Sebuah program musik di radio BBC1, Peel Session menjadi acara legendaris yang dikenang sepanjang masa. Diasuh oleh John Peel, pemandu acara dengan selera musik eklektik, berjasa mengangkat pamor band-band shoegaze di era 90-an, tampil live di programnya.
John Peel
Dari 1967 hingga 2004, selama 37 tahun pria yang ada di poto diatas mengayomi sebuah acara yang bernama Peel Session. Seorang broadcaster legendaris, bersuara hangat, bariton, dan santun setiap kali membawakan program acaranya, yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak muda dari gelombang radio FM.
Peel menjadi broadcaster pertama yang memutar lagu-lagu psikedelik dan progresif di daratan Inggris. Ia berjasa mempromosikan band-band non mainstream yang ada di AS dan Eropa, dan benua lainnya; apapun itu bandnya, mulai dari pop, reggae, grindcore, grunge, hardcore punk, punk, alternative, dance musik, hip hop, hingga shoegaze.
The Electric Adolescent
Program acaranya dikenal selalu diselingi penampilan live dari band-band. Bisa dikatakan, Peel dan timnya piawai mengolah hasil sound dari penampilan band-band tersebut. Saya tak sengaja membuka Youtube, dan menemukan lagu Curve berjudul Superblaster dan Kitchen of Distinction berjudul Blue Pedal dari Peel Session, begitu apik dan atmosferik, untuk sekelas siaran live di radio era 90-an.
Begitu banyak band shoegaze di era 90-an pernah singgah di studio radio Peel. Ini baru secuil dari sekitar 2000 lebih musisi yang pernah direkam secara live oleh Peel selama masa baktinya. Saking hormatnya, Kevin Shields pernah berucap, 'John Peel was our universe'. Gitaris MBV ini bahkan rela berdiri diluar radio BBC selama 4 jam demi menunggu 'Peelie' -nickname Peel- keluar dari kantor radionya, di tahun 1985.
Peelie, the Ol' Man
Pada 25 October 2004, Peel wafat akibat serangan jantung, saat berusia 65 tahun. Pemakamannya dihadiri oleh ribuan pelayat, diramaikan oleh para musisi dari band-band yang pernah tampil diacaranya. Nisannya bertuliskan "Teenage dreams, so hard to beat", dari sebuah lirik lagu Teenage Kicks, dari The Undertones. Jutaan anak muda, begitu berutang banyak atas pria satu ini.
So, berikut dibawah ini, saya ingin berbagi link rekaman live dari beberapa band shoegaze 90-an yang tampil di Peel Session, selamat menikmati!
Newsflash:
Lazysofia berencana berkolaborasi dengan band Dreampop/Shoegaze dari Swedia, Afraid of Stairs pada tahun 2012. Raditya Nugroho, menjanjikan sebuah split album akan dirillis atas dukungan Shiny Happy Records. Sembari menunggu hajatan tersebut, silahkan unduh single terbaru Lazysofia, Lying Under The Sun. Enjoy!
Loveless kerap disebut sebagai sebuah album alternative yang unik dan orisinil oleh para kritikus musik. Lanskap musik shoegazing diterjemahkan Kevin Shields bersama My Bloody Valentine melalui album ini, dan menginspirasi banyak band lainnya.
Kevin Shields
Rahasia dibalik tekstur keriuhan dan berisik yang berlapis dan artistik dari My Bloody Valentine, hanya ada di benak seorang pria baya bernama Kevin Shields. Begitu banyak band yang berusaha mengulik dan terinspirasi dari inovasinya, mulai dari Asobi Seksu, Nine Inch Nails, hingga U2 sekalipun (on their Achtung Baby's album).
Nah, selamat menikmati parade poto-poto rigs dan effect gear dari Kevin Shields di atas panggung yang terdokumentasikan pada saat reuni MBV pada tiga tahun lalu. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi bagi para gitaris band shoegaze di tanah air :P
Kevin Shields Main Pedal Board
Kevin's Secondary Board
Loop Control System and Set List.
Pedal Board for You Made Me Realise's Noises
From Jazz til Jag, You choose..
Amps for Noises
Berhubung pusing dengan rumitnya senjata amunisi Kevin Shields, berikut ter-paste-kan ulasan singkat dari blog Guitar Player, yang juga sama-sama pusing menelaah efek-efek milik pria paruh baya berdarah Irlandia ini... *sigh
Besides the pedals on the floor, there were lots of pedals on top of his rack.
A more or less complete list of Kevin’s pedals (on teh floor) and rack units is:
Pedalboard:
Volume Pedal
Roger Mayer Stone Fuzz
Digitech Whammy
RMC Wah?
Effector 13 Rocket (not Micro Pog as previously stated here. It looked liek one from teh distance, the white knobs were misleading…) Effector 13 Truly Beautiful Disaster
MG That’s Echo Folks
Snarling Dogs Mold Spore
Roger Mayer Vision Octavia
Pete Cornish Custom? NG-2?
Ernie Ball Volume
Boss TU-2 Tuner
Mike Hill Services Midi Foot Controller w/ External Mute Switch (for rack effects)
Rack:
Alesis MidiVerb II
Yamaha GEP-50
conditioner
Yamaha SPX-900
Yamaha SPX-90
Alesis MidiVerb II
Mike Hill Services Midi Effect Preset boxes x5
Now…the following AMAZING pics show ALL the FX pedals Kevin Shields brought on tour, including a good look at his rack – God knows if he actually used all of them, but here we go!
…and many, many more, that we can’t find out what they are…and we are too tired to find out now!
Some pedals he uses: an old Vox Tonebender; Homebrew Power Screamer Overdrive; Boss DD-6; Boss TW-1 ‘T-Wah’; Digitech JamMan; Boss AW-3 Dynamic Wah; modded Ibanez AD-9 Delay, probably by Keeley (“The stock foot switch operates as a feedback/self oscillation control! Hold the footswitch down and your notes will go into feedback! Just as if you turned the repeat control all the way up, this is great for sustaining notes or adding a bit of craziness to you music, music, music, music, music!”); proving that he’s not a pedal snob, Kevin uses an Electro-Harmonix Little Big Muff; other Boss pedals include the Dynamic Filter, Acoustic Simulator, two GE-7 Equalizers, another DD-6 Delay, the famed PN-2 Tremolo/Pan and a PS-5 Super Shifter; A few Roger Meyer and Peter Cornish custom pedals; a Z-Vex Box Of Rock; MXR M-109 Graphic EQ and a few other boutique pedals…
4) Setlist, MIDI Foot controller and A/B Switch. That’s how he controls his beast…teh controler has a “Mike Hill Services” label on it. (http://guitarplayer.wordpress.com)
Enam bulan berlalu sejak blog ini dibuat, akhir tahun siap menjelang. Tercatat 29 pelaku shoegaze di skena lokal terlacak, plus materi-materi mp3 legal untuk diunduh siapapun. Dan sejumlah album dari band shoegaze Indonesia terilis selama tahun 2011, berhasil memikat dan purely shoegazing!
Ketika bicara musik shoegaze beberapa tahun lalu, mungkin yang paling kentara dibenak orang banyak hanyalah Themilo. Pelopor musik shoegazing sounds ini berjasa membiasakan telinga pendengar musik alternatif disini dengan lanskap musik sub-alternatif yang diusung band semacam MBV, Ride, atau Slowdive. Melalui album pertama mereka, Let Me Begin (khususnya di side-b album tersebut), corak musik shoegazing yang meruang dan dreamy disuguhkan Themilo.
Sensasi shoegaze selanjutnya tak begitu semarak, hingga kemunculan Sugarstar. Ada yang bilang band ini begitu 'mistis', dimana mereka hadir dengan suguhan musik shoegaze yang berbeda dengan Themilo, diapresiasi banyak orang karena begitu detail dan kerap disangka 'band luar', namun tanpa sebuah album. Materinya secara laten berkeliaran dari satu USB ke satu komputer lainnya hingga kini. Pendirinya memilih menidurkannya, dan penasaran lah orang-orang sampai sekarang.
Pikat misterius shoegaze yang dimatikan oleh britpop pada tahun 1992, ternyata tak cuma merasuki kedua band tersebut. Ketika segelintir orang membuat Tribute to 90's Shoegaze dua tahun silam, menjadi bukti musik shoegaze mulai semarak ketika band-band tak dikenal tampil dihadapan 500 orang dan menghibur tanpa cela. Purely shoegazing, just like in the 90's, when MBV's and others was having their cool but short moments.
Pada tahun 2011 ini sendiri, sudah terlacak 29 band atau musisi genre shoegazing yang tampil di blog ini. Mayoritas band-band baru yang tak kalah memikat dan berkualitas. Tak melulu dreamy berefek modulasi-reverb, tetapi juga roughly fuzzy dan berani mengeksplorasi sounds. Well, tanpa panjang kata-kata (secara sudah empat paragraf :P), berikut tiga album shoegaze lokal dirilis secara fisik sepanjang 2011 yang patut diapresiasi dan tentu kudu dibeli albumnya.
"Setelah 7 tahun didera berbagai cobaan teknis dan non teknis, akhirnya Themilo merilis album kedua bertajuk Photograph. Ajie Gergajie cs. berhasil memupuskan lara para penikmat musik mereka yang sempat terbuai oleh sajian materi tak resmi di dunia maya."
"..album Sonic Sun yang dikerjakan selama 6 bulan semasa hidupnya, bisa menjadi awal yang bagus untuk bercengkerama dengan keliaran imajinasi dan musikalitas Gendra yang harus berhenti selamanya."
"Kebisingan khas band shoegaze klasik seperti My Bloody Valentine dan The Charlottes, tampak kentara di mini album ini. Sedikit beringas dan berbahaya."
Tak disangka, Malang memiliki sebuah band shoegaze yang tak kalah memikat dengan kompatriot mereka di Jakarta atau Bandung. Intenna berusaha memesona kota Apel dengan lanskap musik hazy, dreamy, dan meruang.
Jujur saja, tak terpikir kalau kota Malang ternyata menyimpan kejutan tersendiri untuk skena lokal shoegaze. Kejutannya, sebuah band yang terdiri dari 5 orang, yang terdiri dari Ovan Zaihnudin (Gitar), Dwianto (Gitar), Puguk Haidi (Bas), Henry Setiawan (Drum), dan Omink (Vokal).
Intenna
Suguhan musiknya, bermodulasi dan fuzzy, semacam Slowdive. Omink, sang vokalis perempuan, menyejukkan dengan suara lembut khas Rachel Goswell di lagu-lagu Intenna berlirik imajinatif dan juga akhir kehidupan. Berikut dua lagu Intenna yang dikirimkan ke blog ini, Little Miss Sunshine dan Dansa Hujan.
Kevin Shields bersama Charlotte Marionneau (gosip: kekasihnya) mendirikan sebuah label rekaman bernama Pickpocket. Pertanda sebuah album terbaru My Bloody Valentine terilis via label ini?
NME reports that My Bloody Valentine frontman Kevin Shields has started a record label, called Pickpocket, with Charlotte Marionneau of the London band Le Volume Courbe. The first release, out November 14, is Le Volume Courbe's Theodaurus Rex EP.
Well, you know who.. :)
Shields told NME that the EP was originally prepped for release on a different label. "I was like, 'I'll just get rid of a few pedals that I've had lying around for ten years and we'll start a label,'" he said. NME also reports that Shields has been recording a 10-minute noise track. "We thought we could put it out as a 10-inch," Marionneau said.
Charlotte Marionneau - Le Volume Courbe
NME reports that the label does not plan to release new music by My Bloody Valentine. Sigh. (Pitchfork)
Band legendaris Bandung ini, salah satu perintis awal sepak terjang band-band indie di tanah air. Album pertama mereka, Waktu Hijau Dulu, menjadi landmark musik dreampop eklektik dan menyisipkan materi-materi shoegazing pertama kalinya di skena lokal.
Sedikit sekali band indie jebolan 90-an yang masih bisa bertahan hingga kini. Cherry Bombshell adalah salah satunya, selain Pure Saturday atau Kubik, misalnya. Berdiri sejak 16 tahun silam, band ini berhasil menelurkan 3 album, plus satu mini album, meski sempat vakum dan perubahan personil besar-besaran, menyisakan satu pendiri aslinya saja di formasi saat ini.
Cherry Bombshell merilis sebuah album pertama yang legendaris, Waktu Hijau Dulu. Band yang mengambil nama dari warna cat rambut idola mereka, Miki Berenyi, sang vokalis band Lush, meracik sebuah album bernuansa dreampop, indiepop, dan shoegazing! Keempat pendirinya yaitu Agung Pramudya Wijaya (bass), Harry Hidayatullah (gitar), Ismail Rahaji (gitar), dan Mochammad Febry Syarif (drum) menggandrungi band 90's shoegaze seperti Lush, Pale Saint, Velocity Girl, dan Revolver.
Cherry Bombshell - Waktu Hijau Dulu
Hasilnya adalah Waktu Hijau Dulu, setelah sebelumnya sempat merilis demo tape berisikan 6 buah lagu dengan vokalis Alexandra, dari Sieve, sebuah band gothic. Sebelum album perdana dirilis, Alexandra harus meneruskan pendidikannya di Hongkong. Kedudukan Alexandra lalu digantikan oleh Widyastuti Ariani.
Berisikan dua belas buah lagu, Waktu Hijau Dulu dirilis dengan single utama, Langkah Peri, menjadi tembang indie favorit lintas generasi. Lirik-lirik di album ini pun eklektik dan surealis. Lagu seperti Anti Adas, Lahar, Bacar, Flowing Marjans, Tuduh, Memar, Kura-Kura Dalam Perahu, Sesal, Bintang, Lepas, dan Waktu Hijau Dulu, tampak begitu underrated, namun tak kalah memikat. Kita bisa merasakan sentuhan shoegazing di beberapa lagu di album pertama mereka.
demo EP yang berisikan lagu Super Ego
Sebuah lagu berjudul Super Ego (bisa dilihat video streaming diatas), dari mini album mereka yang tak pernah masuk dalam album penuh mereka, bisa menjadi salah satu jejak shoegazing eclecticism yang dirintis Cherry Bombshell, dan membuat seluruh materi dari album ini begitu dihargai dan disukai, khususnya bagi para loyalis garis keras mereka.
Kini, kaset album pertama Waktu Hijau Dulu, termasuk langka dan susah dicari, apalagi dengan album mini mereka berjudul E.P. yang hanya dicetak 500 kaset. Untungnya, file-file album pertama ini tak sulit ditemui dibeberapa file sharing, dan relik-relik shoegazing klasik dari Cherry Bombshell di album ini setidaknya masih bisa ditelusuri siapapun.
---- Dan akhirnya saya berhasil mendapatkan album mini EP dari seorang teman baik yang tahu betapa saya rela menato lengan dengan tulisan Cherry Bombshell jika tidak dinyatakan haram oleh agama saya :))
Umurnya hanya 18 tahun. Namun ajal terlalu cepat menjemputnya sebelum skena lokal mengenal lusinan lagu-lagu eklektik folk shoegaze memikat dan imajinatif yang tersimpan di laptopnya. Ia bernama Gendra Aldyasa Pasaman (1992-2010).
Sungguh, saya tak menyangka kalau penggubah album Sonic Sun, ternyata satu orang yaitu Gendra Aldyasa Pasaman, dengan memakai nama Noises By Gap. Ketika album itu muncul di etalase Aksara, saya sudah penasaran seperti apa sosok band ini ketika berada di atas panggung. Sampai sebuah artikel dari Rolling Stones yang berjudul Haru Biru di Peluncuran Album Sonic Sun Milik Noises by Gap, mengejutkan saya dengan kematian Gendra sebelum album ini dirilis!
Dirilisnya album Sonic Sun, pun tak lepas dari peran dua personil Agrikulture, Anton dan Hogi Wirjono. Ketika diwawancarai RSI, mereka menemukan materi-materi Gendra ketika sedang melihat isi laptopnya. Sekumpulan musik bernuansa shoegaze langsung memikat mereka. Anton dan Hogi segera menyambangi Iyub, produser dan otak Santamonica, untuk melakukan proses mixing dan mastering ulang.
Noises by Gap - Sonic Sun
Materi-materi mentah hasil polesan Iyub pun tersaji di album ini. Gendra meracik kesan akustik folk, eklektik, electronic, dan shoegazing terkini dengan apik. Terasa sekali pengaruh band-band shoegazing era 90-an seperti The Verve (album Storm in Heaven), Spoonfed Hybrid, Pale Saints, ataupun My Bloody Valentine. Dan Gendra melakukan semua isian dari seluruh materi seorang diri dengan sistem home recording hanya menggunakan gitar dan sebuah software musik.
On My Way, menjadi salam pembuka instrumental album Sonic Sun yang kentara sekali kesan space rock, dreampop, dan shoegazing. Lagu berikutnya, Sonic Gaze secara perlahan menerpa dengan gelombang gitar akustik, berselimutkan fuzz dan reverb penuh adiksi. Superstar menjadi lagu ketiga yang sejuk. Kabarnya telah dibuatkan videoklipnya, Gendra meracik gitar akustik lagu ini disandingkan dengan nuansa tremolo fuzz, menambah pekat atsmosfir lagu.
Alm. Gendra Aldyasa Pasaman
Beberapa lagu lainnya di album ini yang juga patut diperhatikan, sebut saja zzz, sebuah materi yang dimana Gendra bermain-main dengan loop dan synthesizer. Folk akustik yang begitu pekat, tampak juga di lagu One More, mengingatkan keteduhan slowcore a la Red House Painters. Lalu, The Moon is Your Friend, membuai sebagai penutup jendela imajinasi Gendra yang begitu liar. Album Sonic Sun oleh Noises by Gap, bisa saya sebut sebagai album shoegaze lokal yang detail, unik, dan artistik.
Terjatuh dari lantai 15 sebuah apartemen di daerah Jakarta Selatan, tak pelak akhir tragis dari remaja ini. Mungkin segetir kisah para musisi muda cerdas yang keburu tewas sebelum albumnya dipuji orang banyak, seperti Andrew Wood dari Mother Love Bone. Namun album Sonic Sun yang dikerjakan selama 6 bulan semasa hidupnya, bisa menjadi awal yang bagus untuk bercengkerama dengan keliaran imajinasi dan musikalitas Gendra yang harus berhenti selamanya. (Marr - howdoesitfeeltofeel1979.blogspot.com)
Album Sonic Sun, bisa dibeli di toko musik khusus seperti Aksara Bookstore dan sejenisnya. IDR45.000.
Ajie Gergaji kembali merilis dua materi baru di Soundcloud, bersama Amazing in Bed dan TrahProject. Penuh daya pikat, imajinatif, membius, dan bisa diunduh!
Ajie Gergaji just having a good time!
Punggawa Themilo ini kembali mempersembahkan dua materi terbaru dari proyek solonya. Jika beberapa materi sebelumnya di laman Myspace pribadinya, Ajie berselingkuh dengan para DJ, kini ia mencoba bercengkerama dengan Amazing in Bed, dalam lagu berjudul Circle, bernuansa 90's alt seminal shoegazing. Sementara itu Maya Mayow (vokalis terbaru Amazing In Bed) dan Ajie dengan apik mengharmonisasikan vokalisasi mereka begitu intim pada lagu ini. - And how i immensely fell in love with this track :)
Amazing in Bed (formasi terbaru)
Materi terbaru lainnya adalah Layung Bereum, bersama TrahProject. Layung Bereum yang dalam bahasa Sunda, Mega Merah, menjadi kolaborasi berikutnya dengan musisi DJ. Trah Project sendiri terdiri dari Gigi priadji, Iman "zimbot" Rohman, dan Indra NVG, yang mengusung world music dengan meleburkan musik etnik Sunda dan modern. Nuansa ambient dan electronic, terpaan distorsi reverb, dan senandung pria dan wanita yang begitu dreamy dan etnik!
Trah Project
Kini, Ajie sedang mempersiapkan 8 lagu untuk album solonya. Ia berbagi-dengar kedua lagu dari album tersebut via laman situs Soundcloud, meski hanya lagu Circle yang bisa diunduh. Tapi tenang, ada satu lagu materi terawal Ajie, berjudul Frozen Scratch Cerulean bersama Bottlesmoker, juga bisa diunduh gratis. So, enjoy his fascinating works, guys!
Band ini sudah hadir sejak tahun 2004 di Bandung. Berkiblat pada instrumentasi musik shoegazing, kini My Violaine Morning merilis sebuah single terbaru yang lebih 'ngeband' untuk album terbaru mereka, The Next Episode of This World, siap diunduh!
My Violaine Morning adalah sedikit band indie lokal yang mudeng dengan sosial media, khususnya situs band. Situs band ini yang beralamat di http://www.myviolainemorning.com, betul-betul memanjakan para pendengarnya dengan laman-laman yang artistik dan informatif. Mereka pun tak pelit untuk berbagi materi kepada siapapun, termasuk untuk album penuh perdana mereka yang bertajuk The Next Episode of This World.
My Violaine Morning
Sebuah lagu berjudul Light Inside, menjadi teaser album perdana mereka yang akan dirilis oleh label Jepang, Happy Prince. Satu hal yang seru, vokalisasi disandingkan pada lagu tersebut, berbeda dengan materi mereka sebelumnya yang dominan dengan instrumentalisasi. Dreamy dan shoegazing, mengingatkan band-band shoegaze klasik seperti Kitchen of Distinction dan the Rosemarys. Namun pengaruh mereka terserap dari My Bloody Valentine, The Cure, Cocteau Twins, God is an Astronaut, hingga Slowdive.
MVM's upcoming album.
Para personil band ini adalah Roni (vokal dan gitar), Baruna (gitar), Rikip (bass), dan Risky (drum). Uniknya, mereka sering bergonta-ganti posisi saat meracik di studio. Kabarnya, mereka akan merilis album ini pada bulan Januari 2012, dan rencananya dihelatkan Common Room. So, sembari menunggu, nikmati Light Inside dari My Violaine Morning via pranala unduh dibawah ini.