan ada after party slowdive, ceritain dong sedikit kayak apa suasananya?
Inget cerita saya ketika sebelum masuk ke gate? Disitu kita menyesal dan merasa kebodohan tingkat akut, satu-satunya harapan adalah datang ke after party. Kalo kalian jeli tertera pada undangan after party WITH Slowdive. Disematkan kata "WITH" disana, ya awalnya saya pun ragu namun ini sepertinya patut dicoba lagian malam masih panjang dan kebetulan didalam rombongan kami berlima ada the birthday boy si Arian13 iya dia memang metalhead sejati tapi dia sejak dahulu memang sangat suka dengan musik shoegaze, jangan salah.
Kami memutuskan untuk pergi ke bar tersebut, ah saya lupa namanya dan malas mencari tahu lagi. Pendek cerita kami sampai ditujuan dan tahukan anda apa yang kami lihat ketika baru saja membuka pintu taxi? Neil fucking Halstead was straight standing in front of the bar with a can of beer. Mengenakan kaos The Stooges warna putih dan topi trucker yang sama ketika dipanggung. Dia seperti orang biasa dengan rokok dimulutnya berbaur dengan semua orang yang sibuk dengan spidol dan kamera. Keringat dingin bercucuran dengan paniknya saya merogoh tas untuk mengeluarkan spidol beserta sleeve vinyl Just For A Day, tidak lupa menyiapkan setting kamera di smartphone.
Ya hanya ada Neil disitu tak nampak personil lainnya sambil gugup saya berusaha setenang mungkin tapi sepertinya saya gagal. Seingat saya, saya hanya bisa chit chat sedikit basa basi katro,
Saya: "Hai Neil boleh saya minta tandatangan dan foto bersama?"
Saya: "Hai Neil boleh saya minta tandatangan dan foto bersama?"
Neil: "Yeah Sure!"
Saya: "It's been so long almost 20 years waiting for you guys."
Neil: "Wow, nice to heard that."
Saya: "Hei I love you when you built Mojave 3 too, how's a going?"
Neil: "Maybe I'll do some solo project first."
That's it abis itu lidah kembali kelu dan giliran antrian berikutnya.
Tanpa pikir panjang kami segera ke dalam dan benar saja sisa personil ada di pojokan DJ booth namun suasana sedikit berbeda. Antrian tersusun rapih dua orang panitia security berjaga jaga di samping Rachel Goswell yang lagi sibuk melayani para fansnya yang meminta tandatangan dan foto bersama. Persis giliran rombongan kami tiba-tiba security memasang line dan berkata, "Ok enough she needs rest!". What the fuck?!! Kami hanya bisa melongo pasrah dengan memasang tampang "pengemis kelaparan" trik agar panitia atau bahkan para personil mau menerima kami. Beberapa menit kemudian hasilnya, nihil!
Dalam benak saya saat itu adalah mencaci maki sisa personil Slowdive yang sok Inggris keningratan jauh dibandingkan Neil Halstead yang sudah hijrah ke Amerika membuat project Mojave3 yang membuat dia jauh lebih bohemian dan membumi.
Tak lama kemudian mukjizat Tuhan datang kembali pada saya tiba-tiba seorang panitia menghampiri saya dan bertanya apakah itu sleeve vinyl, dan saya jawab ya. Ok kalau begitu kemari saya bantu tapi hanya sleeve vinyl saja karena sekalian dibarengin dengan sleeve vinyl dari sang DJ. Mata saya membelalak seakan tak percaya karena dari rombongan yang tersisa hanya saya seorang yang membawa sleeve vinyl, seraya sang panitia mengambil sleeve vinyl saya dan bertanya mana saja personilnya (helloooooo..... Situ panitia 17an?). Signed! Mission Accomplished!
8. Pasti banyak wajah WNI yah?
Ya banyak tapi ngga sebanyak biasanya mungkin emang momennya kurang pas bagi orang-orang Indonesia karena banyak yang lagi lebaranan.
9. Pendapat lo dgn makin banyak band shoegaze yg mulai reuni dan mencari nafkah dgn rangkaian tur
Oiya gak apa-apa justru bagus karena saatnya sekarang saya bisa menikmati karena dulu mau nonton aja susah banget deh kayaknya.
10. Band shoegaze lawas yg lo harap maen di Indonesia?
Lush dan Boo Radleys (walaupun di era akhir 90an mereka udah gak shoegaze lagi), Medicine, Catherine Wheels, Swervedriver, My Bloody Valentine, Drop Nineteens ah sama lah paling ama lo Pet....
11. Lo setuju gak kalo Slowdive dan band2 shoegaze lawas bikin album baru? Apa alasannya?
Ngga, gak perlu soalnya bakal jadi bumerang untungnya formula My Bloody Valentine berhasil. Tapi gw sih gak berharap mereka bikin album baru lah takutnya jadi bumerang merusak esensi kemurnian yang sudah terukir kalo sampai salah langkah. Jadi sebaiknya gak perlu ada album baru cukup tur reuni aja.

12. Akhir kata, plat Slowdive berttd itu apa bisa dilepas untuk saya? Pakai fasilitas kredit 6 bulan yah.
Kalo lo menyimak cerita gw diatas lo tega bener deh Pet, FUCK YOU PET! HAHAHAHAHA....
follow this dude @spitndroll
Selasa, 05 Agustus 2014
Treasure Hiding - Kiss The Sky (Video Clip)
Akhirnya telah dirilis video klip perdana band shoegaze dreampop asal Jakarta, Treasure Hiding, berjudul Kiss the Sky. Syahdu dan ethereal.
Setelah merilis album single 3 lagu dengan harga yang sangat murah, Treasure Hiding melanjutkannya dengan sebuah videoklip untuk single Kiss the Sky. Saya agak telat banget menontonnya justru saat selepas Lebaran. Dan videoklipnya bagus dan selaras dengan atmosfir musik Treasure Hiding yang berkiblat pada teduhnya musik Cocteau Twins.
Sayangnya, sang basis Wilman yang sepertinya sudah tak lagi di band ini, menyisakan hanya tiga personil saja di vidklip tersebut. Pasti bakal bikin tersenyum melihat gaya Wilman dan rambutnya itu :D
Well, semoga album penuhnya dirilis sesegera mungkin. Jadi tonton saja dulu vidklipnya!
Setelah merilis album single 3 lagu dengan harga yang sangat murah, Treasure Hiding melanjutkannya dengan sebuah videoklip untuk single Kiss the Sky. Saya agak telat banget menontonnya justru saat selepas Lebaran. Dan videoklipnya bagus dan selaras dengan atmosfir musik Treasure Hiding yang berkiblat pada teduhnya musik Cocteau Twins.
Sayangnya, sang basis Wilman yang sepertinya sudah tak lagi di band ini, menyisakan hanya tiga personil saja di vidklip tersebut. Pasti bakal bikin tersenyum melihat gaya Wilman dan rambutnya itu :D
Well, semoga album penuhnya dirilis sesegera mungkin. Jadi tonton saja dulu vidklipnya!
Langganan:
Postingan (Atom)





















