Minggu, 15 Desember 2013

Seaside - Undone

Seaside yang hampir terkubur oleh waktu, merilis sebuah album dreampop shoegazing yang begitu intim dan manis. Memikat dan sensual.

Ketika lirik berkelindan dengan tekstur musik, sebuah lagu bisa memberikan impresi yang personal bagi pendengarnya. Hal ini tentu bukan soal mudah dan butuh pertalian kimiawi antara si pembuat lirik dan musiknya. Seperti Morrissey dan Marr, Squire dan Brown, atau Guthrie dan Fraser.

Ketika mendengar materi album Seaside, bertitel Undone, saya melihat betapa urusan meramu musik dan lirik terangkai indah oleh band ini. Kepiawaian Andi Hans dalam meracik kontur musik Seaside dan Stacy dengan lirik puitis berbahasa Inggris yang intimate and passionate. Dengar saja lagu-lagu seperti Blue Star dimana Stacy seperti bermonolog lalu berdialog dengan intim bersama Hans bersama tekstur musik lagu yang temaram.

Seaside - Undone

Jujur, saya betul-betul jatuh hati dengan band ini. Dan akan banyak puja-puji yang akan terlontar dan mungkin akan membuat orang senewen dan jengah. Sebelas materi album Undone begitu tight dan tertata dengan rapi. Hans dengan pengalaman sederetan resume terlibat banyak band, membuktikan betapa bagusnya gitaris satu anak ini. Racikan layer per layer, isian dan lick-lick dari gitarnya tampak sempurna.

Sebut saja single utama Seaside, Giggle and Blush yang manis dengan lirik yang oleh si sutradara videoklip lagu ini dianggap menyimpan kesan sensual.  Lagu Undone, adalah materi dimana saya bisa menemukan kesan kentara dari band-band dari gitaris seperti Robin Guthrie, Neil Halstead, dan Kevin Shields. Plus vokal tipis dan lirik Stacy dari setiap lagu, bagi saya, seorang pelirik lagu yang baik.

Seaside: Cassandra, Stacy, Adi, Hans, Aan

Peran para personilnya tentu tak bisa dilupakan, seperti Cassandra (gitar), Adi (bas) dan Aan (drum). Untuk sebuah band yang hampir bubar dan akhirnya bisa hidup lagi gegara Hans dan Stacy tak sengaja bertemu di sebuah mall dan sama-sama mengingatkan bahwa mereka punya urusan yang belum selesai dengan band yang dahulu dikenal dengan nama Carnaby atau Fawnes.

Sampai lagu terakhir, saya tak menemukan ada materi lagu yang lemah. Penataan urutan lagu-lagu sesuai mood terjaga dengan baik, plus ada beberapa lagu yang menyambung dengan lagu lainnya, menarik sekali. Album ini bagi saya adalah album dreampop shoegazing yang penting dan patut didengarkan.

I have to say, album Undone seperti halnya album Let Me Begin-nya Themilo. Dan band ini (mungkin akan banyak yang tak setuju, tapi ini pendapat saya), adalah proyek band terbaik yang pernah dilakoni Andi Hans. Too many words for an album like Undone, good heaven, those intimates and sweetness in all songs. I adore them!

--------------------------
The album can be bought online via www.gogs-store.com and www.anoarecs.com
IDR50.000,-

Kamis, 28 November 2013

Negative Lovers - Hit n Run (New Single)

Satu lagi single terbaru dari Negative Lovers, Hit n Run. Amunisi bising untuk rilisan EP format vinyl 12'.

Setelah sukses merilis EP format vinyl ukuran 10', band Noisepop asal Jakarta ini kembali beraksi dengan single gress berjudul Hit n Run. Lebih nge-beat dari kedua single sebelumnya, dan berisik khas fuzz dan reverb. Keriuhan di lagu ini seperti band-band inspirasi mereka semacam JMC atau Ride. Musiknya selalu menarik dan pantas untuk didengar. Senang melihat band ini kembali merilis sesuatu, apalagi bentuknya plat hitam.


Dengarkan di link ini!
http://pictureinmyearrecords.bandcamp.com/album/hit-run

Jumat, 04 Oktober 2013

Themilo: Let Me Begin into a Vinyl

Sebuah pesan twitter dari akun Themilo mengusik lini masa followernya dengan tweet band ini berencana merilis ulang album pertama Let Me Begin dalam versi CD dan Vinyl. Sesuatu yang memang seharusnya dihadirkan untuk album tersebut.

Themilo ver.01
Jadi begitulah. Tweet tersebut memastikan rencana untuk rilis ulang Let Me Begin ke dalam versi CD dan Vinyl. Sebelumnya memang hanya versi kaset saja yang juga sempat dirilis dalam versi Re-packaged. Kalaupun ada CD-nya, seinget saya berupa versi bajakan Glodok yang kerap kelihatan di kaki lima tenda.

Album pertama band asal Bandung ini sudah seharusnya dihadirkan dalam format Vinyl. Harapan ini juga sudah tercetus dari beberapa pemadat vinyl, salah satunya saya sendiri. Album ini tak hanya layak, tetapi juga penting bagi para peminat musik shoegaze di skena lokal. Ini adalah album shoegaze yang tak hanya yang pertama, tetapi juga colorful dan referensial.

Let Me Begin bagi saya seperti sebuah album yang unik dan keren. Ajie Gergajie dan rekannya seperti hendak test on the water terhadap para calon pendengarnya.  Kaset album ini menghadirkan dua warna dari musik shoegaze di masing-masing sisi kaset. Side A, tampak fuzzy noise seperti Ride, Adorable, ataupun Boo Radleys - lagu Lolita, Lazy, atau Perfect World. Di side B, begitu dreamy seperti Slowdive dan Cocteau Twins - terlihat di lagu Malaikat, Romantic Purple, atau Yin's Evolving yang sangat indah.

Ketika Ajie pernah memberi saya kaset Ripple setelah manggung bersama Cherry Bombshell, di sebuah kampus Cempaka Putih, lebih dari sepuluh tahun lalu, berisikan lagu Sianida, vokal Alexandra, dan membisiki band ini akan merilis album penuh, saya jadi belajar juga soal musik yang diusungnya ini. Let Me Begin menjadi album yang yang saya bilang sebelumnya, referensial.

Dan akhirnya di album Photograph, Themilo lebih dominan nuansa dreamy dan modulasinya, dan hanya lagu Stethoscope kira-kira mewakili kesan fuzzy. Jujur, saya lebih menyukai album pertama mereka ketimbang album Photograph yang sebenarnya album yang apik. Entah kenapa, bagi saya, Let Me Begin tampak begitu rileks dan spontan. Saya suka kehadiran Alvin Yunata di lagu Lazy.

Sempat berpikir sebelum tweet itu muncul, Themilo suatu saat di sebuah acara akan memainkan seluruh lagu dari Let Me Begin, itu akan menjadi momen yang luar biasa. Tentu saya akan stagediving di setiap lagunya, seperti ketika mereka main di Tribute to 90s Shoegaze, lima tahun silam, dimana blog Wastedrockers berucap untuk pertama kalinya ada stagediving di lagu-lagu Themilo, bahkan semacam Malaikat atau Romantic Purple.

Merilis ulang Let Me Begin dalam cakram hitam 12 inch adalah kejutan yang menyenangkan. Entah siapa yang akan merilisnya, semoga terjadi dan dirilis. Tak ada kabar terindah yang bisa saya harapkan selain hal ini, dan tentu para penggemarnya. Sepertinya bisa menjadi kenyataan.

So i'll say, Let Me Begin into a vinyl, what a descent texture for a great noise landscape album.

---

Kamis, 25 Juli 2013

Reuniting the Shoegazing, Now!

Titik akhir dalam perjalanan, bisa menjadi awal baru. Sejumlah band lawas shoegaze era90an menolak mati dan memilih untuk hidup. Demi uang atau nostalgia?

Teman saya berujar, beberapa tahun silam, "shoegaze telah mati". Begitu katanya sembari memamerkan plat-plat hitam shoegazenya yang begitu keren di meja kantor saya. Ucapan itu memang terlontar ketika revivalis shoegazer dan dreampop belumlah ramai seperti sekarang. Bikin saya terdiam, karena mungkin ada benarnya juga.

Yah, musik ini memang hanya berusia pendek, antara akhir 80 dan awal 90an. Kurang menarik secara berita oleh media, akhirnya terhempas gelombang Britpop pertama yang dimulai Suede. Lalu band-band shoegaze pun ada yang tersingkir, ada pula yang sukses beradaptasi seperti Lush dan Boo Radleys.

Belasan tahun kemudian, setelah beberapa band baru tahun 2000an bermunculan dan menjadi semacam revivalis atau meniru formula musik shoegaze 90an yang penuh layer dan bliss. Dan perlahan tapi pasti, semakin banyak band-band baru, dan akhirnya sejumlah band lawas yang mati suri karena terlindas Britpop tiba-tiba memilih untuk bernafas kembali.

Siapa saja? Well, sebut saja Chapterhouse, kalau gak salah lima tahun lalu,  memulai reuni mereka dengan sebuah tur kecil. Kemudian band Swervedriver mengikuti jejak dengan tampil di sebuah klab kecil. Paling gress, adalah MBV, sepertinya sudah sejak empat tahun lalu, dengan rangkaian tur di Eropa, US dan Jepang. Bonus dari mereka, sebuah album baru dengan kover berwarna ungu. Terakhir, rumor soal reuni Slowdive pun sempat menyengat di dunia maya.

Chapterhouse di usia paru baya
Tidak ada salah soal ini. Ketika atensi terhadap musik shoegaze saat ini jauh lebih semarak ketimbang di era 90-an, dan band-band baru mulai banyak yang memakai pakem keriuhan dan kebisingan dari para seniornya (misal Yuck, Tripwires, atau Ringo Deathstarr), adalah saat yang tepat untuk kembali, having fun, dan menemukan penggemar baru yang mungkin seusia anak-anak mereka. Soal duit, itu bonus tentunya.

Yuck setelah ditinggal vokalis Daniel Blumberg
Dan semua akan kembali pada awal 90an. Saya selalu yakin itu. Era dimana orisinalitas, simplisitas, spontanitas, dan lainnya menjadi begitu kasual dan keren. Ketika fabrikasi label-label besar terhadap musik alternatif belum begitu merajalela. Era ketika kata 'coolness' pada musik begitu terasa efeknya dan apa adanya, itu menurut saya, yah. 

Dan reuni band-band tersebut bisa jadi adalah hal yang baik dan bermanfaat. Mari kita bersyukur dan berharap ada yang bisa nyasar ke negeri ini :P




Negative Lovers on 10'!

.58 Loves Me - 10'
Akhirnya Negative Lovers merilis vinyl single 10' bertitel salah satu single mereka, berjudul .58 Loves Me. Berisi dua lagu, salah satunya lagu b-side berjudul Flooded Eye. Vinyl ini sudah sampai di Indonesia dan siap dipasarkan via beberapa toko musik dan vinyl. Harga dan kapan mulai bisa dibeli bisa kontak dan lihat informasi di laman fesbuk band ini di Negative Lovers. Ayo dibeli!

Review blog ini dari kedua lagu tersebut:
http://indonesianshoegazer.blogspot.com/2013/04/negative-lovers-flooded-eye-new-single.html
http://indonesianshoegazer.blogspot.com/2013/02/negative-lovers-38-loves-me-single.html


Sabtu, 08 Juni 2013

Roommate - Megumi on Fire (Single)

Empat anak muda dari kota kecil menjadi riak anomali di kota mereka. Band mereka, Roommate, baru saja merilis single dreampop shoegaze berjudul Megumi on Fire. 

Roommate
Jujur, tak terlintas di benak ada sebuah band dreampop/shoegaze (purely) bisa muncul dari sebuah kota kecil bernama Probolinggo, Jawa Timur. Bukan merendahkan, hanya saja mungkin sedikit naif saja ketika dunia maya telah menghapus batasan bagi siapapun untuk menikmati musik. Roommate, band asal kota tersebut, membuka mata bahwa ada sebuah gerakan musik yang meruang.

Roomate dihuni oleh Dadik (gitar), Fian (bas), Hafis (drum), dan Ganda (vokal). Teman sepermainan sejak SD, berempat merilis  Megumi on Fire. Ketika mulai banyak band yang meramu musik ethereal dengan sedikit elemen post rock (imho, kalau tidak cermat malah mengganggu), di lagu ini, Roommate tampak nyaman dengan formula  dari band-band yang mereka idolai, seperti Slowdive, M83, dan Sharesprings. Hasilnya, Megumi on Fire begitu simpel namun tetap keren. Tekstur sonic sounds dan ethereal-nya terasa di lagu ini.

Penasaran dan ingin mengunduh lagu tersebut? Silahkan ke page soundcloud mereka di pranala link dibawah ini!
Roommate - Megumi on Fire

laman facebook:
Roommate
twitter:
ROOMMATE_id

Selasa, 14 Mei 2013

Perfect Angel - Wishes

Band asal Bandung ini memilih vakum tanpa batas waktu. Meninggalkan beberapa singel yang terserak di blog ini, Myspace, dan kompilasi label Jepang. Dan muncul link lagu berjudul Wishes hadir di fesbuk. 

Perfect Angel
Jelang makan siang, saya tergelitik untuk mengecek sebuah link lagu dari seorang rekan pendiri Perfect Angel, Arief Norman. Judulnya Wishes, sebuah materi yang ngumpet di laci-laci folder komputer milik pria bergitar kebisingan sonik ini. Wow, jujur, band ini salah satu favorit saya di Bandung, untuk urusan shoegazing sounds. Full of sonic, modulasi, dan fuzziness, kira-kira begitu penerawangan saya dari kontur lagu ini.

Sensasi khas 90's? Sudah pasti, its a bit Sarah's, but from the labels shoegazing legion bands. More intense, but cool as fuck. Materi ini sebenarnya sudah nongol di laman Myspace mereka. Well, lagu ini patut didengarkan siapapun yang mau berkenalan lebih intim dengan genre kesukaan kita semua ini. Dan saya berharap band ini sebaiknya mulai berpikir ulang untuk soal vakum itu. My wishes...

just listen it:
https://soundcloud.com/ariefnorman/wishes-perfect-angel

Rabu, 24 April 2013

Negative Lovers - Flooded Eye (New Single)

Negative Lovers kembali merilis sebuah singel terbaru berjudul Flooded Eye. Nihilisme, trance, dan ekstasi dosis berlebih untuk setiap pendengarnya.


Band ini sempat memancing perhatian saya pada saat era Myspace. Ketika masih bernama Denial, musiknya memang meracik resep musik serba reverb dan fuzz, serba noisy pop khas JMC. Beberapa tahun kemudian, band ini kembali muncul dengan nama berbeda, dan kemasan musik yang lebih heavy, namun bit soft and druggy. Single perdana mereka (bisa dilihat di link ini dan ada unduhannya) , berjudul .38 Loves Me, menjadi kejutan menyenangkan.

Dan kini sebuah singel terbaru berjudul Flooded Eye bikin sore hari saya tampak 'oke' setelah diberi kabar oleh Beben tentang lagu gress ini. Lagi-lagi lagunya sangat druggy, dan buat skena lokal, belum ada sepertinya band yang berani di wilayah musik ini, shoegazy dan nihilistik, seperti yang dilakukan para dedengkot seperti Spectrum, Spacemen 3, ataupun Loop.

Kerennya lagi, Negative Lovers akan segera merilis album perdana mereka pada bulan Juni. Namun rilisan vinyl akan dirilis, berukuran 10' dan dibawah label Picture in My Ear. Mau dengar, lagu terbaru mereka Flooded Eye, via link di bawah ini, silahkan!!

http://pictureinmyearrecords.bandcamp.com/album/negative-lovers-38-loves-me-10

Sabtu, 16 Maret 2013

Breaking News: Deardarkhead Noticed the Blog!



I know it sound cheesy, but i just can't help to post the news :)) damn, Deardarkhead, a legendary shoegazing band from US, tweeted about a blog who compared a local shoegaze band named Cotswolds with them. Cool as "F"!

Jadi follow saja DDH di @deardarkhead

Senin, 04 Maret 2013

Cotswolds - S/T EP

Satu lagi riak dari wilayah Jawa Timur setelah Intenna, band bernama Cotswolds. Dihuni empat arek Suroboyo, dengan suguhan empat lagu demo siap diunduh.


Salah satu rekan berinisial NI menyapa dan memberikan link bandcamp dari Cotswolds. Band yang didirikan pada tahun 2012 ini, pada laman bandcamp mereka menjelaskan pengaruh musik mereka berangkat dari era 70-an dan 90-an. Personilnya sendiri terdiri dari Windrata Faizal (vokal, gitar), Farras Fauzi (drum), Dwiki Putra (gitar), dan Wing Wisesa (bas).

Keempat lagu mereka menarik. Tipikal band-band obscured era akhir 80-an, semacam Deardarkhead dan sejenisnya. Namun beatnya khas post punk. European Ocean, bisa jadi contoh, dikemas dengan vokal yang semerbak wangi reverb. Lagu Fire lebih kerasa banget, begitu juga Plasticity. Keseluruhan, EP yang baik dan patut dinikmati dari skena Surabaya, lebih variatif dan tak melulu harus modulasi. Fuzz dan reverb.

Segera download di Cotswolds EP