Kamis, 23 Februari 2012

Lazy Room

Lazy Room, siap memulaskan kepenatan dengan materi dream pop menawan dari kota Gudeg. Meruang dan meraung, namun penuh santun, berikut link bebas unduh dari mereka.

Lazy Room
Rekan kami di Yogyakarta, Fajar Martha merekomendasikan band ini untuk ditampilkan di blog. Ia memberikan sebuah link soundcloud yang menyimpan tiga materi lagu mereka, berjudul Take Me Home, My Eyes, dan Behind Her. Sekali dengar, kentara sekali kesejukan dream pop yang disuguhi oleh empat pria muda ini. Mereka adalah Eki Idhamayanto (vokal), Catur Idhmayanto (gitar), Zaimmudin Mukarom (bas), dan Derry Ramadhan (drum).

Modulasi, reverb, dan post rocking dalam kadar secukupnya, menghasilkan tiga lagu yang begitu memikat dan tidak berlebihan. - and my fave's, My Eyes :) - Berikut dibawah link soundcloud Lazy Room, berisikan tiga lagu tersebut yang siap diunduh. So, enjoy this nu gaze band from Yogyakarta!

Download Link

Senin, 06 Februari 2012

The Leaky Diamond

Pria bule asal Arkansas, US, ini sempat terdampar di Tangerang, setahunan lalu sebagai guru ekspatriat di sebuah sekolah swasta. Berbekal gitar akustik, ia merekam tujuh lagu di laman myspace yang pekat nuansa dreampop-eklektik yang menghipnotis. Ketujuh lagu itu siap diunduh untuk kita semua!


The Leaky Diamond
Tak sengaja saya menemukan band bernama The Leaky Diamond ini. Itupun ketika sedang pusingnya meriset band-band shoegaze lokal mana lagi yang bisa ditampilkan di blog ini. Sampai pada jumlah laman sekian di 'gugel serc', nama band ini muncul dengan sepotong kalimat sedang mencari personil di Indonesia. Singkat kata, ternyata band ini dihuni oleh bule ekspatriat bernama Casey Grimes yang kebetulan berprofesi sebagai guru.

Menguping materi The Leaky Diamond di Myspace, membuat saya tertarik untuk menampilkannya di blog. Ketujuh materi di Myspace, berkesan akustik, dan arus lembut reverb dan distorsi membungkus suara Casey Grimes yang mirip-mirip vokalis The Veldt, Daniel Chavis dan Suede, Brett Anderson. Musiknya mengingatkan band-band seperti Galaxie500, The Veldt, dan secuil eklektisme Mercury Rev.

Via bertukar pesan di FB, Casey Grimes mengatakan betapa shoegaze menginspirasi musiknya, seperti MBV, Low, Cocteau Twins, The Verve, dan band slowcore, Red House Painters. Pria paruh baya ini juga mengisahkan perjalanan musiknya di negaranya yang sempat tampil di beberapa band pembuka untuk band-band seperti Boo Radleys, Secret Shine, hingga Better than Ezra.

The Leaky Diamond adalah band yang didirikannya sejak 2001 yang awalnya dihuninya berdua bersama seorang pemain biola. Proses musik, mayoritas dilakukannya dengan gitar akustik memanfaatkan efek-efek di Pro-Tools. Hasil dari kreasi musiknya pun terdengar memikat dan patut dinikmati.

Demi mempererat tali silaturahim, Casey mempersilahkan blog ini untuk membagi-file ketujuh lagunya di Myspace kepada para penikmat shoegaze di tanah air. Casey berharap suatu saat kembali ke Indonesia dan bisa tampil di depan skena lokal, let's hope so!


Download Link

Selasa, 17 Januari 2012

Million Mars

Million Mars, menghembuskan keteduhan sejuk musik dream pop, ambient, dan shoegazing di ibukota. Sensasi menarik dari 5 pria ber-KTP Jakarta, dengan antuasiasme dan komposisi musik yang apik. Bonus satu single spesial dari Million Mars untuk kita semua, siap diunduh!



Band dreampop shoegaze asal Jakarta ini berbekal formula yang telah dirintis Robin Guthrie, pelopor musik dreampop. Million Mars meracik lagu-lagu pembuai telinga yang meruang dan berlapis-lapis.

Vokalisasi Trio (guitar/ vokal) yang tipis di setiap lagu, tersapu oleh musik yang bermodulasi dan 'full reverb attack' dari Rendra Okta (guitar), Fajrial Fitriano (bass), Deden Kurniawan (keyboard/synth), dan Andi Wibowo (drum). Pada laman band ini di Reverbnation (http://www.reverbnation.com/millionmars), terdapat beberapa lagu keren seperti Ellen atau Incents, bisa cepat memikat hati pendengar pertamanya.

Kabar terakhir, mereka masih mengumpulkan materi-materi untuk direkam. Jadi, untuk saat ini silahkan dinikmati dulu sebuah lagu dari mereka, Motive of Kite, sebagai perkenalan manis.

Download Link

Rabu, 11 Januari 2012

Shoegazer Geek: Andi Hans

Selalu santai dan tenang di atas panggung, pria ini dikenal sebagai pendawai gitar utama di band-band menarik seperti C'mon Lennon, Blossom Diary, dan juga band shoegaze ibukota, Whistler Post. Kini, Andi Hans, berbagi pengalaman dan resep meracik kontur sounds yang dieksplorasinya selama ini.

Andi Hans
Gitaris yang telah makan asam garam di banyak band indie di tanah air ini (he had a short stint at the Upstairs in their early days, as their first keyboardist), kini sedang mempersiapkan album perdana dari Whistler Post, dimana dua single mereka turut dirilis gratis di blog ini. Dikenal piawai mengolah karakter sound gitar yang apik dan rapi di atas panggung, Andi Hans berbagi skema routing effects yang selama ini diterapkannya di atas panggung;

Fender Jazzmaster (Japan) -->Boss NS-2 --> Dunlop Cry Baby --> TS 9dx --> Boss HM-2 --> Boss Chorus Ensemble --> Carl Martin Surf Trem Vintage --> Electro Harmonix Stereo Memory Man with Hazarai Looping
 
Additional gears: Ebow, Fender Mustang (Japan/40th Aniversary)

Talking About Noise

Berikut tanya jawab dengan Andi Hans akan petualangannya meracik sound gitar di berbagai band berbeda karakter, taktik simpel menjaga sound gitar di atas panggung, sampai faktor Weezer dan Iyub Sugarstar seperti selalu menghantuinya..(merinding)


1. Seperti apa sih eksplorasi skema efek2 lo, baik di wp maupun pada band-band lo lain sebelumnya, seperti cmon lennon dan blossom diary? 
Di WP eksplorasi skema efek2 gitar gue bisa lebih banyak dibanding band2 sebelom gue seperti di C’mon Lennon dan Blossom Diary. Dan berhubung di WP gue udah mulai rajin menabung, jadi bisa beli efek yang berguna dan bakalan kepake di lagu2nya. Jadi ya pemakaian efek di sesuaikan dengan lagu2 di WP. Skema efek gue di WP itu sama seperti waktu di Blossom Diary di EP About a Poor Boy, gak terlalu Shoegaze banget, jarang juga maenin sound reverb yg berlapis2. Sesekali aja gue maenin sound seperti itu  karena sesuai dan cocok sama lagunya. Di lagu2 WP sound2nya masih bertema British kadang juga bertema Alternative 90an ke wijer2an (baca Weezer2an *band Weezer :ppp) gak deeeng… hahaha

Kalo dulu waktu di C’mon Lennon skema efek gue simple banget cuma ada 1 efek Boss Distorsi disitu, yaitu Boss Turbo Distortion DS-2 . Dan kalo lo pernah dengerin lagu C’mon Lennon – Adiksi. Itu cuma permainan pada saat rekaman aja, efek gue pada saat itu cuma satu. Yaitu Boss DS-2. Tiap kali maenin Adiksi di panggung, lumayan bingung mau miripin sound gitar gue kayak waktu di rekaman adiksi hehehe… akhirnya gue suruh Iyub Sugarstar / Santa Monica maenin dari bawah panggung dan gue tinggal acting maen gitar doang hahahaha (boong lagi deeng)

Di Blossom Diary explorasi skema efek gue mulai naek level, karena sound2 efek juga harus cocok sama lagu2 mereka, jadi harus cermat dalam memilih2 efek dan sound2nya :p. di EP About a Poor Boy sound2nya masih bertema sound2 British, contohnya seperti di lagu About a Poor Boy, dan cuma ada satu lagu dengan sound efek Shoegaze 90an dengan efek reverb digabung sama delay plus chorus seperti di lagu “Four of Us”.

2. Lo memakai memory man plus hazarai, ada alasan dan apa yang bisa diperoleh dengan efek tersebut, ketimbang memory man biasa.
Gue pake memory man plus hazarai itu karena bisa looping. jadi kalo lo pake pilihan looping di efek itu, lo seperti bisa maenin 2 part gitar yg berbeda, yg satu lagi adalah part yg udah lo set dengan nada yg looping berulang2, lalu part yg 1 lagi adalah part yg gue maenin langsung… bingung yah?? Buka youtube aja :p

3. Lo dikenal rapi dan terjaga, dalam sound dan permainan ketika di atas panggung, bahkan di tempat acara dengan ampli kelas tiga hahaha apa sih resep rahasianya hehe baik bersifat teknis maupun non teknis haha kali pake pelet apa :))
resep rahasianya adalaaaah… gak apal kunci2 gitar sama sekali Hehehehe… gue cuma apal kunci gitar c d e f g a b, selebihnya nebak2 nada aja. dan satu lagi resepnya adalah gak pernah ngulik sound2 ampli, gue setting ampli juga selalu nebak2, dan lagi2 gue nyuruh Iyub Sugarstar / Santa Monica buat nyetingin ampli gue hahaha (boong lagi deeeng) . gue cuma setting Low Mid Bass itu ke angka arah jarum jam 12. jadi kalo semuanya udah enak di kuping ya udah tinggal maen aja

4.Efek pertama yang lo punya?
Efek pertama cuma punya Boss Turbo Distortion DS-2

5.Lo memakai gitar fender jazzmaster jepang, bnyk yg komplen soal bridge dan tremolo system yang rada ringkih, ada pengalaman?
betul sekali bung peter… tremolo systemnya suka kendor. karena gue dapet gitarnya juga seken, dan mungkin udah bermasalah dari orang tangan pertamanya. jadi kalo lo gak maenin hati2, abis lo maenin tremolonya lalu gak nyadar steman gitar lo bisa berubah fals. Kalo lo males servis, cara maeninnya gini aja, karena tremolo fender Jazzmaster itu cuma bisa dimaenin dengan menekan tremolo tersebut ke arah dalam, dan ada semacam switch di bagian badan tremolo sistemnya, nah biasanya gue pake switch yg paling depan, jadi pada saat lo maenin handle tremolonya bakalan menahan untuk supaya gerakan tremolonya gak terlalu menekan kedalam, kalo switch yg kearah belakang itu memungkinkan lo untuk menggoyang tremolo lo lebih leluasa lagi sampe2 lo lupa maenin terlalu keras jadinya per di dalem tremolo itu jadi kendor berlebihan.

-----------

Check out his music with Whistler Post at www.myspace.com/whistlerpost 

Selasa, 10 Januari 2012

Shoegazing on Peel Session

Sebuah program musik di radio BBC1, Peel Session menjadi acara legendaris yang dikenang sepanjang masa. Diasuh oleh John Peel, pemandu acara dengan selera musik eklektik, berjasa mengangkat pamor band-band shoegaze di era 90-an, tampil live di programnya. 


John Peel
Dari 1967 hingga 2004, selama 37 tahun pria yang ada di poto diatas mengayomi sebuah acara yang bernama Peel Session. Seorang broadcaster legendaris, bersuara hangat, bariton, dan santun setiap kali membawakan program acaranya, yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak muda dari gelombang radio FM.

Peel menjadi broadcaster pertama yang memutar lagu-lagu psikedelik dan progresif di daratan Inggris. Ia  berjasa mempromosikan band-band non mainstream yang ada di AS dan Eropa, dan benua lainnya; apapun itu bandnya, mulai dari pop, reggae, grindcore, grunge, hardcore punk, punk, alternative, dance musik, hip hop, hingga shoegaze.

The Electric Adolescent
Program acaranya dikenal selalu diselingi penampilan live dari band-band. Bisa dikatakan, Peel dan timnya piawai mengolah hasil sound dari penampilan band-band tersebut. Saya tak sengaja membuka Youtube, dan menemukan lagu Curve berjudul Superblaster dan Kitchen of Distinction berjudul Blue Pedal dari Peel Session, begitu apik dan atmosferik, untuk sekelas siaran live di radio era 90-an.

Begitu banyak band shoegaze di era 90-an pernah singgah di studio radio Peel. Ini baru secuil dari sekitar 2000 lebih musisi yang pernah direkam secara live oleh Peel selama masa baktinya. Saking hormatnya, Kevin Shields pernah berucap, 'John Peel was our universe'. Gitaris MBV ini bahkan rela berdiri diluar radio BBC selama 4 jam demi menunggu 'Peelie' -nickname Peel- keluar dari kantor radionya, di tahun 1985.

Peelie, the Ol' Man

Pada 25 October 2004, Peel wafat akibat serangan jantung, saat berusia 65 tahun. Pemakamannya dihadiri oleh ribuan pelayat, diramaikan oleh para musisi dari band-band yang pernah tampil diacaranya. Nisannya bertuliskan "Teenage dreams, so hard to beat", dari sebuah lirik lagu Teenage Kicks, dari The Undertones. Jutaan anak muda, begitu berutang banyak atas pria satu ini.

So, berikut dibawah ini, saya ingin berbagi link rekaman live dari beberapa band shoegaze 90-an yang tampil di Peel Session, selamat menikmati!

Moose at Peel Session 9/6/91

Boo Radleys at Peel Session 30/7/90
My Bloody Valentine at Peel Session 25/9/88
Ride at Peel Session 29/9/90
Curve at Peel Session 10/3/91 & 11/2/92

Selasa, 27 Desember 2011

Lazysofia - Lying Under The Sun


Newsflash:
Lazysofia berencana berkolaborasi dengan band Dreampop/Shoegaze dari Swedia, Afraid of Stairs pada tahun 2012. Raditya Nugroho, menjanjikan sebuah split album akan dirillis atas dukungan Shiny Happy Records. Sembari menunggu hajatan tersebut, silahkan unduh single terbaru Lazysofia, Lying Under The Sun. Enjoy!

Download Link

Senin, 19 Desember 2011

Behind The Noises of Kevin Shields

Loveless kerap disebut sebagai sebuah album alternative yang unik dan orisinil oleh para kritikus musik. Lanskap musik shoegazing diterjemahkan Kevin Shields bersama My Bloody Valentine melalui album ini, dan menginspirasi banyak band lainnya.

Kevin Shields
Rahasia dibalik tekstur keriuhan dan berisik yang berlapis dan artistik dari My Bloody Valentine, hanya ada di benak seorang pria baya bernama Kevin Shields. Begitu banyak band yang berusaha mengulik dan terinspirasi dari inovasinya, mulai dari Asobi Seksu, Nine Inch Nails, hingga U2 sekalipun (on their Achtung Baby's album).

Nah, selamat menikmati parade poto-poto rigs dan effect gear dari Kevin Shields di atas panggung yang terdokumentasikan pada saat reuni MBV pada tiga tahun lalu. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi bagi para gitaris band shoegaze di tanah air :P

Kevin Shields Main Pedal Board
Kevin's Secondary Board
 
Loop Control System and Set List.

Pedal Board for You Made Me Realise's Noises

From Jazz til Jag, You choose..
Amps for Noises

Berhubung pusing dengan rumitnya senjata amunisi Kevin Shields, berikut ter-paste-kan ulasan singkat dari blog Guitar Player, yang juga sama-sama pusing menelaah efek-efek milik pria paruh baya berdarah Irlandia ini... *sigh

Besides the pedals on the floor, there were lots of pedals on top of his rack.
A more or less complete list of Kevin’s pedals (on teh floor) and rack units is:
Pedalboard:
Volume Pedal
Roger Mayer Stone Fuzz
Digitech Whammy
RMC Wah?
Effector 13 Rocket (not Micro Pog as previously stated here. It looked liek one from teh distance, the white knobs were misleading…)
Effector 13 Truly Beautiful Disaster
MG That’s Echo Folks
Snarling Dogs Mold Spore
Roger Mayer Vision Octavia
Pete Cornish Custom? NG-2?
Ernie Ball Volume
Boss TU-2 Tuner
Mike Hill Services Midi Foot Controller w/ External Mute Switch (for rack effects)
Rack:
Alesis MidiVerb II
Yamaha GEP-50
conditioner
Yamaha SPX-900
Yamaha SPX-90
Alesis MidiVerb II
Mike Hill Services Midi Effect Preset boxes x5
Now…the following AMAZING pics show ALL the FX pedals Kevin Shields brought on tour, including a good look at his rack – God knows if he actually used all of them, but here we go!

A few things we can see:
Ibanez AD-9 Delay (could be Maxon, too); Z-Vex Seek Wah II; Danelectro Back Talk Reverse Delay pedal; Boss PN-2; Boss GE-7 Equalizer; Electro Harmonix Big Muff; Coloursound Fuzz; Boss SD-1; Boss Delay (DD-3?); Boss DD-20 Giga Delay; Coloursound Tremolo; Z-vex Super Hard-On; Z-Vex Tremolo Probe; Dunlop Rotovibe; Tech 21 SansAmp; Electro Harmonix Q-Tron
…and many, many more, that we can’t find out what they are…and we are too tired to find out now!

Some pedals he uses: an old Vox Tonebender; Homebrew Power Screamer Overdrive; Boss DD-6; Boss TW-1 ‘T-Wah’; Digitech JamMan; Boss AW-3 Dynamic Wah; modded Ibanez AD-9 Delay, probably by Keeley (“The stock foot switch operates as a feedback/self oscillation control! Hold the footswitch down and your notes will go into feedback! Just as if you turned the repeat control all the way up, this is great for sustaining notes or adding a bit of craziness to you music, music, music, music, music!”); proving that he’s not a pedal snob, Kevin uses an Electro-Harmonix  Little Big Muff; other Boss pedals include the Dynamic Filter, Acoustic Simulator, two GE-7 Equalizers, another DD-6 Delay, the famed PN-2 Tremolo/Pan and a PS-5 Super Shifter; A few Roger Meyer and Peter Cornish custom pedals; a Z-Vex Box Of Rock; MXR M-109 Graphic EQ and a few other boutique pedals… 
4) Setlist, MIDI Foot controller and A/B Switch. That’s how he controls his beast…teh controler has a “Mike Hill Services” label on it. (http://guitarplayer.wordpress.com)

--------------------------

Newly updated! Jika butuh informasi nama-nama efek-efek di poto-poto di atas, langsung klik ke http://www.effectsbay.com/2011/08/kevin-shields-my-bloody-valentine-pedal-boards/

Rabu, 07 Desember 2011

Gazing on Indonesia's Shoegaze Albums in 2011

Enam bulan berlalu sejak blog ini dibuat, akhir tahun siap menjelang. Tercatat 29 pelaku shoegaze di skena lokal terlacak, plus materi-materi mp3 legal untuk diunduh siapapun. Dan sejumlah album dari band shoegaze Indonesia terilis selama tahun 2011, berhasil memikat dan purely shoegazing!

Ketika bicara musik shoegaze beberapa tahun lalu, mungkin yang paling kentara dibenak orang banyak hanyalah Themilo. Pelopor musik shoegazing sounds ini berjasa membiasakan telinga pendengar musik alternatif disini dengan lanskap musik sub-alternatif yang diusung band semacam MBV, Ride, atau Slowdive. Melalui album pertama mereka, Let Me Begin (khususnya di side-b album tersebut), corak musik shoegazing yang meruang dan dreamy disuguhkan Themilo.

Sensasi shoegaze selanjutnya tak begitu semarak, hingga kemunculan Sugarstar. Ada yang bilang band ini begitu 'mistis', dimana mereka hadir dengan suguhan musik shoegaze yang berbeda dengan Themilo, diapresiasi banyak orang karena begitu detail dan kerap disangka 'band luar', namun tanpa sebuah album. Materinya secara laten berkeliaran dari satu USB ke satu komputer lainnya hingga kini. Pendirinya memilih menidurkannya, dan penasaran lah orang-orang sampai sekarang.

Pikat misterius shoegaze yang dimatikan oleh britpop pada tahun 1992, ternyata tak cuma merasuki kedua band tersebut. Ketika segelintir orang membuat Tribute to 90's Shoegaze dua tahun silam, menjadi bukti musik shoegaze mulai semarak ketika band-band tak dikenal tampil dihadapan 500 orang dan menghibur tanpa cela. Purely shoegazing, just like in the 90's, when MBV's and others was having their cool but short moments.

Pada tahun 2011 ini sendiri, sudah terlacak 29 band atau musisi genre shoegazing yang tampil di blog ini. Mayoritas band-band baru yang tak kalah memikat dan berkualitas. Tak melulu dreamy berefek modulasi-reverb, tetapi juga roughly fuzzy dan  berani mengeksplorasi sounds. Well, tanpa panjang kata-kata (secara sudah empat paragraf :P), berikut tiga album shoegaze lokal dirilis secara fisik sepanjang 2011 yang patut diapresiasi dan tentu kudu dibeli albumnya.




"Setelah 7 tahun didera berbagai cobaan teknis dan non teknis, akhirnya Themilo merilis album kedua bertajuk Photograph. Ajie Gergajie cs. berhasil memupuskan lara para penikmat musik mereka yang sempat terbuai oleh sajian materi tak resmi di dunia maya."




Noises By Gap - Sonic Sun



"..album Sonic Sun yang dikerjakan selama 6 bulan semasa hidupnya, bisa menjadi awal yang bagus untuk bercengkerama dengan keliaran imajinasi dan musikalitas Gendra yang harus berhenti selamanya."








 "Kebisingan khas band shoegaze klasik seperti My Bloody Valentine dan The Charlottes, tampak kentara di mini album ini. Sedikit beringas dan berbahaya."

Jumat, 02 Desember 2011

Intenna

Tak disangka, Malang memiliki sebuah band shoegaze yang tak kalah memikat dengan kompatriot mereka di Jakarta atau Bandung. Intenna berusaha memesona kota Apel dengan lanskap musik hazy, dreamy, dan meruang.

Jujur saja, tak terpikir kalau kota Malang ternyata menyimpan kejutan tersendiri untuk skena lokal shoegaze. Kejutannya, sebuah band yang terdiri dari 5 orang, yang terdiri dari Ovan Zaihnudin (Gitar), Dwianto (Gitar), Puguk Haidi (Bas), Henry Setiawan (Drum), dan Omink (Vokal).

Intenna

Suguhan musiknya, bermodulasi dan fuzzy, semacam Slowdive. Omink, sang vokalis perempuan, menyejukkan dengan suara lembut khas Rachel Goswell  di lagu-lagu Intenna berlirik imajinatif dan juga akhir kehidupan. Berikut dua lagu Intenna yang dikirimkan ke blog ini, Little Miss Sunshine dan Dansa Hujan.

Download